Showing posts with label budaya jogja. Show all posts
Showing posts with label budaya jogja. Show all posts
Monday, November 23, 2015

Saparan Bekakak, Ambarketawang - Tradisi Budaya Unik Jogja Di Bulan Sapar

Salah satu Ogoh-Ogoh Unik
Yogyakarta memang punya kebudayaan yang unik, apalagi budaya unik dari Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta saat bulan Sapar (pada tanggalan Jawa) terdapat tradisi Budaya Saparan Bekakak dimana akan terdapat banyak Ogoh-ogoh dalam berbagai bentuk dari yang berbentuk hewan sampai berbentuk Hantu Kalong Wewe ada juga Hantu Gondoruwo :D

Sepasang Bekakak (Pengantin) dari Beras Ketan
Cerita terjadinya tradisi Saparan Bekakak ini berawal keinginan Abdi Dalem kesayangan dari Sri Sultan HB I yaitu bernama Kyai Wirasuta dan Nyi Wirasuta yang merupakan pasangan Suami-Istri hendak membangun sebuah Kraton di tempat Kerajaan dan Kediaman Sultan. Selama masa pembangunan kraton, Sultan tinggal sementara di sebuah Pesanggrahan daerah Ambarketawang, Gamping.  Setelah pembangunan selesai dan Sri Sultan hendak pindah ke Kraton namun kedua abdi dalem Kyai Wirasuta dan Nyi Wirasuta memilih menetap di bekas Pesanggrahan Sultan tersebut. Namun pada bulan Sapar tepatnya hari Jum’at Kliwon terjadi bencana berupa runtuhnya Gunung Gamping yang menewaskan kedua abdi dalem tersebut  dan anehnya jasad keduanya tidak dapat ditemukan. Setelah kejadian itu setiap bulan Sapar terjadi bencana serupa dan akhirnya Sri Sultan bertitah kepada masyarakat Ambarketawang untuk melakukan tradisi selamatan dengan menyembeli sepasang Bekakak (Pengantin) dengan bahan dari beras ketan. Tradisi Penyembelihan tersebut dimaksud agar tidak korban bencana Gunung Gamping yang serupa. Pada versi lain menyebutkan tradisi penyembelihan Bekakak ini juga sebagai Tipu muslihat untuk menipu Setan-setan dan hawa jahat yang ada di Gunung Gamping agar tidak meminta korban lagi.
Ogoh-ogoh dan anaknya Ogoh2

Walau seiring jalannya waktu masyarakat masih tetap menjaga tradisi tersebut hingga saat ini masih tetap diselenggarakan pada hari Jum’at Kliwon Bulan Sapar di setiap tahunnya. Tradisini ini dilaksanakan sehabis solat Jumat, biasanya jam 2 siang dengan titik Start dari Lapangan Desa Ambarketawang.  Dilapangan tersebut akan  Ogoh-ogoh dari beberapa dusun di Desa Ambarketawang telah hadir. Kehadiran Ogoh-ogoh dianggap sebagai pengganti setan-setan yang menghuni Gunung Gamping yang kerap kali mengganggu manusia.  Acara dimulai dengan melakukan arak-arakan Bekakak beserta Ogoh-ogoh keliling Desa Ambarketawang dan setelahnya dilakukan penyembelihan di dua tempat berbeda yaitu di cagar alam Gunung Gamping dan di depan Kampus Stikes, Ring Road Barat. Dua tempat inilah dulunya terdapat Gunung Gamping yang meresahkan tersebut.

