Showing posts with label air terjun. Show all posts
Showing posts with label air terjun. Show all posts
Saturday, January 23, 2016

Bali Kecil Di Air Terjun Seloprojo, Magelang


Ini kunjungan kedua saya ke Air Terjun Seloprojo atau dikenal juga dengan Air Terjun Sumuran. Air Terjun ini unik, terdapat Pancuran Kepala Singa berbentuk arca candi. Pancuran tersebut mengingatkan seperti salah satu Pure yang ada di Bali. Mungkin entah kenapa dalam pikiran terlintas kata “Bali”.

Air Terjun Seloprojo terletak di Desa Seloprojo, Kecamatan Grabag, Magelang, Jawa Tengah. Air terjun ini letaknya berdekatan dengan Gunung Telomoyo, salah satu gunung yang bisa didaki dengan naik motor (klo berani). Air terjun ini berdekatan dengan Air Terjun Sekar langit dan sekitar 1jam perjalanan dari Candi Borobudur sehingga jika berkunjung ke candi Borobudur bisa sekalian mampir ke air terjun ini.

pintu masuk desa Seloprojo
Kunjungan kedua ini bersama teman berbeda dan kami janjian bertemu di Magelang. Perjalanan ke Air Terjun Seloprojo ini memakan waktu sekitar 2 jam - 2,5 jam. Rute ke Air Terjun Seloprojo dari Jogia : Tugu Jogja – Jalan Magelang – Tempel – kota Muntilan – kota Magelang – Arah Salatiga - Grabag- Pertigaan Pasar Grabag ambil kiri- Melewati Air Terjun Sekar Langit- Desa Seloprojo – Air Terjun Seloprojo/Sumuran. Beberapa catatan untuk menuju kesini : Jika dari kota Magelang tanyalah arah Grabag/Pasar Grabag dan dari Pasar Grabag ikuti papan petunjuk arah ke air Terjun Sekar Langit, lewati pintu masuk air terjun tersebut lalu coba tanya warga sekitar tentang desa Seloprojo, Air Terjun Seloprojo atau air terjun Sumuran.

Suasana Desa Seloprojo
air terjun dari kejauhan
Sesampai di desa Seloprojo, pemandangan desanya akan memanjakan kalian, rumah-rumah sederhana air irigasi bersih yang mengalir di tepi jalan utama desa, masyarakat yang ramah selalu mengajaknya untuk mampir sebentar “Pinara mas” diikuti senyum hangatnya. Pemandangan Ladang, sawah punggung pegunungan, hutan pinus dan air terjun yang terlihat dari Jejahuan. Untuk berkunjung ke air terjun, kami hanya mengeluarkan uang 3rb perorang dan parkir motor sebesar 2rb. Dan dari parkiran motor hanya berjalan sekitar 5-10 menit.

bersih-bersih dulu :D
Sepi, mungkin karena kami datang pagi hari, ternyata Pancuran singanya tidak memancur karena tersumbat ranting dan daun-daun yang gugur. Sebelum bermain dan foto-foto di air terjunnya kami memutuskan untuk membersihkan Arca-arca singa tersebut dan setelah bersih dari ranting dan daun-daun, pancuran arca kepala singa tersebut kembali memancurkan air yang mengalir dari air terjun tersebut. Setelah itu kami bersantai menikmati damainya suasana air terjun tersebut dan sesekali mencari sudut foto yang unik, Sempat terpikir bahwa adanya arca-arca kepala singa tersebut tak lepas dari kebudayaan masa lampau sekitar magelang merupakan wilayah Imperium Mataram. Hal tersebut bisa dibuktikan dari candi-candi hindu yang tersebar hampir mencangkup seluruh wilayah magelang.


Kembali ke Air Terjun Seloprojo, fasilitas yang ada disini dibilang cukup lengkap, ada kamar mandi, tong pembuangan sampah dan gazebo yang berada di sisi kanan air terjun. Sayangnya ada sedikit sampah yang berada di sekitar gazebo padahal di dekatnya sudah ada tempat sampah dengan tulisan dan warna yang bisa dilihat.

