Showing posts with label wisata alam. Show all posts
Showing posts with label wisata alam. Show all posts
Monday, July 11, 2016

Taman Ade Irma Suryani - Cirebon Waterland, Taman Rekreasi Asik di Kota Cirebon

Taman Laut di Cirebon Waterland
Cirebon adalah kota bersejarah, apalagi nuntuk Orang Tua (Ortu) saya. Menjadi rutinitas tahunan, lebaran saya sekeluarga pulang menengok Nenek di Losari, Cirebon. Saat acara kebaran mulai senggang kami sekeluarga menyempatkan mampir ke Taman Ade Irma Suryani - Cirebon Waterland ini yang ramai dibincangkan dari tahun 2015 silam dan juga Ramai dikunjungi apalagi saat libur lebaran seperti ini.

Taman  Ade Irma Suryani ternyata sudah ada sejak dahulu dengan nama Taman Traffic Garden Cirebon namun sejak tahun 1966 di ganti menjadi Taman Ade Irma Suryani. Taman ini merupakan taman rekreasi dan taman bermain satu-satunya di Kota Cirebon. Mulai tahun 2014 dikembangkan menjadi Cirebon Waterland dan selesai dan dibuka kembali pada Libur Lebaran tahun 2015 yang lalu.  Jika mengingat memori lama, sebelum Cirebon Waterland jadi sekitar  Kelas 6 SD atau 1 SMP saya pernah mampir ke Taman Ade Irma Suryani ini. Kondisinya kurang menarik, namun karena satu-satunya taman rekresasi, taman ini menjadi andalan warga Cirebon untuk bersantai, menikmati taman dan laut dari dermaga yang ada saat itu.

Cara Menuju Taman Ade Irma Suryani Cirebon Waterland
Taman Ade Irma Suryani - Cirebon Waterland ini terletak pusat kota Cirebon, tepatnya berdekatan dengan Pelabuhan Cirebon. Jadi jika kalian menggunakan kendaraan pribadi bisa mengikuti petunjuk jalan menuju Pelabuhan Cirebon namun jika menggunakan kereta bisa turun di stasiun terdekat yaitu Stasiun Cirebon Prujakan. Dari Stasiun bisa menaik Ojek (nawar dulu) dan angkot bernomor kode GM (Jurusan Gunungsari-Mundu). Jika kalian yang punya sedikit waktu disarankan naik ojek saja, karena naik angkot jalannya agak memutar (jangan lupa untuk tanya terlebih dahulu supir angkotnya apa kah melewati daerah tujuan J)

Saat H+3 lebaran 2016, untuk memasuki Taman Ade Irma Suryani  seharga Rp. 65.000 sudah termasuk tiket untuk berenang di Cirebon Waterlandnya. Saya cukup keberatan soal ini karena berimbas keluarga yg ikut pada tidak jadi masuk ke Cirebon Waterland ini dan menunggu diparkiran. Padahal sebelum Puasa dan Lebaran tiket dipisah, unuk menikmati Taman Ade Irma Suryani seharga Rp. 15.000 dan untuk Cirebon Waterland Seharga Rp. 60.000 sekaligus bisa menikmati suasana yang ada di Taman Ade Irma Suryani. Karena sudah jauh2 dari Banyuwangi saya niatkan saja sebentar masuk untuk melihat-lihat di dalam seperti apa. Dan  Semoga setelah melewati Hiruk Pikuk Lebaran, harga tiket kembali seperti sedia kala.



Memasuki Taman Ade Irma Suryani – Cirebon Waterland, pemandangan waterlandnya lah yang mencolok mata, dengan bentuk yang menakjubkan dan menjulang agak tinggi dari bangunan dan pohon sekitarnya. Kolam Renang dengan Wahana yang bisa dibilang cukup wow dimata, cocok untuk berfoto-foto dan bermain air bersama keluarga, apalagi didukung oleh cuaca Cirebon yang panas-panas membakar khas Pantura :D. Kemarin saya tidak mencoba Kolam Renang ini, hanya memperhatikan kegembiraan dan mendengar teriak sana sini anak kecil yang sedang bermain air di Cirebon Waterlandnya.