Pawai memutari Desa Ambarketawang
Acara berlangsung cukup meriah, karena ada kehadiran ogoh-ogoh. Tradisi ini terlihat beda dari yang lain. Karena itu, tidak hanya dari warga Ambarketawang saja bahkan sempet bertemu warga dari "Negeri Tetangga" Solo. Lebih baik datang jam 1 untuk bisa dapat tempat enak untuk menikmati tradisinya juga bisa foto-foto dengan peserta pawai dan Ogoh-ogohnya di Lapangan Kelurahan Ambarketawang. Jika datang telat, jalanan sudah ditutup dan kita tidak bisa masuk karena saking rapat dan banyaknya warga yang menyaksikan tradisi Saparan Bekakak ini


Untuk melihat acara ini gratis kok, kita tinggal datang ke hari Tradisinya yang dimulai di Lapangan Kelurahan Ambarketawang, Gamping yang letaknya sebelah barat dari pasar Buah Gamping serta berakhir di Cagar Alam Gunung Gamping dan di Depan Kampus Stikes Ring Road untuk melakukan Penyembelihan Bekakak. Dari Tugu kita tinggal ke arah barat melewati jalan Godean sampai perempatan ringroad barat Demak Ijo. Ambil kiri menuju arah selatan sampai bertemu perempatan lampu merah jalan Wates. ambil ke kanan lalu bertemu pertigaan lampu lalu lintas ambil lurus melewati pasar Gamping sampai bertemu perempatan yang ada Indomaret kiri jalan, ambil ke kanan.

Upacara puncak yaitu penyembelihan Bekakak sifatnya agak keras, jika kalian orang tua yang mengajak anaknya melihat tradisi ini untu mengingatkan untuk tidak menirunya dirumah. Untuk tahun 2015 ini akan diadakan hari Jum’at, 27 November 2015.

Mahasiswi kampus stikes yang ikut berebut Gunungan :D


Selamat menikmati Tradisi Budaya Yogyakarta.


Monday, April 22, 2013

Tari Angguk, tarian khas Kulonprogo



Syair musik gabungan jawa dan arab, mengiringi beberapa gadis-gadis cantik berseragam warna dasar hitam, menarikan tarian Angguk.

Yogyakarta memang kaya budaya, salah satunya adalah tari Angguk yang merupakan tarian khas Kulonprogo. Tari ini muncul kira-kira jaman Belanda berkuasa. Tarian ini ada sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan setelah panen padi. Untuk merayakannya, para muda-mudi bersukaria dengan bernyanyi, menari sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dari sinilah kenapa tarian ini dinamakan tari Angguk. Ada sumber yang mnyatakan bahwa gerakan tari Angguk terinspirasi dari gerakan serdadu Belanda dan busananya pun mirip dengan pakaian serdadu Belanda. Satu sumber juga menyebutkan tarian ini berasal pengembangan dari Tarian Dolalak Purworejo, Jawa Tengah yang masuk ke Kulon Progo sekitar pada 1950.

Waktu saya melihat tarian ini baru 2 kali, yaitu dalam acara sedekah laut dan pementasan seni tradisi di Pakualaman. Jika diperhatikan dalam satu tari Angguk menyajikan beberapa Tarian yaitu (1) tari ambyakan, adalah tari angguk yang dimainkan oleh banyak penari. Tarian ambyakan terdiri dari tiga macam yaitu: tari bakti, tari srokal dan tari penutup. (2) tari pasangan, adalah tari angguk yang dimainkan secara berpasangan. Tari pasangan ini terdiri dari delapan macam, yaitu: tari mandaroka, tari kamudaan, tari cikalo ado, tari layung-layung, tari intik-intik, tari saya-cari, tari jalan-jalan, dan tari robisari.

Busana yang dipakai oleh Tarian Angguk ada dua macam, yaitu busana untuk pengiring musiknya dan penarinya. Penggiring musiknya memakai busana baju biasa, jas, sarung, dan kopiah. Alat musik yang digunakan berupa kendang, bedug, tambur, kencreng, rebana 2 buah, terbang besar dan jedor. Sedangkan penarinya memakai baju berwarna hitam berlengan panjang yang dibagian dada dan punggungnya diberi hiasan-hiasan, celana sepanjang lutut atau atas lutut yang dihiasi dengan hiasan berwarna merah-putih di sisi bawahnya. Topi berwarna dasar hitam dengan pinggir topi diberi kain/benang berwarna merah-putih dan kuning emas. Bagian depan topi terdapat bulu-bulu berwarna merah yang katanya terbuat dari rambut ekor kuda atau bulu-bulu, selendang yang digunakan sebagai penyekat antara baju dan celana, dan kaos kaki selutut berwarna merah atau kuning.