Camping Ground Air Terjun Seloprojo
Puas menikmati suasana air terjun Seloprojo ini, sebelum pulang kami memutuskan untuk ke hutan pinus dan melihat air terjun kecil yang ada di dekat hutan pinus. Ternyata hutan pinus ini difungsikan selain diambil getahnya juga sebagai Camping Ground. Saya membayangkan bertapa enaknya camping dibawah hutan pinus dan air terjun. Air terjun yang berada dekat Camping Ground ternyata memang berada di tengah hutan. Karena di dalam hutan suasananya agak gelap. Air mengalir berpencar menjadi tida dan mengalirnya tidak terlalu deras. Berfoto sebentar lalu kami memutuskan untuk kembali pulang.
air terjun kecil di tengah hutan
Silakan mencoba mengunjungi Bali kecil di Magelang ini. Alangkah baiknya jika mengunjungi wisata ini agar menjaga kebersihan dan tidak mencorat coret apapun yang bisa di coret, agar pengunjung lain yang datang bisa nyaman menikmati suasana air terjun ini seperti halnya kami.


Wednesday, December 30, 2015

Air Terjun Randusari - Air Terjun Kembar di daerah Dlingo, Bantul :)


Musim Hujan telah tiba, saatnya main ke air terjun musiman :D
Pilihan saya kali ini main ke Air Terjun Randusari, salah satu air terjun berada dekat dengan hutan Pinus dan puncak Becici.

Air terjun Randusari berada di tengah hutan rakyat yang cukup teduh dan tenang di lembah dari perbukitan dusun Rejosari, Desa Jatimulyo, Kecamatan Dlingo, Bantul. Air Terjun ini memang belum lama muncul di dunia wisata Jogja setelah tahun lalu pengelolanya memasang plang petunjuk jalan di setiap persimpangan Jalan dari Patuk menuju Kebun Buah Mangunan atau sebaliknya.

ketemu petunjuk jalan ini ambil arah Jatimulyo
Banyak rute  menuju Air Terjun Randusari dari Jogja yaitu lewat Imogiri atau lewat Patuk. Jika kalian ingin ke air terjun Randusari  via Imogiri, dari Kota Jogja – Terminal Giwangan  - Jalan Imogiri Timur – Pasar Imogiri ke arah Hutan Pinus Mangunan – melewati Hutan Pinus Mangunan ambil arah Puncak Becici- melewati Puncak Becici akan menemukan petunjuk arah menuju Air Terjun Randusari di pohon beringin tengah jalan (liat gambar ya) – mulai dari sini ikuti saja petunjuk jalan yang membawa kalian ke Air Terjun Randusari.

pohon beringin tengah jalan yang terakhir, ada papan petunjuk ke Randusari :D
Rute Air Terjun Randusari dari Patuk, Kota Jogja – Jalan Wonosari – Bukit Bintang – Pos Polisi Patuk (diatas bukit bintang) ada jalan masuk ikuti saja – pertigaan pertama ambil Kanan – melewati Watu Amben – ikuti jalan tersebut sampai menemukan pohon petunjuk jalan ke Air Terjun Randusari yang ada di Pohon Beringin Tengah Jalan  (liat gambar ya) – mulai dari sini ikuti saja petunjuk jalan yang membawa kalian ke Air Terjun Randusari. Jika ragu dengan jalannya tanyakan saja pada warga sekitar ya :).

Sesampainya di parkiran Air Terjun Randusari, kita tinggal berjalan sebentar saja sekitar 15 menit mengikuti jalan setapak melewati beberapa rumah warga setempat, saluran irigasi dan sawah. Setelah sampai di bawah bukit, mulai terdengar suara gemerincik air dan aliran air kecil yang airnya berasal dari air terjun tersebut. Suasana cukup sejuk di bawah teduhnya pepohonan jati dan pohon lainnya di sekitar air terjun. Sebelum menikmati suasana sekitar air terjun kami menaruh tas kami di gazebo-gazebo yang di sekitar air terjun.