Setelah melewati Kolam Renang, Kita akan melihat kapal raksasa bertuliskan Cheng-Ho (Pelaut  dari Cina yang terkenal). Bangunan tersebut merupakan Restoran berbentuk kapan berpemandangan laut utara Jawa. Di kanan kiri Resto Kapal tersebut terdapat Dermaga yang bisa kita lalui untuk melihat pemandangan laut. Menyelusuri Dermaga ini kalian akan melihat pemandangan mewah berupa rumah apung yang berada di kanan kiri dermaga. Desainnya menarik, hampir mirip dengan rumah apung yang berada di Gorontalo, dan Pulau Cinta. Rumah Apung tersebut disewakan dengan harga dari yang termurah yaitu 1,5 Juta sampai 2,7 Juta permalam. Menurut info yang saya dapat yang 1,5 Juta bisa untuk 4 Orang dan 2,7 Juta untuk 10 orang.  Kalau Patungan serasa murah.

Rumah Apung yang di sewakan
Potret lebih dekat penginapan rumah apung 
Menyelusuri Dermaga berhujung kepada Gazebo santai dimana disambung dengan Dermaga yang terbuat dari Bambu. Dermaga yang Instagramable menurut saya. Untuk ke Dermaga itu ternyata bayar lagi sebesar Rp, 15.000 dan gratis Tolak Angin untuk anak2 satu buah. Padahal lebih baik Stiker Cirebon Waterland atau semacamnya yang bisa menimbulkan efek promosi dan tentunya meninggalkan kesan baik. Dermaga Bambu ini cukup panjang, mungkin sekitar 500 m-1 km. selama perjalanan menuju ujung dari dermaga bambu ini ada selter berupa bangku dari bambu. Diujung Dermaga berupa selter besar, mirip seperti gazebo yang mempunyai beberapa kursi untuk para pengunjung bersantai menikmati angin sepoi-sepoi, laut pantai utara dan sepertinya sunset disini lumayan cantik juga. Air laut yang terlihat di Pantai Utara sering kali berwarna coklat, tidak biru seperti halnya pantai-pantai di selatan Jawa. Hal ini dikarenakan di daerah Cirebon sendiriterdapat banyak muara sungai yang membawa endapan lumpur berwarna coklat dan akhirnya warna coklat dan endapannya menyebar ke laut pantai utara. Disini juga terdapat Jasa Penyewaan Kapal Laut oleh nelayan setempat dengan maksimal 10 orang dengan harga 10rb/orang.


Setelah puas menikmati pemandangan laut pantai utara Cirebon dan puas berkeliling Taman Ade Irma Suryani ini, saya bersama keluarga memutuskan untuk kembali pulang ke rumah Mbah. Semoga kapan2 ada kesempatan bisa menikmati senja disini, main air di waterland atau sekedar makan malam di Resto Kapalnya.

Taman untuk bermain bersama si kecil :)
Itinerary ke Cirebon Waterland ini :Parkir Mobil Rp. 8000
Tiket Masuk Rp. 65.000
Tiket Masuk Ke Dermaga Bambu Rp. 15.000
Total sekitar Rp. 88.000.

Monday, June 27, 2016

Bukit Watudodol, Spot Sunrise Dan Tempat Menikmati Panorama Laut Selat Bali Dari Ketinggian


Terlintas dalam pikiran “Kalau Amerika punya patung Liberty, Banyuwangi punya Patung Gandrung”. Setelah melihat Patung Gandrung dari Bukit Watudodol dengan latar berupa Laut Selat Bali seperti galnya patung Liberty di Muara Sungai Hudson, Newyork.

Bukit Watudodol, merupakan area Perhutani yang difungsikan sebagai tempat bersejarah karena terdapat Makam Syekh Maulana Ishaq dan Putri Sekardadu, yang merupakan makam dari tokoh penting dalam sejarah Kerajaan Blambangan (Banyuwangi). Bukit Watudodol habis berbenah, penebangan beberapa ranting pohon yang menghalangi pemandangan view laut di pangkas dan diberi semacam bangku dan meja untuk pengunjung menikmati panorama laut selat bali. Pembenahan tersebut kini membuat Bukit Watudodol ini ramai dikunjungi anak-anak muda yang sekedar ingin tahu, foto2 dan  yang ingin menikmati suasana matahari terbit dari bukit Watudodol ini.