Dulu tari Angguk ini sangat populer di Kulonprogo namun saat ini hanya terdapat beberapa kelompok tari Angguk salah satunya kelompok tari Angguk ini yang berasal dari Dusun Pripih, Kokap, Kulonprogo. Tari ini bisa dilihat saat ada acara hajatan, festival kebudayaan salah satunya gelar tari yang dilaksanakan tiap 2 minggu sekali di Puro Pakualaman.


Semoga tari Angguk tetap lestari :)
Tuesday, April 16, 2013

Menyaksikan Prosesi Nawu Sendang Seliran



Mataram Islam, satu kerajaan yang tercatat pernah mendirikan pusat pemerintahannya di Yogyakarta, tepatnya di Kotagede. Tak heran disana masih bisa ditemukan peninggalan-peninggalan zaman Mataram Islam, salah satunya Prosesi Nawu Sendang Seliran

Sendang Kakung
Nawu Sendang yang berarti  menguras sendang atau membersihkan sendang. Sendang Seliran itu sendiri berada di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram dan Mesjid Agung Kotagede. Disini terdapat 2 sendang yaitu sendang seliran kakung untuk kaum laki-laki dan sendang seliran putri untuk kaum perempuan. Asal muasal dinamakan Sendang Seliran karena sendang ini diselirani (dikerjakan) oleh Ki Ageng Mataram dan Panembahan Senapati. Adapula pendapat lain dinamakan begitu karena air sendang berasal dari makam selira (badan) Panembahan Senapati. Tidak ada sumber yang menjelaskan kapan awal mulanya prosesi nawu sendang ini ada, namun diyakini prosesi ini ada setelah sendang ini dibuat.

sesampainya di pelataran Mesjid Kotagede
simbolisasi nawu sendang
Tahun lalu (2012) saya berkesempatan menyaksikan sendiri prosesi ini. Prosesi dimulai dari kirab budaya dari kelurahan menuju kompleks Mesjid Agung Kotagede dengan membawa Gunungan, umbe rampe, serta simbolisasi berupa siwur (gayung) dan gentong. Setelah sampai disana dimulailah acara utama prosesi ini. Diawali dengan sambutan-sambutan dari pemuka atau tokoh-tokoh yang hadir. Saat itu ada tamu istimewa yang hadir yaitu Sultan dari Kesultanan Lampung. Beliau diberi kesempatan untuk memberi sepatah-dua katanya untuk sambutan diprosesi ini. setelah sambutan-sambutan selesai dilakukan penyerahan siwur dan gentong sebagai tanda dimulainya prosesi menguras/ membersihkan sendang. Gayung dan siwur dibawa menuju sendang seliran dan dilakukan pengambilan air dari sendang seliran sebagai simbol menguras air yang ada di sendang tersebut. pengambilan air sendang dilakukan oleh abdi dalem dan tokoh yang hadir dalam prosesi ini.  setelah simbolisasi pengurasan sendang, acara dilanjutkan dengan kenduri atau dengan kata lain adalah makan bersama. Setelah kenduri berakhir masyarakat mulai berbondong-bondong menuju sendang seliran tersebut untuk menguras dan membersihkan sendang tersebut. anak-anak kecil pun tidak ketinggalan masuk kedalam sendang untuk membersihkan sendang sekaligus bermain air dengan serunya ^__^

Kenduri
Menguras Sendang
Prosesi Nawu Sendang Seliran pada tahun 2013 ini akan diadakan hari Minggu, 21 April 2013. Untuk dapat melihat prosesi ini kita bisa memacu kendaraan pribadi anda menuju Kotagede, atau bisa naik angkutan Trans Jogja turun di Kotagede. Prosesi sama seperti tahun lalu akan dilakukan kirab budaya dari depan kelurahan menuju Mesjid Agung Kotagede dan dilanjukan ke Prosesi Inti. Prosesi ini akan dimulai jam 9 pagi, jadi kalau bisa datang sebelum jam 9 pagi agar memudahkan anda untuk menyaksikan prosesi ini.

