Showing posts with label Wisata Banyuwangi. Show all posts
Showing posts with label Wisata Banyuwangi. Show all posts
Friday, July 15, 2016

Ketupat Sewu - Tradisi Lebaran Ketupat, Desa Boyolangu, Banyuwangi

Makanan-makanan yg tersaji dalam Tupat Sewu
Banyak tradisi adat yang cukup menarik di berbagai daerah di Indonesia, salah satunya di Banyuwangi. Pada H+7 bulan Syawal masyarakat khususnya daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur mengenal Lebaran Ketupat, dimana lebaran ini masyarakat membuat ketupat dan membagikannya kesanak saudaranya bahkan tetangganya. Ada juga yang membuat ketupat dan memakannya bersama-sama dengan sanak-saudaranya. Di Banyuwangi pun begitu, adanya tradisi adat Puter Kayun yang merupakan tradisi dari Desa Boyolangu, Kecamatan Giri, Kabupaten Banyuwangi yang diadakan pada tanggal 7 Syawal sampai 10 Syawal. Salah satu acara yang cukup menarik yaitu Ketupat Sewu atau 1000 Ketupat.

Ketupat Sewu yang diadakan di Desa Boyolangu ini memulai rangkaian acara tradisi adat Desa Boyolangu. Diadakan tanggal 7 Syawal pada malam hari tepatnya pada setelah Shalat Magrib. Setelah magrib warga desa Boyolangu menggelar tikardi depan rumahnya (juga ada yang didalam rumah) dan mengeluarkan ketupat-ketupat yang sudah disiapkan untuk disantap bersama-sama sanak saudara dan keluarga yang datang dan ada saat itu. Karena makan ketupat bersama-sama satu desa inilah kenapa di sebut Ketupat Sewu.

sedang merapihkan barisan lilin :D
Suasana cukup ramai sekali, anak kecil berlarian dengan pakaian habis dari masjid, berkopiah, baju kok, celana pendek dengan sarung yang digantung seperti tas pinggang. Riuh suara obrolan dari antar warga yang beramah tamah kepada tetangganya didepan rumah sambil mempersiapkan dan menunggu mulainya acara Ketupat Sewu. Sebelum dimulai, penerangan lampu sedikit dimatikan, dan diganti dengan lampu tradisional sederhana yaitu Lampu Teplok yang dibuat dari botol-botol kaca bekas. Jadi keingat tradisi menjelang Idul Fitri di Gorontalo. Lampu Templok ini taruh di tengah jalan sebagai pengganti penerangan lampu yang dimatikan. Beberapa anak-anak kecil terlihat senang melihat api. Bahkan ada yang nyanyi lagu “selamat ulang tahun” :D
masih agak ramai, saling bercerita satu sama lain hehe
mendadak hening dan berdoa, tidak ada yg berlarian seperti sebelumnya

Suasana agak hening, ketika suara dari masjid mulai terdengar dan mengajak para warga untuk berdoa mengucapkan syukur atas karunia yang telah diberikan Yang Maha Kuasa. Ketika doa selesai, suasana ramai kembali, warga mulai menyantap hidangan ketupat yang telah disiapkan. Hidangan ketupat sewu relatif sama seperti daerah lain, Ketupat dengan opor ayam yang berbeda adalah lauk tambahan berupa tempe, tahu, semacam tempura, bahkan ada yang membuat bakso dan tidak lupa adanya sambal dan kerupuk baik kerupuk biasa maupun kerupuk peyek. Saya diajak salah seorang warga untuk ikut menyantap ketupat sewu bersama keluarganya. Rezeki ga boleh ditolak, mumpung perut  sudah lapar dan sudah tergiur aroma Opor dari asap-asapnya yang berterbangan.

Jika tidak suka ketupat ada sedia Nasi :D
Nambah setengah ketupat, pencitraan aja sih setengahnya
Ketika acara selesai, lampu dinyalakan kembali, lampu teplok dimatikan dan anak-anak masih berkeliaran bermain :D. Saya juga berlarian menuju bazar kecil yang ada di tengah desa. 
mas dor dan temen dari IG:@instabanyuwangi

Terima Kasih untuk keramahannya keluarga Mas Dor dan Warga Desa Boyolangu ^^
Monday, June 27, 2016

Bukit Watudodol, Spot Sunrise Dan Tempat Menikmati Panorama Laut Selat Bali Dari Ketinggian


Terlintas dalam pikiran “Kalau Amerika punya patung Liberty, Banyuwangi punya Patung Gandrung”. Setelah melihat Patung Gandrung dari Bukit Watudodol dengan latar berupa Laut Selat Bali seperti galnya patung Liberty di Muara Sungai Hudson, Newyork.