Rute Menuju Ke Bukit Watudodol.
Cukup mudah, karena berada di jalan utama Banyuwangi-Situbondo jika berangkat dari kota Banyuwangi akan menempuh perjalanan sekitar 25-30 menit. Jadiuntuk menikmati Sunrise kira-kira setelah adzan Subuh langsung jalan. Rutenya dari Kota Banyuwangi ambil kearah pelabuhan Ketapang, lewati pelabuhan ketapang, lalu melewati Terminal Sri Tanjung, Pabrik Semen Bosowa dan jika melihat laut di sebelah kanan anda, akan telah sampai di area Watudodol. Pintu masuk Bukit Watudodol berada di hutan sebelum Patung Gandrung.

Setelah membayar tiket masuk seharga Rp.2.500 dan Parkir motor Rp. 2.000, kita akan berjalan menaiki bukit, jalannya cukup landai, sekitar 10 menit akan sampai Gardu Pandang, semacam tempat melihat pemandangan Pantung Gandrung Watudodol dan Panorama Selat Bali. Ternyata gardu pandang letaknya bersebelahan dengan Makam Syekh Maulana Ishaq dan Putri Sekardadu. Sekilas kisah yang saya baca di Papan Informasi, Ternyata Syekh Maulana Ishaq dan Putri Sekardadu adalah Orang Tua dari Sunan Giri. Mereka bertemu ketika itu saat Kerajaan Blambangan diserang penyakit aneh, dan Putri terkena penyakit tersebut dan tidak ada satu pun tabib yang bisa menyembuhkan saat itu hingga Syekh Maulana Ishaq datang dan berhasil menyembuhkan Putri Sekardadu. Lama kemudian mereka menikah.
Makam Syekh Maulana Ishaq dan PutriSekardadu
Jam 5, saya datang dengan keadaan Gardu Pandang masih gelap dan sepi, Tuhan mulai melukis-lukis langit pagi itu. Bangku-bangku masih kosong, duduk dan menikmati udara pagi dan angin laut yang sepoi-sepoi. Jika sedang tidak puasa, saya sudah bawa termosberisi air hangat dan seperangkat alat dan bahan pembuat Teh. Makin pagi, langit perlahan menerang, Gardu Pandang mulai ramai oleh pengunjung yang mencari tempat asik untuk menikmati pemandangan pagi. Saya memandangi patung gandrung dari atas sini sekilas terbayang patung Liberty di Amerika. Semisal Amerika punya Patung Liberty, Banyuwangi punya Patung Gandrung :D

Amerika punya Patung Liberty, Banyuwangi punya Patung Gandrung :)
Sunrisenya ^^
Akhirnya matahari muncul dari balik garis horizon laut dan langit. Suasana makin riuh, banyak yg sibuk berfoto-foto, yang tadinya menikmati dengan kalem pun juga sibuk berfoto begitu juga saya. Beginilah Banyuwangi dan Penduduknya yang gemar menikmati pagi. Saatnya kembali ke Kos-kosan, kembali tidur.

Dateng berduaan asik
dateng beramai-ramai juga boleh


Tips : Karena spot ini sedang Hits-hitsnya. Hindari hari libur, apalagi untuk kalian yang ingin menikmati suasananya.  Oia dan Jangan lupa Jaga kesopanan dan kebersihan karena area ini juga salah satu area yg dihormati dan di keramatkan :)
Thursday, May 5, 2016

Lokasi Menarik Menikmati Sunrise Di Banyuwangi Part 2


Sunrise van Java, julukan dari Kabupaten Banyuwangi yang terletak diujung timur pulau Jawa dank arena letaknya tersebut selalu menjadi yang pertama mengalami matahari terbit di Pulau Jawa. Tulisan ini merupakan Part 2 dari tulisan sebelumnya yang bisa kalian baca di sini (Spot Menikmati Sunrise di Banyuwangi Part I).

6. Savana Sadengan

Savana ini terletak di Taman Nasional Alas Purwo yang letaknya kurang lebih sekitar 2 jam dari Kota Banyuwangi. Savana ini merupakan padang rumput buatan yang dibuat sebagai habitat Banteng Jawa dan satwa lainnya seperti rusa, babi hutan, kancil, merak dan lainnya. Jika ingin menikmati sunrise disini, kalian bisa berangkat pagi buta atau menginap berkemah di bumi perkemahan TN Alas Purwo di Pantai Pancur. Selain mendapatkan Sunrise menawan, kalian bisa melihat aktivitas satwa banteng yang mencari makan di pagi hari.