Sampai Ketemu di sana :)
Friday, March 1, 2013

Upacara Melasti Parangkusumo



Siang itu, orang-orang berpakaian dominan serba putih berbaris rapi. Membawa sesaji di atas kepalanya. Pantai Parangkusumo saat itu mendadak seperti Bali. 
Ada apa gerangan?

Upacara Melasti merupakan salah satu rangkaian upacara menyambut hari raya Nyepi bagi agama Hindu. Upacara ini biasanya dilakukan 3 hari sebelum perayaan Nyepi. Upacara Melasti bisa juga sebut upacara Melis atau Mekilis, dimana pada hari ini umat Hindu melakukan sembahyangan di tepi pantai dengan tujuan untuk mensucikan diri dari segala perbuatan buruk di masa lalu dan membuangnya kelaut,ini dilaksanakan sebelum merayakan Tapa Brata penyepian. Namun upacara melasti ini tidak selalu dilaksanakan dilaut, namun ada juga yang melaksanakannya di sumber mata air namun walau tempatnya berbeda inti dari upacaranya sama yaitu mensucikan diri dari segala perbuatan buruk.

Di Jogja, tahun lalu saya berkesempatan melihat prosesi upacara ini di pantai Parangkusomo, Bantul, Yogyakarta. Untuk mencapai pantai ini cukup mudah, kita tinggal menuju pantai Parangtritis melalui jalan prangtritis. Pantai Parangkusumo ini letaknya persis di sebelah barat pantai Parangtritis. Acara ini biasanya mulai sekitar jam 13.00 siang dan selesai sore hari.

rombongan umat Hindu mulai berdatangan menuju Altar
Menjelang waktu dimulainya upacara melasti, Umat Hindu mulai berdatangan dengan menggunakan baju adat Bali namun sebagian kecil ada juga yang menggunakan pakaian adat jawa. Ratusan Umat Hindu yang hadir sebagian besar berasal dari Yogyakarta, namun tidak menutup kemungkinan ada yang berasal dari luar Jogja. Mereka berdatangan dengan membawa sesaji dan meletakannya di altar yang tersedia di tepi laut.
sesaji
Upacara Melasti ini sebelumnya diawali dengan pengambilan air suci di Sendang Beji. lalu setelah umat Hindu berkumpul di Altar tepi pantai Parangkusumo. Setelah itu dimulailah prosesi pembacaan doa oleh Romo Pendeta selaku pemimpin upacara melasti ini. Doa- doa yang dibacakan oleh Romo Pendeta diikuti dengan alunan alat musik gamelan yang mengalun indah membuat suasana prosesi doa semakin khusyuk.  Saat prosesi doa berlangsung, umat hindu menjungjung kedua tangan ke atas dengan bunga di ujung jari mereka. Setelah Pembacaan doa selesai ada pengambilan air laut oleh iring-iringan dan dibawah diberikan ke hadapan Romo Pendeta dengan tarian-tarian yang dilakukan oleh para wanita.

pengambilan air suci dan diiringi sejenis tarian
Setelah itu dimulailah pembagian air suci oleh para pemangku/pendeta kepada para umat Hindu yang hadir. Rangkaian prosesi yang terakhir yaitu labuhan berbagai sesaji yang dilakukan oleh umat Hindu dan mensucikan diri dengan membasuhkan air laut pada bagian-bagian tubuh tertentu. Tidak hanya itu, benda-benda pusaka Pura yang dibawa ke Altar pun ikut dibasuhkan dengan air laut. membasuhkan air laut maksudnya adalah Mensucikan dari perbuatan-perbuatan buruk. 

mensucian benda-benda pusaka pura

pensucian diri dengan membasuhkan air laut dibeberapa bagian tubuh

Dengan prosesi labuhan dan mensucian diri dengan air laut, para umat mulai meninggalkan lokasi baik pulang ke rumah masing-masing maupun membuka bekal makanan yang dibawanya dari rumah di tepi pantai ini.