Bukit Watudodol, merupakan area Perhutani yang difungsikan sebagai tempat bersejarah karena terdapat Makam Syekh Maulana Ishaq dan Putri Sekardadu, yang merupakan makam dari tokoh penting dalam sejarah Kerajaan Blambangan (Banyuwangi). Bukit Watudodol habis berbenah, penebangan beberapa ranting pohon yang menghalangi pemandangan view laut di pangkas dan diberi semacam bangku dan meja untuk pengunjung menikmati panorama laut selat bali. Pembenahan tersebut kini membuat Bukit Watudodol ini ramai dikunjungi anak-anak muda yang sekedar ingin tahu, foto2 dan  yang ingin menikmati suasana matahari terbit dari bukit Watudodol ini.

Rute Menuju Ke Bukit Watudodol.
Cukup mudah, karena berada di jalan utama Banyuwangi-Situbondo jika berangkat dari kota Banyuwangi akan menempuh perjalanan sekitar 25-30 menit. Jadiuntuk menikmati Sunrise kira-kira setelah adzan Subuh langsung jalan. Rutenya dari Kota Banyuwangi ambil kearah pelabuhan Ketapang, lewati pelabuhan ketapang, lalu melewati Terminal Sri Tanjung, Pabrik Semen Bosowa dan jika melihat laut di sebelah kanan anda, akan telah sampai di area Watudodol. Pintu masuk Bukit Watudodol berada di hutan sebelum Patung Gandrung.

Setelah membayar tiket masuk seharga Rp.2.500 dan Parkir motor Rp. 2.000, kita akan berjalan menaiki bukit, jalannya cukup landai, sekitar 10 menit akan sampai Gardu Pandang, semacam tempat melihat pemandangan Pantung Gandrung Watudodol dan Panorama Selat Bali. Ternyata gardu pandang letaknya bersebelahan dengan Makam Syekh Maulana Ishaq dan Putri Sekardadu. Sekilas kisah yang saya baca di Papan Informasi, Ternyata Syekh Maulana Ishaq dan Putri Sekardadu adalah Orang Tua dari Sunan Giri. Mereka bertemu ketika itu saat Kerajaan Blambangan diserang penyakit aneh, dan Putri terkena penyakit tersebut dan tidak ada satu pun tabib yang bisa menyembuhkan saat itu hingga Syekh Maulana Ishaq datang dan berhasil menyembuhkan Putri Sekardadu. Lama kemudian mereka menikah.
Makam Syekh Maulana Ishaq dan PutriSekardadu
Jam 5, saya datang dengan keadaan Gardu Pandang masih gelap dan sepi, Tuhan mulai melukis-lukis langit pagi itu. Bangku-bangku masih kosong, duduk dan menikmati udara pagi dan angin laut yang sepoi-sepoi. Jika sedang tidak puasa, saya sudah bawa termosberisi air hangat dan seperangkat alat dan bahan pembuat Teh. Makin pagi, langit perlahan menerang, Gardu Pandang mulai ramai oleh pengunjung yang mencari tempat asik untuk menikmati pemandangan pagi. Saya memandangi patung gandrung dari atas sini sekilas terbayang patung Liberty di Amerika. Semisal Amerika punya Patung Liberty, Banyuwangi punya Patung Gandrung :D

Amerika punya Patung Liberty, Banyuwangi punya Patung Gandrung :)
Sunrisenya ^^
Akhirnya matahari muncul dari balik garis horizon laut dan langit. Suasana makin riuh, banyak yg sibuk berfoto-foto, yang tadinya menikmati dengan kalem pun juga sibuk berfoto begitu juga saya. Beginilah Banyuwangi dan Penduduknya yang gemar menikmati pagi. Saatnya kembali ke Kos-kosan, kembali tidur.