7. Teluk Banyubiru

Sunrisenya begitu menawan, biasanya menikmati sunrise kesini pasti masih terombang-ambing dilautan. Sehingga matahari terlihat seolah-olah muncul dari lautan, namun jika makin masuk ke dalam teluk Banyubiru menuju ke pesisir, sunrise yang terlihat agak terhalang perbukitan Taman Nasional Alas Purwo. Sehabis menikmati sunrise dan sarapan barulah bisa menikmati keindahan bawah laut teluk Banyubiru yang mulai terkenal. Untuk ke Teluk Banyubiru tidak bisa dilakukan setiap saat tergantung keadaan Gelombang. Dari info yang saya dapat Jasa Angkutan Ke Teluk Banyubiru tutup mulai Bulan April- September.

8. Muncar

Muncar adalah pelabuhan yang saya bilang cukup besar, namun bukan pelabuhan kapal barang angkut, tapi kapal-kapal nelayan yang punya bentuk yang unik. Salah satunya Kapal Slerek dengan oranamen dan warna-warni yang berani (nanti akan saya bahas tentang kapal ini detail hehe). Sunrise disini juga matahari keluar dari laut. Sayangnya saat datang kesini langit bagian bawah agak berawan sehingga momen matahari muncul perlahan-lahan dari laut kurang terlihat. Namun sunrise di Muncar memang perlu kalian coba. Sekalian melihat aktivitas sibuk Pasar Ikan pagi-pagi dan uniknya kapal-kapal Slereknya J. Setelah menikmati sunrise, perjalanan bisa kalian lanjutkan ke Taman Nasional Alas Purwo yang agak dekat dari Muncar (1 jam perjalanan).

9. Pantai Bedil

Pantai letaknya agak tersembunyi di antara Pantai Pancer dan Pantai Wediireng. Perjalanan kesini pun hanya bisa ditempuh saat air laut surut saja, saat air laut pasang jalan menuju ke Pantai ini tertutup oleh sapuan ombak. Sunrise disini cukup menawan, panorama laut, pesisir pantai pulau merah, mustika dan pancer yang agak berwarna jingga saat senja menampilkan pemandangan yang tidak biasa. Kadang terlihat hiruk pikuk pagi nelayan pantai pancer yang hendak berlabuh membawa ikan hasil tangkapannya.

10. Pelabuhan Marina

Pelabuhan ini letaknya di sebelah utara persis pantai Boom, Pelabuhan masih dalam tahap pembangunan dan rencananya di pelabuhan inilah ada kapal cepat menuju Bali dan wacananya juga akan ada kapal langsung ke Pelabuhan Lembar, Lombok. Sekilas pemandangan yang terlihat sama seperti pemandangan di Pantai Boom yaitu pemandangan Pulau Bali. Beberapa hal yang berbeda di pelabuhan ini terdapat dua dermaga yang satu terdiri dari tumpukan batu dan yang satu lagi dermaga untuk bersandarnya kapal. Selain itu pemandangan menakjubkan bisa terlihat  di sebelah barat pelabuhan ini yaitu terlihat kesibukan keluar masuknya kapal nelayan dengan background gagahnya dua Gunung Marapi dan Ijen.



Sampai disini dulu Spot Menikmati Sunrise di Banyuwangi part ke-2nya. Untuk Part ke-3 ditunggu yak, masih mengumpulkan bahan, gambar dan waktu luang :D.
Selamat Menikmati Sunrise Van Java di Banyuwangi ^^ 
 
Tuesday, May 3, 2016

Menelusuri Lembah Mangunan, Imogiri, Bantul


Mangunan, terkenal dengan puncaknya yang menyajikan kabut syahdu layaknya hamparan awan yang bisa kita liat di puncak-puncak gunung namun hanya bisa dilihat pada musim penghujan dengan tips yang sudah pernah saya tulis sebelumnya (Baca : Tips melihat HamparanAwan di Kebun Buah Mangunan). Saat ini mulai memasuki Musim Kemarau, Mangunan juga tampak elok dengan pemandangan lembah yang menawan, pemandangan lekukan sungai Oyo berbentuk huruf S. Pemandangan suasana pedesaan yang asri dan jembatan gantung berwarna kuning, yang sering sekali terdengar suaranya ketika ada yang motor yang melintasinya. Saya pun tertarik turun untuk melihat lebih jauh dan lebih dekat seperti apa lembah mangunan.