Suasana sekitar Air Terjun :)
Air Terjun ini unik, terlihat seolah-olah air terjun kembar karena ada dua air terjun yang airnya jatuh bersebelahan. Di dekat air terjun ini terdapat Pohon Randu atau pohon kapuk yang cukup besar, itulah kenapa air terjun ini dinamakan Air Terjun Randusari. Kedalaman di sekitar air terjun tidak terlalu dalam hanya berkisar 1 meter saja, pengunjung bisa bermain air, berenang dan mandi-mandi melepas lelah penat dari rutinitas. Di dekat air terjun juga terdapat dua pohon kelapa hijau yang sering kali digunakan untuk menggantung “Hammock”. Bersantai dengan Hammock di pinggir air terjun Randusari yang cukup sepi ini mendamaikan sekali serasa air terjun ini ada di halaman rumah saya sendiri saja :D
Hammock-an :D

Tempat yang indah ini harus kita jaga, salah satunya dengan tidak membuang sampah sembarangan. Pihak pengelola sudah menyediakan tempat sampah yang cukup. Jika masih nyampah, mending jangan piknik-piknik lah, di rumah aja :D
Wednesday, January 1, 2014

Air Terjun Dholo dan Anak Tangga Pemupus Semangat


Setelah mengunjungi air terjun Irenggolo di Lereng Pegunungan Wilis, kita bisa melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Dholo (Dolo) yang letaknya sekitar 4 km dari Irenggolo. Secara Administrasi, sir terjun Dholo ini letaknya masih sama dengan Irenggolo yaitu di  di Dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Namun bedanya, air terjun Dholo berada di sekitar hutan alam pegunungan Wilis yang jauh dari pemukiman.

kondisi jalannya
pemandangan dari atas jembatan
Keluar dari objek wisata Irenggolo, kita tinggal mengambil jalan ke kiri dan mengikuti jalan tersebut. Di perjalanan kita akan melewati suasana hutan alam yang cukup memanjakan mata, jika kondisi tidak berkabut, kita bisa melihat suasana kota yang ada di kaki pegunungan Wilis. Kondisi jalan hingga sampai di kawasan wisata air terjun Dholo sudah baik, jalannya beraspal, cukup luas dan di beberapa titik di sisi jalan terdapat tebing yang sepertinya rawan longsor. Setelah jauh berjalan kita akan melewati jembatan yang menghubungkan sisi bukit yang satu dengan yang lain. Dilokasi ini menurut saya merupakan pemandangan terbaik sepanjang jalan, karena disini kita bisa melihat pemandangan liak-liuk bukit gunung Wilis. Kita bisa berhenti  sejenak, bahkan bisa menyeruput teh, susu atau kopi panas di beranda warung yang ada disekitar lokasi ini. setelah melewati jembatan tersebut tidak lama laki kita akan sampai di lokasi parkir wisata air terjun Dholo.

Penuh Perjuangan
Tidak kami sangka ternyata untuk menuju air terjun Dholo, kita masih harus berjalan menuruni anak tangga yang tidak biasa, kami menyebutnya anak tangga Pemupus Semangat, bagaimana tidak kita harus melewati 995 anak tangga. Tiap orang pasti berpikir, bagaimana nanti saat kembali ke atas. Kami yang tidak tahu apa-apa langsung turun dengan semangatnya karena menyangka anak tangganya cuma sedikit, namun dugaan kami salah. Dua orang teman saya akhirnya mundur, dan memutuskan untuk kembali ke atas. Kesalahan kami yang kedua, kami tidak bawah apa-apa saat menuju kesana. Biasanya ada yang jualan di sekitar lokasi air terjun, namun karena tiba di air terjun saat sore hari dan bukan hari libur, penjual makanannya sudah tutup/ tidak berjualan dan akhirnya kami memutuskan untuk minum dari air dari air terjun tersebut hehe.
anak tangga pemupus semangat
Namun dari perjalanan turun melewati anak tangga pemupus semangat, kami menikmatinya. Suasana hutan alam yang nyaman, suara kicauan burung, suara serangga yang bersahut-sahutan, hawa yang sejuk membantu melupakan si “anak tangga pemupus semangat”