Dateng berduaan asik
dateng beramai-ramai juga boleh


Tips : Karena spot ini sedang Hits-hitsnya. Hindari hari libur, apalagi untuk kalian yang ingin menikmati suasananya.  Oia dan Jangan lupa Jaga kesopanan dan kebersihan karena area ini juga salah satu area yg dihormati dan di keramatkan :)
Saturday, June 18, 2016

Menikmati Senja di Pelabuhan Marina, Banyuwangi

Senja dan Formasi 4 Gunung Syahdu :)
Pelabuhan Marina ini setahu saya adalah proyek pembangunan pelabuhan untuk perahu-perahu komersial yang terintegrasi dengan pelabuhan Teluk Benoa, Labuan Bajo dan tempat2 menarik lainnya. Pelabuhan ini masih dalam proses pembangunan mungkin tahun 2017/2018 sudah selesai dan mulai beroperasi. Karena letaknya di pesisir Kota Banyuwangi dan bersebelahan dengan Pantai Boom, menjadikan pelabuhan ini sering dikunjungi pengunjung, untuk mancing di Dermaganya, atau sekedar menikmati udara pagi dan sore hari yang sejuk serta pemandangan yang indah.
Rute Menuju Pelabuhan MarinaUntuk menuju ke Pelabuhan Marina cukup mudah, dari kota Banyuwangi ke pelabuhan marina hana memakan waktu sekitar 5-15 menit saja. Dari Kota Banyuwangi - Taman Blambangan - pertigaan PLN dan Pom Bensin, ambil kanan - ikuti jalan sampai melewati pelabuhan nelayan pantai Boom lalu tempat pemungutan retribusi pantai Boom – Parkiran Pantai Boom – Pelabuhan Marina. Biaya yang dikeluarkan hanya Rp.2000 untuk Motor dan Rp,5000 untuk Mobil.
Spot Sunsetnya di sini, di tempat parkir kapal
Sekitar jam 4 sore langit terlihat cerah, 4 Pegunungan di sebelah barat Kota Banyuwangi terlihat sangat Syahdu tanpa awan mendung yang menutupi puncaknya. Karena saya rasa pemandangan senja kala itu akan luar biasa, saya memutuskan berangkat ke Pelabuhan Marina.Pelabuhan tersebut belum sepenuhnya jadi namun beberapa orang yang datang untuk memancing dan menikmati suasana sore hari di Provinsi paling timur di Pulau Jawa.  Sebelum saya pergi ke Pelabuhan Marina, terlebih dahulu telah membeli jajan di pinggir jalan pelabuhan pantai Boom berupa bakso bakar dan air mineral, mengingat di pelabuhan marina tidak ada penjual dan rasanya kurang jika menikmati senja hanya memandangi langit tanpa cemilan (setuju?).

pemancing yang duluan datang,
Sesampainya disana, para pemancing yang sudah lebih siang datang sudah duduk enak di pinggir pelabuhan menunggu umpannya dimakan ikan, kadang sambil mengobrol dengan pemancing sebelah, ada yang sibuk main hp, bahkan ada yg sibuk ngemil-ngemil kacang. Suara musik Banyuwangian terdemgar dari atas kapal Slerek – Kapal Khas Banyuwangi- yang dinyalakan sambil menunggu kesiapan berlayar mencari ikan dan kru kapal yang belum datang.
Perahu Slerek kecil Berlayar
Waktu terus berjalan, perlahan-lahan matahari menghilang di balik formasi gunung Marapi- Ijen- Gunung X – Raung, perlahan-lahan tak terasa bakso bakar sudah habis. Cukup beruntung kadang keempat gunung tersebut tertutup awan mendung tebal sehingga warna senja tidak begitu terlihat, namun kali ini cerah bebas awan. Saya pun bangkit berdiri mempersiapkan kamera yang dibawa beserta sudut foto yang enak dilihat. Satu persatu perahu Slerek berangkat keluar dari pelabuhan menuju laut. Lagu-lagu Banyuwangian masih terdengar keluar dari atas kapal-kapal tersebut. Sekilas saya tanya kepada pemancing. Memang pemilik kapal sengaja menaruh sound sistem agar kru nelayan tidak bosan saat melaut. Tengah Laut itu sepi!!