Rute Menuju Lembah Mangunan

Saya berangkat agak siang sekitar jam 8 pagi menuju lembah Mangunan, diperjalanan saya sempatkan mampir makan dulu mengingat perut sudah minta jatah hehe. Saya berangkat dari Jogja dengan rute awal hampir sama dengan menuju Puncak Kebun Buah Mangunan. Rute menuju lembah  mangunan dari Jogja cukup mudah kok. Kota Jogja – Bangjo Terminal Giwangan – Lurus ke Jalan Raya Imogiri Timur – Ikuti Jalan Imogiri Timur – Mentok di pasar Imogiri ambil kiri melintasi pasar – pertigaan yang lurus ke makam raja-raja Imogiri kalian ambil kanan seperti halnya menuju ke kebun buah namun setelah itu sebelum jalan menanjak hutan-hutan ada pertigaan, kalian ambil kanan  lalu ikuti jalan besar tersebut sampai di pertigaan desa Banyusumurup ambil kanan, ikuti jalan tersebut sampai mentok pertigaan ambil kiri, ikuti jalan tersebut akan sampai di tepian sungai Oya.

Penting : mulai belok kanan di pertigaan sebelum jalan menanjak jangan malu bertanya  kepada warga setempat jika kalian bingung diperjalanan , karena jalan disini banyak persimpangan jalan desa. Jika bertanya coba tanya dengan kata kunci Jembatan Gantung Selopamioro, Dusun Wunut, Desa Sriharjo.
Perjalanan menyelusuri Lembah Mangunan
Pemandangan Lembah Mangunan
Perjalanan di jalan desa di lembah mangunan ini cukup asri, nyaman dengan suasana pedesaan yang saya bilang bisa merefresh otak yang mulai jenuh dengan keseharian, Sapalah warga yang kita temui diperjalanan, mampir sebentar jika mereka mempersilahkan mampir ngobrol di depan rumahnya. Rombongan anak sekolah berpakaian olahraga sehabis melakukan jalan sehat atau olahraga tertentu dan hendak menyebrang sungai kembali ke sekolahnya. Jika musim kemarau, debit sungai Oya agak berkurang jadi jika malas karena cukup jauh memutar melewati jembatah gantung yang merupakan jembatan satu-satunya disana. Lanjut menyelusuri lembah mangunan, sampailah dimana kita bisa melihat pemandangan bukit-bukit yang membentengi lembah mangunan dengan begitu gagah. Terlihat puncak mangunan dari jauh dan sekilas orang yang lagi foto-foto (kayaknya :p). Suasana asri selain lembahnya ketika melihat area persawahan berundak-undak menaiki bukit mangunan tersebut dan berhenti di Jembatan Gantung.

Jembatan Gantungnya
Memandikan Sapi
Sebelum melihat-lihat  dan bermain di sekitar sungai dan area jembatan gantung, parkirlah kendaraan anda di tempat yang disediakan secara rapih agar  tidak mengganggu jalur transportasi di desa tersebut. Jembatan gantung ini merupakan jembatan satu-satunya yang menghubungkan Desa Sri Harjo dengan Desa Selopamioro. Untuk bermain ditepian sungai, kita harus menyebrangi jembatan dulu karena di sisi sebrang terdapat endapan pasir sungai yang kering sehingga kita bisa bermain dengan leluasa. Saat saya datang kesana sekitar jam 10an, terdapat keluarga kecil (bapak-ibu dan anak yg baru pulang sekolah) sedang memandakan sapi mereka di sungai. Kehadiran saya untungnya tidak menganggu aktivitas mereka sampai diijinkan mengabadikan aktivitas mereka. Mungkin mereka adalah salah satu potret kehidupan di sekitar lembah mangunan.  Air sungai yang terlihat hijau bukan berarti kotor, hanya saja karakteristik sungai yang mengalir di daerah karst. Satu lagi karakteristik sungai daerah karst adalah adanya palung-palung sungai, jadi lebih baik hindari bermain air di sungai Oyo. Nikmati saja pemandangan dan suasananya dan jangan lupa sampah jajanan kalian di bawa pulang atau dibuang ketempat sampah yang ada.

