Showing posts with label jawa tengah. Show all posts
Showing posts with label jawa tengah. Show all posts
Tuesday, November 19, 2013

Menikmati Molen Klenteng Muntilan, Magelang



Menuju Candi Borobudur atau wisata lainnya di Magelang dari kota Jogja, pasti kita akan melewati satu kota kecil yang bias dibilang cukup ramai. Muntilan namanya, kota yang letaknya di jalur utama yang menghubungkan daerah Jogja dengan daerah Jawa Tengah bagian utara, karena itu lalu lintas dikota ini cukup padat apalagi saat pagi dan sore hari. di kota ini ada salah satu kuliner yang menarik perhatian saya yaitu “Molen”.

Pas KKN :D
Bisa dibilang menulis tentang molen ini sedikit mengingat kenangan dulu semasa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di lereng Merapi-Merbabu. Bisa dibayangkan turun-naik Lereng Gunung Merapi-Merbabu ke kota Muntilan, kadang rela menembus kabut tebal hanya membeli sejumlah Molen. Memang karena punya cita rasa yang berbeda , ukurannya juga agak besar dari ukuran Molen lainya. Satu lagi di lokasi KKN tidak ada yang jual Molen(belum nemu) hehe.  Dan selama saya di jogja, kadang suka bolak-balik Jogja-Muntilan cuma beli Molen.

Sore hari, 18 November kemarin saya bersama teman-teman mampir kesini kembali setelah mengambil foto pemandangan Lereng Merapi-Merbabu.  Molen ini dijajakan  di kedai kaki lima pak Muh bersama istrinya, di sebelah selatan Klenteng Hok An Kiong. Kedai Molen ini dibuka dari pagi hari sampai jam 6 sore. Molen yang dijual hanya dua macam yaitu molen Nanas dan Pisang dengan harga Rp. 800 saja. Biasanya  molen nanas cepet habis karena stok buah nanas tidak sebanyak stock pisang. Jika sedang ramai, pisang yang dihabiskan seharinya bias mencapai 40 kg.  Jumlah yang terbilang besar menurutku.  Kedai ini telah berdiri cukup lama yaitu sejak tahun 1986 jaman saya belum kenal molen (belum lahir sih :p ).  Karena lamanya berjualan Molen di sana sampai-sampai nama pak Muh sendiri meredup dan dikenal dengan nama Pak Molen.

Sore itu keadaan kedainya cukup ramai,kami harus bersabar harus mengantri sekitar 6-7 orang. Sambil menunggu giliran kami menyempati melihat-lihat suasana sekitar Klenteng, suasana lalu-lalang kendaraan, kesibukan orang-orang membuka lapak kuliner malam.

Senja kemarin, memembus awan mendung :)
Nikmatnya menyeruput teh panas, sejumlah Molen dan hiruk pikuk kota kecil Muntilan menjelang Senja

Saturday, April 27, 2013

Jalan-Jalan ke Curug Grenjengan Kembar, Magelang


Memang karena letaknya di kelilingin banyak gunung, Magelang memiliki banyak sekali Curug (air terjun), salah satunya yang saya kunjungi kali ini yaitu Curug Grenjengan Kembar. Diberi nama demikian karena dalam lokasi wisata ini terdapat dua buah curug yang bersebelahan. Sumber curug ini berasal dari anak sungai Cebong yang mata airnya dari lereng gunung Merbabu. untuk kedua kalinya saya mengunjungi curug ini setelah pertama kalinya tahun lalu di musim kemarau. Tidak terlalu puas karena debit airnya lebih sedikit dibanding kunjungan kali ini.

Curug Grenjengan Kembar terletak di Dusun Citran, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Magelang, Jawa Tengah. Kali ini saya bersama komunitas “Indonesia Landscaper (ILS)” berangkat dari kota Jogja mengikuti  Jalan Magelang, sesampainya di lampu lalu lintas mal Artos (Armada) ambil jalan ke arah Kopeng melewati terminal Bukit Tidar. Lampu lalu lintas setelah terminal ambil kanan ke arah jalan raya Kopeng. Ikuti jalan tersebut sampai menemukan pertigaan yang ada papan petunjuk makam. Ambil kiri (jalan menurun) lalu ikuti jalan tersebut sampai anda menemukan papan petunjuk Curug Grenjengan Kembar. Hati-hati ketika mulai memasuki jalan desa karena selain jalannya hanya terdiri dari batu juga banyak anak kecil bermain di jalan tersebut.