Jam menunjukan pukul 17.16 Langit yang berwarna biru pucat menjadi Jingga. Matahari yang tadinya sidah tenggelam dibalik Gunung seakan memaksakan sinar terakhirnya seakan tidak lagi ada hari esok. Yah hari esok memang misteri sih.
foto terakhir sebelum pulang, gemerlap kelap kelip lampu kota Banyuwangi
Lama-lama mulai gelap, lampu kota mulai menyala satu demi satu, angin mulai dingin mulai menusuk-nusuk kulit, saatnya saya pulang. Dan berniat bertemu matahari esok harinya di tempat ini. Di tunggu tulisan selanjutnya ya ^^


Friday, June 3, 2016

Menikmati Senja di Rumah Apung Bangsring, Banyuwangi :)


Memandangi senja dari Kota Banyuwangi cukup susah, mengingat lokasi pantai-pantai dekat kotanya menghadap ke sebelah timur yang notabene cocok sekali untuk menikmati pemandangan pagi hari. Namun ada beberapa lokasi yang bisa digunakan untuk menikmati pemandangan matahari terbenam atau senja, salah satunya yaitu di Rumah Apung Pantai Bangsring atau lebih dikenal Bangsring Underwater.

Rumah Apung letaknya berada mengapung di selat Bali dank arena keberadaannya tersebut Rumah Apung bisa leluasa memandangi pemandangan di kala senja, memandangi matahari yang perlahan-lahan turun ke balik Gunung Marapi dan Gunung tidak tahu namanya (sebut saja X), menikmati angin di selat balik yang cukup sejuk di saat itu.  Rumah Apung merupakan fasilitas yang ada di Pantai Bangsring atau Bangsring Underwater. Rumah Apung ini merupakan penangkaran Ikan-ikan Hiu yang terjaring jaring nelayan setempat. Ikan hiu nya berjenis ikan hiu sirip hitam ini akan dilepas kembali jika dinilai sudah siap dan sembuh dari luka-luka jaring. Di rumah apung juga terdapat penangkarang Lobster yang cukup besar ukurannya.
Rute Menuju Rumah Apung dari Kota BanyuwangiPerjalanan kurang lebih 30 menit dari Kota Banyuwangi. Rutenya Kota Banyuwangi menuju ke Pelabuhan Ketapang, setelah melewati Pantai Watudodol akan ada Pom Bensin Kiri jalan, lewati pom bensin bertemu tikungan sampai nanti akan ada pertigaan kecil dengan Tulisan Rumah Apung atau ZPT (Zona Perlindungan Setempat), masuk kedalam pertigaan kecil tersebut  ikuti saja jalan tersebut dan petunjuk jalan yang ada untuk sampai di Pantai Bangsring atau Rumah Apung Bangsring. Tidak dipungut biaya masuk, hanya biaya parkir saja sebesar Rp.2000 untuk motor dan mobil Rp.5000 (kalau tidak salah).
pantai Bangsring
Jasa Perahu ke Rumah Apung
Dari pantai Bangsring, kita bisa menyewa jasa perahu penyebrangan ke Rumah Apung sebesar Rp. 5000  saja untuk Pergi-Pulang. Jika kalian ingin berenang-renang terlebih dahulu atau berenang di penangkaran Hiu, sewalah pelampung dan alat snorkel seharga 30 rb. Karena saya datang sudah sore yaitu jam 4 Sore, saya tidak memutuskan berenang, toh tidak bawa baju ganti juga.  Sesampainya di Rumah Apung Bangsring, terlihat ada rombongan keluarga sedang asik bermain air, snorkeling dan beberapa ada yang berenang di Penangkaran Hiu. Kadang mereka histeris, ketika hiu menyenggol badan atau kaki mereka, Kyaaaa.