Tertarik mengunjungi Lembah Mangunan kan :)

Lembah Mangunan dari Puncak Kebun Buah Mangunan


Friday, April 29, 2016

Air Terjun Pulosari, Tersembunyi Di Dasar Sebuah Jurang


Setelah kenyang menyantap Mie Ayam Tumini, saya membawa kendaraan saya menuju Bantul dengan tujuan ke Air Terjun Musiman Pulosari atau yang lebih dikenal dengan nama Curug Jurang Pulosari.

patung bagong desa Krebet
Dari Kota Jogja letaknya tidak terlalu jauh, hanya menempuh perjalanan selama paling cepat 45 menit sampai 1 jam dengan motor. Menuju kesini bisa dibilang cukup mudah karena sudah banyak petunjuk jalan yang membawa kalian sampai di Curug Pulosari. Rut eke Curug Pulosari dari Kota Jogja arahkan kendaraan anda ke Jalan Bantul – melewati Bangjo Ringroad Selatan – Bangjo Gapura Desa Wisata Keramik Kasongan ambil kanan memasuki desa tersebut – Ikuti jalan desa wisata kasongan tersebut jangan belok-belok sampai menemukan petunjuk jalan menuju desa wisata Krebet –Ikuti petunjuk jalan menuju desa Wisata Krebet dan kita akan melintasi jalan sedikit agak naik dan berkelok-kelok dengan kanan kiri berupa hutan jati. Jika kalian melihat patung Bagong besar kalian sampai di Desa Wisata Krebet – Liat petunjuk jalan berupa Peta yang ada di sekitar patung tersebut akan mengarahkan anda ke Curug Pulosari. Jika ragu diperjalanan jangan sungkan bertanya pada warga setempat ya :D

Peta petunjuk jalan menuju curug Pulosari di Desa Krebet
Dari lokasi parkir kita tinggal berjalan kaki menyelusuri jarang setapak yang sudah disediakan. Sesuai dengan namanya Jurang Pulosari, air terjun ini letaknya di bawah jurang. Jalan untuk sampai ke bawah jurang tersebut sudah dibuat ramah pengunjung, jadi tidak berbahaya mengajak anak2 untuk berkunjung kesini. Perjalanan dari lokasi parkir menuju air terjun Pulosari cukup seru, menuruni sebuah jurang, menyelusuri hutan jati, menyebrangi sungai dan akhirnya bisa sampai di Air Terjun Pulosari.
kondisi jalan dari parkiran menuju jurang pulosari
Melintasi sungai kecil
Air Terjun Pulosari
Air terjun ini tidak terlalu tinggi, mungkin ketinggiannya berkisar sekitar 5-7 meter saja, namun yang menarik yaitu cara air jatuhnya seperti membentuk tirai-tirai putih yang cukup cantik dan dibawahnya terdapat kolam yang bisa digunakan untuk berenang bermain air. Hari itu cukup ramai, banyak muda-mudi yang sedang berenang-renang, berfoto bersama bahkan ada yang bertapa di bawah air terjunnya, beberapa ada yang mojok dibawah rimbunan pohon-pohon jati. Poin pentingnya : Jika anda berkunjung di hari libur atau di musim kemarau jangan bayangkan bisa mendapatkan foto kece yang biasa diliat di Instagram :p, karena beberapa teman pernah kecewa karenanya. Musim kemarau debit air sedikit dan saat hari libur pasti ramai pengunjung.
cukup ramai hehe :)
alau dikelola warga setempat, fasilitas air terjun ini cukup lengkap. Ada ruang bilas atau ruang ganti baju, ada warung penjaja makanan, lokasi parkir yang luas dan aman, bahkan ada penyewaan ban untuk kalian yang tidak bisa berenang. Jika kalian ingin menginap dan menikmati lebih jauh jurang pulosari ini berikut suasana desa wisata krebet ini bisa menginap di homestay desa wisata krebet yang sudah disediakan. Mumpung belum memasuki musim kemarau yuk kunjungi air terjun ini J
Friday, April 15, 2016

Seharian Menjelajahi Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi


Alas Purwo, sekilas mendengar namanya saja beberapa orang sudah membayangkan kejadian-kejadian ganjil, mengingat banyak yang menyebutkan Alas Purwo merupakan hutan angker di Jawa. Namun ternyata tidak seseram yang ditakutkan orang-orang, Alas Purwo menyimpan banyak potensi wisata, keanekaragaman hayati yang tinggi, dan bisa menjumpai satwa-satwa langka.