dinding 
Disini kita tidak di tarik biaya masuk, hanya biaya parkir kendaraan sebesar 2000 rupiah dan tetap menjaga kebersihan dan keindahan Curug Grenjengan Kembar. Dari lokasi parkir, kami berjalan kaki sekitar 10 – 15 menit. Perjalanan menuju grenjengan kembar, kita akan melewati bukit yang terbelah, yang di dinding-dindingnya tertulis ukiran nama-nama orang yang 'saling mencintai" disini :p (sebut saja "dinding cinta"). Setelah melewati itu, kita mulai memasuki hutan yang dominan ditumbuhi oleh tanaman bambu yang berukuran besar, setelah melewati rimbunan bambu kita masih melewati hutan Pinus yang indah. hutan pinus ini merupakan hutan yang dimiliki oleh Perhutani. Di hutan pinus ini kita mulai bisa mendengar gemerincik suara air sungai, tanda curug Grenjengan Kembar sudah dekat. Rasa tak sabaran mempercepat langkah kaki kami.
Hutan Pinusnya
Sesampainya di lokasi, kami menyempatkan diri untuk mengalahkan rasa lapar dengan melahap sate ayam yang tadi dibeli di warung dekat lokasi parkir :D. Setelah itu baru coba mengambil beberapa foto sekalian bermain air. Air terjunnya cukup menarik, aliran air sungainya sangat deras apalagi ketika musim penghujan, Untuk memfoto air terjun ini kita harus mempersiapkan pelindung kamera dari embun air berterbangan tertiup angin, perlu disiapkan juga sebuah kain lap untuk mengelap kaca filter lensa yang terkena embun.

daripada corat-coret mending, numpuk2 batu bentuk tulisan ya :)

Foto Keluarga
Sesuai namanya, Air terjun Grenjengan Kembar mempunyai dua air terjun yang mempunyai khasnya tersendiri terutma pada air terjun yang letaknya di dekat dengan hutan pinus. Air terjun tersebut mempunyai keunikan yang berbeda dengan air terjun kembarannya ataupun air terjun lainnya. Saya menyebutnya Air Terjun "Tersenyum", disebut demikian karena pada air terjun ini terdapat batu yang membelah aliran air terjun ini menjadi dua bagian, di batu tersebut terukir seperti sebuah wajah yang seakan tersenyum melihat suasana keadaan air terjunnya masih tetap asri atau tersernyum menyambut kedatangan wisatawan yang tersenyum bergembira datang ke air terjun tersebut. Yah walaupun seperti sebuah kebetulan mungkin saja benar ada ya kalau air terjun ini memang benar-benar sedang tersenyum.
Air Terjun Tersenyum di Magelang




Thursday, April 4, 2013

Jalan-Jalan ke Curug Silawe dan Sigong

Curug Silawe

Magelang merupakan satu daerah di provinsi Jawa Tengah yang letaknya dikelilingi banyak Pegunungan. Karena letaknya tersebu tempat ini mempunyai potensi-potensi wisata alam yang banyak salah satunya Air Terjun atau sering disebut juga Curug.

Akhir Maret kemarin saya beserta anno, yuli, putro berinisiatif untuk mengunjungi Curug Silawe. Curug  ini terletak di di Dusun Kopeng Kulon, Desa Sutopati, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah atau berada di lereng Gunung Sumbing pda ketinggian sekitar 500 mdl. Nama Silawe ternyata mempunyai arti

Pemandangan di jalan desa Sutopati
Untuk menuju kesini aksesnya hanya bisa dilalui oleh kendaraan pribadi karena tidak ada angkutan umum untuk menuju kesana. Dari Jogja bisa kita melewati jalan Magelang menuju Perempatan pasar Borobudur jalan terus  sampai menemukan Tugu. Lewati tugu ke arah Purworejo tersebut sampai menemukan papan petunjuk jalan menuju arah curug Silawe (belok kanan) ikuti jalan tersebut sampai menuju desa Sutopati. Di perjalanan memasuki desa ini akan dihiasi dengan pemandangan bukit-bukit, terasering persawahan dan perkebunan masyarakat desa tersebut. jalan dari desa setengah jalan beraspal setengah lagi jalan berbatu dan menanjak. Sesampainya di pintu gerbang curug silawe kita hanya di tarik biaya 2000 rupiah perorang dan motor 1000 rupiah. Untuk parkir mobil disarankan untuk parkir di bawah (di pinggir jalan dusun kopeng atau halaman masjid) karena diatas parkiran mobil tak tersedia.

Curug Silawe
Dari tempat parkir motor kita sudah bisa mendengar suara gemuruh curug ini. rasa tidak sabar membuat kami buru-buru menulusuri jalan setapak, menuruni anak tangga sekitar 200 m dan sampailah kami di sebuah pemandangan yang amat dinantikan yaitu curug Silawe. Curug ini mempunyai ketinggian sekitar 50 meter. Silawe berasal dari kata “Lawe” (Bahasa Jawa) alias sarang laba2. Di bawah curug tersebut terdapat kolam yang tidak terlalu dalam sehingga pengunjung bisa berenang-renag berbain air disini.