Akhirnya Sampai


Air Terjun Dholo ternyata terbagi menjadi 3 bagian dan yang paling atas merupakan yang paling tinggi mempunyai ketinggian 125 meter sedangkan yang lainnya memiliki ketinggian sekitar 2-5 meter . Airnya mengalir sepanjang tahun,debit airnya tidak deras sehingga cocok untuk  bermain air.  Aliram airnya mengalir mengalir menuju sebuah sungai yang jernih. Setelah menikmati itu semua kami memutuskan untuk kembali ke atas dengan SEMANGAT yang masih ada, melewati anak tangga pemupus semangat (9^_^)9

Tuesday, December 3, 2013

Air Terjun Irenggolo : Pesona Wisata Gunung Wilis



 

Gunung Wilis, gunung yang terlihat melintang panjang  saat saya berada di Tulungagung, bersilaturahmi ke rumahnya Aris Santoso. Gunung Wilis merupakan gunung non-aktif dengan ketinggian 2552 M dpl terletak di beberapa kabupaten Jawa Timur seperti Kediri, Tulungagung, Nganjuk, Madiun, Ponorogo, dan Trenggalek. Saat berada di Tulungagung saya berkesempatan (diajak tuan rumah tepatnya) mengunjungi beberapa objek wisata di Gunung Wilis, salah satunya adalah Air Terjun Irenggolo.

Air terjun Irenggolo terletak di kabupaten Kediri, Jawa Timur  tepatnya di dusun Dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo. Dari kota Kediri berjarak sekitar 28 km ke arah bara daya dan bisa memakan waktu paling cepat 30 menit. Sekitar 1 jam akan sampai di kawasan Air Terjun Irenggolo. dari sumber yang saya baca, jika berangkat dari kota Kediri rutenya yaitu berangkat ke arah barat melewati sungai Brantas yang membelah kota Kediri menuju ke daerah Poh Sarang, Kecamatan Semen menuju Besuki. Selanjutnya melintasi Desa Selopanggung dan akhirnya sampai di pintu gerbang Kawasan Wisata Besuki. Di sepanjang jalan kami tidak melihat adanya papan petunjuk menuju air terjun Irenggolo, hanya ada papan petunjuk menuju kawasan air terjun Dholo. Ikuti saja papan petunjuk tersebut karena searah dengan air terjun Irenggolo. Letaknya Irenggolo di lereng gunung, kita dituntut hati-hati karena pasti jalan berkelok-kelok dan kadang jalan tertutup kabut maupun licin, basah karena hujan.

pemandangan dijalan setapak menuju air terjun
Sesampainya di kawasan Air Terjun Irenggolo kita harus berjalan kaki dulu  sekitar 200 meter melewati jalan setapak yang disediakan. Sambil berjalan kaki kita bisa melihat pemandangan lereng gunung Wilis, suara burung berkicau riang, tumbuhan khas pegunungan bahkan bisa melihat burung menari dari dahan ke dahan, dari ranting ke ranting. Sesampainya di air terjun Irenggolo kami langsung berpisah, mencari sudut foto sendiri-sendiri :D.

batuan mirip anak tangga
Air terjun jatuh dari ketinggian 80 meter namun karena kemiringan lerengnya agak landai mungkin sekitar 40-45 derajat, kesannya tidak jatuh dari ketinggian 80 meter. Jika diperhatikan dengan seksama, batuan yang menjadi lintasan air terjun ini mempunyai bentuk yang unik seperti anak tangga. Saat bulan Suro (penanggalan Jawa) di air terjun ini terdapan prosesi adat Sesaji Tirto Husodo merupakan kegiatan ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat di Pegunungan Wilis sisi timur tepatnya berada di Dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo dan berlokasi di air terjun Irenggolo. 