Rute menuju Alas Purwo
Jalan  Hutan menuju Alas Purwo , lagi musim kupu-kupu
Alas Purwo merupakan salah satu dari dua Taman Nasional yang ada di Banyuwangi. Letaknya di bagian selatan Banyuwangi, mulai dari pucuk paling timur sebelah selatan pulau Jawa hingga ke muara sungai Segoro Anak. Rute menuju Taman Nasional Alas Purwo cukup mudah dan dapat ditempuh dalam waktu 2 jam saja. Rutenya dari Kota Banyuwangi ambil jalan kea rah Jember melewati kota Rogojampi dan sampai di pertigaan lampu merah Srono. Ambil kiri ikuti jalan tersebut sampai menemukan perempatan lampu lalu lintas dan ambil kanan. Ikuti jalan tersebut dan dari sini anda tinggal mengikuti papan petunjuk jalan yang mengarahkan anda ke Taman Nasional Alas Purwo. Karena jalan cukup mirip, jika ragu-ragu saat perjalanan jangan sungkan bertanya kepada warga setempat. Jika sudah menemukan kantor seksi wilayah TN Alas Purwo di desa Kalipait perjalanan untuk sampai ke gerbang pintu masuk Alas Purwo tinggal 20 menit lagi kok :).

Burung Merak dipinggir jalan
Setelah melewati kantor seksi wilayah tersebut, kita akan melewati hutan jati dan jalan berubah agak rusak sekitar 7 km. Namun jalan tidak rusak seluruhnya, ada jalan yang aspalnya masih bagus. Hutan yang dilewati adalah hutan Jati, jika memasuki musim kemarau pemandangannya cukup bagus karena hutan jati sedang menggugurkan daunnya, jika memasuki musim penghujan biasanya banyak kupu-kupu dan belalang berterbangan di sekitar jalan. Jika beruntung kalian bisa bertemu satwa yang melintas seperti Burung Merak. Sesampainya di Pintu Gerbang Alas Purwo kita hanya tinggal membayar sebesar Rp.5000,- untuk hari biasa dan Rp. 7500 untuk hari libur per orang.

Seharian Menjalajahi Taman Nasional Alas Purwo
Berangkatlah pagi hari dari kota Banyuwangi, jangan lupa sarapan dan bawa bekal secukupnya karena di Alas Purwo hanya ada 2 warung makan yaitu di Pancur dan Kantin Pos Rowobendo. Di Kantin tersebut juga menjual bensin eceran jenis Premium.

Inilah beberapa hal yang bisa kalian lakukan di Taman Nasional Alas Purwo :
1. Selfie di Pintu Gerbang Alas Purwo dan Lorong Hutan
Gerbang Selamat Datang di Alas Purwo
Jangan lupa untuk berfoto di gerbang ini. gerbang ini letaknya sebelum penarikan karcis masuk Alas Purwo. Gerbang ini merupakan landmarknya Taman Nasional Alas Purwo, jadi dengan berfoto disini kalian berarti telah sampai dan pernah ke Taman Nasional Alas Purwo. Lorong Hutannya terletak setelah pos penarikan karcis masuk, kalian bisa menepikan kendaraan sejenak lalu berfoto-foto. sebelum berfoto-foto jangan lupa liat keadaan dulu jalan dulu, takutnya ada mobil ngebut melintas.
lorong hutannya
2. Mampir sebentar ke Pura Giri Salaka dan Situs Kawitan

situs kawitan
Perjalanan melintasi lorong hutan, makin masuk ke hutan Alas Purwo kita akan melihat 2 Pura yaitu Pura Giri Salaka dan Situs Kawitan yang ada di kiri jalan. Kita bisa mampir sebentar melihat-lihat suasajna di sekitar Pura dan Situs ini. Menurut sumber yang saya baca, dulu pura ini ditemukan hanyalah gundukan batu bata, namun setelah terbukti bahwa ini merupakan tempat ibadah akhirnya dibangun kembali sebagai tempat ibadah umat hindu baik yang ada warga sekitar bahkan umat hindu dari Bali.