Penangkaran Hiunya
Cuaca sore itu cukup mendukung, Cerah, sampai-sampai Gunung Baluran juga bterlihat dari jejauhan. Rombongan keluarga yang tadi memutuskan untuk kembali ke pantai karna khawatir masuk angin, angin diselat bali dalam keadaan basah sedikit dingin menusuk-nusuk kulit. Saya ditemani perahu terakhir dan meminta izin untuk mengabadikan senja dan Intinya jangan ditinggal Pulang >_<. Matahari ternyata turun diantara celah Gunung Marapi – X, agak mengingatkan saya dengan gambar legendaris Jaman SD 90an. Alhamdulillah bisa dipertemukan senja yang indah ini.
Gambar Legendaris Jaman SD, Tapi bukan Sawah :D
Matahari sudah di Balik Gunung, namun langit malah baru menampakan warna Jingga, seakan mengerti, operator kapal mempersilahkan saya untuk lebih lama lagi jika mau disini (dan tidak ditinggal pulang). Sambil mengabiskan waktu senja, kami mengobrol tentang bangsring dan tentang daerah Banyuwangi yang mulai perlahan bangkit menampakan dirinya. Kami rasa sudah cukup,terlalu lama di Rumah Apung, walau langit masih menampakan warna Jingga tapi waktu terus berjalan, waktu untu Sholat Magrib makin berkurang.

Perjalanan Pulang ke Pantai, masih sempet aja moto >_<

Saturday, May 28, 2016

Sunrise di Pelabuhan Muncar, Banyuwangi dan Hiruk Pikuk Kesibukan Paginya

Sunrise Of Java, Muncar ^^
Muncar, kawasan pelabuhan perikanan terbesar di Banyuwangi bahkan mungkin di Jawa atau bahkan Indonesia. Menurut sumber yang saya baca, ada 500 ton ikan yang di Bongkar disini dan dibawa ke Industri Perikanan Setempat bahkan sampai dibawa ke Surabaya. Selain itu di Muncar terdapat banyak kapal-kapal Slerek yang merupakan kapal khas Banyuwangi yang bercorak unik serta Muncar masuk dalam Spot Lokasi Menikmati Matahari Terbit di Banyuwangi . Hal-hal tersebut yang membuat saya tertarik mengunjungi Muncar.

Jam 4 pagi setelah Subuh saya berangkat menuju Muncar dari Kota Banyuwangi dengan waktu perjalanan kira-kira 1 jam, sehingga saya sampai disana jam 5, melihat Sunrise of Java Banyuwangi, mengamati Hiruk Pikuk kesibukan Pagi Pelabuhan Ikan Muncar dan juga Keunikan Bentuk Kapal Slerek.

Rute Kota Banyuwangi – MuncarKota Banyuwangi ambil Jalan A.Yani ke arah selatan atau arah Lampu Merah Patung Kuda. Lalu ambil arah menuju Rogojampi – Kota Rogojampi- Lampu lalu lintas Tugu Rogojampi ambil lurus sampai pertigaan lampu lalu lintas  Srono ambil kiri – ikuti terus sampai di Tempat Pelelangan Ikan Muncar.
Becak Motor dan Becak Kayuh sudah menunggu Ikan Hasil Tangkapan Nelayan
anak-anak yg menunggu pagi
Hiruk pikuk sebelum sampai pelabuhan Ikan Muncar cukup ramai, beberapa motor membawa gerobak berisi mesin kapal untuk kapal kecil, mungkin mereka hendak melaut, beberapa motor dengan keranjang dan ember kosong yang saya ketahui mereka hendak membeli ikan dari nelayan langsung untuk di jual kembali. Pasar Muncar pun sudah mulai ramai, sabar agak sulit melewati kerumunan orang di pasar ini. Sesampai di Pelabuhan Ikan dan Pelelangan Ikan keadaan sudah cukup ramai, Becak beserta supirnya sudah berbaris antri menunggu nelayan datang berlabuh. Becak ini ternyata sudah mendapatkan tugas dari Pengepul Ikan untuk menjemput ikan oleh nelayan di kapal “A” untuk di bawah ke tempat pengumpulan, ditimbang lalu diantar ke tempat yang sudah dijanjikan atau ke Truk untuk di bawa ke tempat yang lebih jauh seperti Pabrik Ikan di Surabaya. Tidak hanya Becak, ibu-ibu dengan membawa ember berharap bisa membeli ikan yang ditangkap oleh nelayan dan dijual kembali. Ada pula Ibu dan anak yang terjaga dari subuh tadi menunggu Bapak yang hendak Pulang Berlayar.