Sayangnya, indahnya air terjun Irenggolo tidak diikuti dengan indahnya fasilitas yang ada. Terlihat beberapa fasilitas seperti kamar mandi, kolam renang, dan beberapa wahana bermain kurang terawat. Padahal jika maksimalkan fasilitas tersebut bisa menambah daya tarik wisatawan untuk berwisata, bersantai, melepas kepenatan di kawasan Irenggolo
fasilitas taman bermain

Tuesday, October 8, 2013

Curug Tersembunyi Watu Jonggol



The Jewel of Java, begitulah julukannya Kulonprogo, kabupaten yang terletak di bagian barat Yogyakarta. Ibarat Jewel (batu berharga), perlu ekplorasi lebih untuk menemukan keindahan dan potensi-potensi di daerah ini.

Kali ini saya bersama teman-teman penasaran ingin mendatangi curug Watu Jonggol. Curug yang letaknya di pegunungan menoreh Kulonprogo pada ketinggian 900 Mdpl. Curug ini disebut juga curug Nglinggo karena lokasinya di dusun Nglinggo, desa Pagerharjo, kecamatan Samigaluh, Kulonprogo, sekitar 42 km dari kota Yogyakarta. Curug ini benar-benar masih alami, terletak dicelah-celah perbukitan, ditengah-tengah rimbunan pepohonan yang tumbuh subur disana, dan udara yang masih sejuk membuat tempat ini sangat cocok untuk melepas kepenatan dari rutinitas biasanya.

Untuk menuju curug ini searah dengan rute menuju curug Sidoharjo yaitu, dari kota Jogja kita menuju ke arah Godean melewati sungai Progo, lalu di perempatan lampu merah setelah itu (perempatan Nanggulan) ambil kanan, ikuti jalan tersebut sampai di perempatan Dekso (ada tugu besar ditengah jalan) ambil kiri. ikuti saja jalan ini, melewati pinggir sungai jalan menanjak dan berkelak-kelok sampai menemukan pertigaan yang ada papan petunjuk ke Nglinggo, ikuti petunjuk jalan tersebut sampai di sebuah pasar. Di pasar tersebut akan ada jalan kecil menanjak, masuk ke jalan tersebut. Bersiap-siaplah, karena mulai dari sini akan ada tanjakan tak berujung, beberapa kali saya harus turun dan mendorong motor karena motor tak kuat nanjak :p.
mereka yg mengantar kami :D
Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam, sampai juga di dusun Nglinggo, dan kami sudah bisa bernafas lega jalan sudah tak lagi menanjak hehe. Letak curug yang tersembunyi membuat kami beberapa kali bertanya kepada warga setempat. Ternyata memang benar jalan masuk menuju curugnya tertutup semak belukar sehingga agak susah mencarinya. Beruntung kami bertemu anak-anak kecil yg hendak bermain kesana. Kami disarankan untuk menitipkan kendaraan dirumah salah satu dari mereka. Kami melewati jalan setapak yang nyaris tak terlihat karena tertutup bayang-bayang pohon yang ada. Jalan setapak menuju curug ternyata cukup baik, terbuat dari semen. setelah menembus rerimbunan pohon, sudah mulai terdengak suara gemerincik air yang jatuh. Curug Watu Jonggol terlihat bertingkat dari lokasi kami berada saat itu yaitu disisi bukit sebelahnya. Tak sabar untuk main air, anak-anak kecil yang mengantar kami mulai berlarian menuju curug tersebut dan kami menyusulnya kemudian.

jembatan bambu setelah menuruni bukit

foto satu team :)
Disini terdapat beberapa fasilitas yang dibangun warga setempat untuk wisatawan seperti petunjuk jalan, jalan setapak menuju air terjun, jembatan, gubuk dan bangku yang terbuat dari bambu. Namun mungkin karena letaknya yang lumayan jauh dan kurangnya promosi membuat tempat ini jarang menjadi pilihan berwisata, padahal potensi desa ini cukup besar selain ada air terjun, dusun ini terdapat hutan pinus dan perkebunan the satu-satunya di Jogja :)