Curug Sigong
Tebing curug Sigong
Potensi curug Silawe bukan hanya itu, di deket curug ini terdapat satu curug lagi yang bernama curug Sigong. Untuk menuju kesini kita cukup berjalan kaki melewati anak tangga yang telah disediakan (hati-hati anak tangganya licin). disini tidak seperti curug Silawe yang terdapat kolam dangkal untuk berenag dan bermain air, namun disini tertabat gazebo untuk berstirahat dan menikmati pemandangan sekitar. Yang unik dari curug ini adalah bentuk tebing batuannya yang berbentuk kotak-kotak seperti bekas lempengan bumi yang patah. Penamaan curug Sigong ini karena menurut warga sekitar disini sering terdengar suara mirip gong terutama pada malam hari.

Setelah lelah melihat-lihat dan mengabadikan beberapa gambar, waktunya bermain air dan memakan bekal yang kami bawa dari Jogja. Semoga kalian tertarik mengunjungi tempat ini ya :)

tim blusuknya narsis dulu

nb: tetap jaga kebersihan curug ini yak, dengan membuang sampah ditempat sampah yang telah disediakan pihak pengelolanya :)

Thursday, February 7, 2013

Jalan-Jalan Ke Candi Cetho, Karanganyar



Kali ini saya diajak mas aslam dan teman-temannya ke Candi Cetho, candi yang letaknya di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Lokasi Candi Cetho yang berada di lereng gunung Lawu, dengan ketinggian 1.496 meter dari permukaan laut. niatnya setelah candi Cetho ini kami ingin mengunjungi candi Sukuh yang letaknya tidak jauh dari candi ini (sekitar 20-30 menit) namun karena cuaca hujan dan berkabut diputuskan ke candi Sukuhnya lain waktu.


Untuk menuju kesini kita harus pergi ke kota Karanganyar, dari  Kota Jogja Kami melewati jalan jogja-solo dan melewati kota Solo lalu menuju kota Karanganyar. Perjalanan dari Jogja sampai ke kota Karanganyar sekitar 2,5 jam lebih. Dari kota tersebut akan akan petunjuk jalan menuju lokasi Tawangmangu, ikuti papan petunjuk tersebut nanti akan ada papan petunjuk berikutnya ke arah candi Cetho. Di perjalanan menuju candi ini anda akan melewati pemandangan indah lereng gunung Lawu. Sampai didaerah kemuning di lereng lawu anda akan melihat pemandangan Kebun Teh yang indah. disini pengendara harus berhati-hati karena jalanan mulai berkelok-kelok dan banyak tanjakan-tanjakan yang dasyhat. Sesampai di Dusun Cetho, terlihat perkampungan ini mayoritas di huni oleh penganut agama Hindu sehingga dilihat corak-corak bangunannya terdapat unsur-unsur Hindu, sekilas mirip dengan rumah penduduk di Bali. Setelah mengikuti jalan desa tersebut sampailah kita di lokasi Candi Cetho. Untuk masuk ke candi ini kita hanya mengeluarkan dana sekitar 3000 rupiah (murah kan) dan untuk wisatawan mancanegara sebesar 10.000 rupiah.

Setelah melewati beberapa anak tangga kami papan informasi tentang candi ini. Candi Cetho ini merupakan candi Hindu, ditemukan oleh Van de Vlies pada tahun 1842. Ketika ditemukan keadaan candi ini merupakan reruntuhan batu 14 dataran bertingkat, memanjang dari barat (paling rendah) ke timur, meskipun pada saat ini terlihat 13 teras, dan hanya 9 teras yang dilakukan pemugaran.  Pada teras ke-14 belas katanya hanya wanita yang masih perawan saja yang bisa sampai ke teras tersebut. Pemugaran yang dilakukan oleh Humardani, asisten pribadi Suharto, pada akhir 1970-an, dalam pemugaran tersebut banyak bangunan yang ditambahkan seperti gapura dan bale-bale. Hal ini katanya tidak memenuhi kaidah pemugaran, namun dsisi lain bangunan baru tersebut membuat suasana candi seperti hidup kembali di jamannya.

Ornament batu berbentuk kura-kura
Suasana mistis candi Cetho
Setelah membaca-baca papan informasi, Perjalanan kami naiki ke atas melewati Gapura candi dan sampai di halaman yang cukup luas dan terdapat ornamen batu berbentuk kura-kura raksasa. Lanjut lagi ketingkat selanjutnya akan ada bale-bale yang difungsikan untuk berkumpulnya umat, tempat beristrirahat sebelum dan sesudah ibadah. Bale-bale ini bukan peninggalan masa dahulu namun hanya dibangun para umat sebagai sarana ibadah umat Hindu dan agama Kejawen. Naik ke puncak terdapat candi yang bentuknya seperti piramida terpenggal atau trapesium.


Mengunjungi Candi ini selain kita dapat mempelajari sejarah peninggalan masa lampau, disini kita juga bisa menikmati pemandangan indah dan disaat tertentu kita bisa melihat penduduk lokal sedang melakukan ritual keagamaannya. Semoga tertarik mengunjungi candi ini