Mataharinya nongol di balik Awan, Akhirnya 
Langit mulai menampakan sinarnya, mewarnai awan polos menjadi merah membara, membayangi kapal-kapal slerek menjadi siluet. Ada suara yang terdengar pelan seperti ini “Perahu ayah sudah sampai Sembulungan, sabar ya”. Sembulungan adalah Tanjung yang dilewati para perahu untuk mendarat di Muncar. Saya pun berkonsentrasi mengambil beberapa gambar karena warna merah mewarnai awan jedanya cukup sebentar. 

Tali sudah didapat dan diikat di dermaga, agar kapal tidak lari terbawa ombak
Saya memperhatikan ada kapal Slerek yang mendekat, gagah bentuknya. Ketika kapal slerek cukup dekat dengan dermaga bersandar, ada beberapa orang kuli angkut yang membantu membongkar ikan hasil tangkapan dari kapal menuju ke Becak. Mereka bahu membahu hingga ikan terakhir berhasil mereka angkat. Selanjutnya para nelayan mulai turun satu persatu, para ibu-ibu mulai mendekat menawar ikan yang dibawa oleh masing-masing nelayan. Tidak semua nelayan menjualnya, ada yang mereka bawa pulang untuk dimakan bersama keluarga. Saya mencoba melirik ibu dan anak yang sepertinya menunggu bapak nelayan, pas sekali anaknya sedang mencium tangan bapaknya, dan bapaknya memasang wajah lega diantara raut lelah dan kurang tidur. Sayang momen mendadak itu tidak bisa sempat diabadikan hihi.

Ibu-Ibu yang menunggu hasil tangkapan Nelayan
Kuli Angkut yang mengangkut Tangkapan Nelayan
Estafet hasil angkut kepada Becak- Becak
ini dia Ikannya :D.. sepertinya jenis Lemuru
Dari Mengunjungi Pelabuhan Ikan Muncar sedikit belajar Tentang Mencari Rezeki itu sudah dimulai ketika kamu membukakan mata. Belajar dari Nelayan bahwa perjalanan menuju rumah lah adalah perjalanan yang melegakan. Lega melihat raut muka anak dan istri yang telah menunggu pagi buta di Dermaga Pelabuhan.







nb: Tentang Kapal Slerek dan Keunikannya di Update Blog Selanjutnya ya ^^
Friday, May 20, 2016

Pesantogan Kemangi Kemiren, Tempat Mencicip Kuliner dan Suasana Khas Osing

pesantogan kemiren

Saatnya jelajah kuliner kembali, menjelang sore saya merencanakan berangkat ke salah satu tempat makan yang cukup unik berada di Desa Kemiren, sebuah desa yang dihuni oleh mayoritas Suku Osing, suku asli Banyuwangi. Mendengar disana terdapat salah satu makanan yang sering disuguhkan hanya saat hajatan,syukuran, nikahan saja, Namanya Pecel Pitik.

Mencicip Pecel Pitik tidak lagi harus di acara syukuran, hajatan nikahan dan lainnya, kita bisa menemukannya di Pesantongan Kemangi Kemiren. Pesantogan Kemangi Kemiren ini merupakan tempat yang didirikan oleh Karang Taruna Desa Kemiren dan diresmikan 20 Okteber 2015 lalu. Bangunan dari Pesantogan Kemangi ini mengacu pada arsitektur rumah tradisional Suku Osing. Tempat ini juga terdapat semacam sanggar untuk dilaksanakannya berbagai kegiatan seperti permainan musik tradisional dan latihan atau pentas pertunjukan tarian desa setempat.
Halaman Depan Pesantogan Kemangi Kemiren
Menuju ke Pesantogan Kemangi KemirenKita bisa menggunakan kendaraan pribadi karena tidak ada kendaraan umum sampai kesana. Rute ke Pesatogan Kemangi Kemiren dari kota Banyuwangi Simpang Lima ambil arah barat terus melewati lampu merah hingga menemukan tugu patung Barong, ambil lurus. Ikuti jalan tersebut sampai di Desa Kemiren. Warung Pesantogan Kemangi Kemiren ada di kiri jalan. Perjalanan kira-kira hanya 20-30 menit saja sudah sampai di depan Pesantogan Kemangi Kemiren ini.