3. Melihat Kehidupan Alam Liar di Savana Sadengan

Banteng (Bos javanicus)
Sadengan merupakan savanna semi alami yang dibuat sebagai habitat satwa-satwa yang ada di Alas Purwo khususnya Banteng (Bos javanicus) yang keberadaannya juga sudah terancam punah. Selain dapat menemukan banteng yang hidup di alam liar, kalian bisa menemukan satwa lainnya seperti rusa, burung merak, bangau tong tong bahkan Ajag (sejenis anjing hutan) yang sedang berburu anak banteng atau rusa, jika beruntung. Desain Sadengan juga cukup unik dan asik untuk kalian yang hobi selfie. Berasa bukan di Jawa :).  
Suasana Berbeda di Savana Sadengan
4. Penangkaran Penyu di Ngagelan

bak penangkaran penyu
Sepanjang garis pantai Alas Purwo merupakan salah satu tempat pendaratan dan penyu bertelur. Ada 4 jenis penyu yang mendarat dan bertelur di Alas Purwo yaitu Penyu Abu-abu, Penyu Belimbing, Penyu Hijau, dan Penyu Sisik. Mengunjungi Ngagelan kalian bisa belajar mengenai siklus hidup penyu dan pengetahuan tentang cara penangkaran penyu. Kita juga bisa bertemu anak penyu atau Tukik di kolam penangkarannya :)

5. Bersantai di Pantai Triangulasi
Pantai Triangulasi saat surut
Pantai yang cukup teduh,banyak pohon-pohon pantaiseperti keben yang tajuknya tebal dan lebar untuk berteduh dibawahnya. Pantai ini kadang digunakan untuk acara-acara komunitas karena memiliki lapangan yang cukup luas untuk berkumpul. Keberadaan pohon yang teduh juga membuat beberapa pengunjung mengelar tikar dan menyantap makanan yang mereka bawah sendiri dari rumah sambil menikmati suasana pantai selatan. Jika air laut surut keadaannya surut cukup jauh sehingga bisa digunakan untuk bermain voli pantai, bola dan lain-lainnya dan katanya pantai ini salah satu spot menikmati senja di Alas Purwo.

6. Menikmati Sore di Pantai Pancur

Pantai Pancur
Dari Pantai Triangulasi ke Pantai Pancur menemuh perjalanan sekitar 15 menit dengan jalan batu-batu kecil. Disebut pancur kemungkinaj di karenakan adanya sumber air di tepi pantai yang berbentuk seperti pancuran dan mengalir ke bibir pantai. Pantai Pancur ini berpasir putih dan cukup indah dinikmati. Jalan sedikit kearah timur kalian akan sampai di pantai yang banyak batu karangnya yaitu pantai Parangireng. Keberadaan karang berwarna hitam cukup unik dan mencolok mata karena tebing di sekitar pantai berwarna putih. Karena hari sudah sore saya memutuskan untuk melihat senja di Pantai Pancur. Tempat terindah yang saya temukan untuk menikmati senja di pantai Pancur yaitu di atas tebing dekat pondok pengamatan Hilal. Matahari yang perlahan-lahan turun di laut sangat eksotis apalagi diikuti dengan perubahan warna biru ke jingga dan perlahan-lahan menjadi gelap.

Pantai Parangireng, Alas Purwo
Kita Merayakan Senja :D

Endingnya

Hari mulai gelap, saya pun memutuskan untuk pulang melintasi hutan alas purwo kembali menuju kota Banyuwangi. Ternyata Berkunjung ke Alas Purwo sehari itu tidaklah cukup. Jika kalian punya cukup banyak waktu kalian bisa bermalam di Bumi Perkemahan Pancur yang ada di dekat Pos Jaga Kantor Resort Pancur. Sebelum berkemah laporlah kepada petugas jaga. Berkemah semalam dan keesokan paginya bisa mampir ke Plengkung dan bisa melihat Goa-goa yang ada di sekitar Pancur.