Saya datang kesini malam hari sekitar jam 7 malam, suasana cukup shadu. Sampai desa Kemiren, masih terdengar suara shalawat nabi dari mesjid-mesjid yang kami lewati. Masyarakat lalu lalang tidak menggunakan kendaraan,tapi lebih memilih jalan kaki. Samapi di Pesantogan Kemangi terlihat sederhana, berbilik bambu menampilkan nuansa khas Osing. Menu yang bisa dihidangkan tidak terlalu banyak, namun hidangan merupakan makanan khas Osing seperti Pecel Pitik yang notabenenya dihidangkan hanya saat ada perayaan atau hajatan. Makanan selanjutnya adalah sayur Uyah Asem. Hidangan makanan ringan atau bisa disebut Jajanan ada kucur, pisang goreng, serabi dan klemben namun jika hari libur ada menu spesial yaitu Apem juruk Kopi, Jenang Bedil dan Tape Ketot. Untuk minumannya yang spesial adalah Kopi Arabika dan Robusta khas Kemiren yang dipasarkan dengan merek Jaran Kepang.
Menu yang saya Pesan :D
Pecel Pitik
Uyah Asem
Tertarik dengan makanan khas dan kebetulan juga lapar, kami memesan Pecel Pitik dan Uyah Asem. Pecel Pitik bukanlah makanan dengan bumbu kacang yang kalian bayangkan. Pecel pitik berbahan ayam kampung muda yang umurnya sekitar 8 bulan. Bumbu pecelnya sekilas seperti Makanan Sayur Urap yaitu parutan kelapa, bumbu kacang yang sudah disangrai lalu dihaluskan, ditambah bumbu rempah dan bumbu pedas sekaligus ditambah sedikit air kelapa muda. Nyam nyam rasanya cukup manis di lidah, bagi anda penyuka makanan manis, pecel pitik ini wajib kamu coba :D. Sedangkan Uyah Asem mirip seperti Sayur Lodeh namun santannya lebih sedikit tidak sekental lodeh. Rasanya Kuahnya campuran antara pedes asem dan sedikit manis. Lauk utama dalam sayur tersebut masih ayam kampung muda mungkin umurnya sama dengan pecel pitik, sekitar 8 bulan.
kopi kemiren :9
Sambil menyantap hidangan yang dipesan, alunan musik seperangkat musik tradisional mulai dimainkan pemuda setempat, rasanya nyaman sekali, syahdu dan tak sadar makanan yang kami santap sudah habis. Sambil menikmati alunan musik tradisional kami mencoba memesan kembali kopi kemiren, menikmati alunan musik tradisional, menunggu hujan kecil yang enggan berhenti. Warung Makan Kecil Karang Taruna Desa Kemiren ini perlu kalian coba Kunjungi ^^


Friday, May 13, 2016

Cicip-cicip Makanan dan Jajanan Khas Osing di Desa Banjar, Banyuwangi

Jajanan - Makanan Tradisional Masyarakat Osing

Makanan tradisional dan khas setempat pasti menjadi incaran untuk saya cicipi. Banyuwangi merupakan persinggahan ketiga terlama setelah Jogja dan Lampung. Kali ini saya berkesempatan mencicipi hidangan makanan tradisional masyarakat Osing di Desa Banjar yang sedang mengadakan acara desa bertema Osing Culture Festival.

Dalam Osing Culture Festival ini mengangkat tema potensi desa banjar yaitu Gula Aren. Letaknya di lereng perkebunan sudah pasti potensi akan Pohon Aren cukup tinggi, mengingat pohon aren sangat baik dan tumbuh di daerah tinggi dan biasanya tumbuh di pinggir-pinggir sungai. Pada acara ini  salah satu yang diperlihatkan oleh Desa Banjar adalah Makanan Khas Desa Banjar yang terbuat dari bahan Gula atau produk-produk hasil pengelolaan air nira pohon aren.
Ikamsi hehe
Membayangkan konsep acaranya saja membuat saya antusias, pagi hari berangkat ke Desa Banjar yang letaknya satu arah dengan arah mau ke Ijen. Desanya asri, dikelilingi hamparan sawah, air di sungai kecil bersih untuk bermain-main air. Sebelum acara di mulai beberapa Ibu2 warga setempat atau kita sebut saja Ikamsi (Ibu2 Kampung Sini). Ibu2 ini berpakaian rapi, bisa dibilang cukup manis di usianya. menawarkan beberapa hidangan yang asing dan belum pernah dicicipi. Ikamsi cukup sabar dan senang menjawab pertanyaan saya atau mengulangan bahkan mengeja nama makanan tradisional yang susah sekali saya eja :D. Ini dia makanan tradisional masyarakat Osing yang mereka hidangkan

1. Jenang Procot

Namanya cukup unik, Procot. Kata yang asing buat saya haha. Makanan ini juga berbahan dasar dari gula aren sehingga makanan ini berwarna coklat. Kemasan jenang ini cukup unik berbentuk seperti keong atau bekicot. Mlocrot, dinamakan demikian karena makannya dengan cara di procot.  Sebelum dimakan jenang tersebut diberi Santen terlebih dahulu di atasnya sebelum akhirnya di procot. Untuk lebih jelasnya bagaimana di procot itu sepertinya harus dipraktekan langsung :D
cara makannya seperti ini :)

2. Awug-awug dan Jokong
awug-awug
Awug-awug dan Jokong hijau merupakan makanan dibungkus oleh daun pisang. Sepertinya saya pernah menemukan makanan di Jogja.  Awug-awug terbuat dari tepung ketan, tepung beras, parutan kelapa dan diberi cairan gula merah. Pada acara Osing Culture Festival gula yang digunakan menggunakan Gula Aren. Sedangkang Jongkong hampir sama dengan awug-awug hanya saja berwarna hijau. Saya kurang tau bahan dasar apa yang membuat Jongkong ini berwarna hijau hehe
jongkong

3. Kopi Utek-Utek
Kopi dan Utek-utek
Kopi Utek-Utek ini merupakan cara minum kopi kebiasaan masyarakat setempat. Utek-utek merupakan jajanan atau cemilan yang terbuat dari Gula aren yang kering bercampung dengan kacang. Kopi yang disuguhkan merupakan kopi hitam dari perkebunan kopi desa banjar dan diolahdan dibuat sendiri. Kopi yang dihidangkan dalam Kopi Utek-Utek ini tanpa gula, pahit-pahit semestinya kopi. Rasa manis didapat berasal dari Utek-utek tersebut. Seteguk kopi, satu gigit utek-utek, saya membayangkan betapa nikmatnya minum kopi utek-utek setelah pulang dari kerja, atau istirahat setelah bekerja. Sungguh nikmatnya Ngopi J

4. Telo Rebus Gula Aren (ga tau nama lokalnya)
Telo Rebus Gula Aren
Telo yang di rebus bersama air nira yang hendak matang atau gula aren yang di cairkan kembali. Namun kebanyakan warga setempat membuatnya sekaligus memasak Nira aren. Sesudah Telo matang direbus, telo diangkat dan dihidangkan. Beberapa juga menghidangkan dengan memberi taburan parutan kelapa dan beri topping penutup dengan gula aren cair kembali.
Pisang Rebus Gula Aren
Pengganti ketela atau telo jika sedang tidak ada bisa menggunakan buah pisang dan rasanya wihh terutama bagi yang tidak suka makan pisang tanpa diolah seperti saya hehe. Sepertinya hidangan seperti ini enak menjadi makanan berbuka puasa nanti.

5. Lempok Sawi

Sawi dalam bahasa Osing bukanlah sayuran melainkan Telo, Ketela, Singkong. Terbuat dari parutan telo atau ketela yang dipadatkan, dan setelah pada direbus bersama rebusan air nira yang hendak menjadi gula arena tau gula aren yang dicairkan. Setelah cukup matang bisa dihidangkan dengan memberikan sedikit gula aren cair di atas piring.

Jajanan tersebut mungkin hanya sedikit dari banyaknya jajanan dan makanan tradisional khas masyarakat osing lain yang tidak kalah unik. Harapan saya sih, semoga bisa mencicipi hidangan masyarakat osing lainnya selama masih di Banyuwangi ^^.

yuk ke Banyuwangi, Bukan hanya mengunjungi wisata-wisata alamnya tapi juga cicipi Kulinernya




nb jika ada penulisan nama mohon saya dikoreksi ya hehe