Showing posts with label wisata budaya. Show all posts
Showing posts with label wisata budaya. Show all posts
Monday, November 23, 2015

Saparan Bekakak, Ambarketawang - Tradisi Budaya Unik Jogja Di Bulan Sapar

Salah satu Ogoh-Ogoh Unik
Yogyakarta memang punya kebudayaan yang unik, apalagi budaya unik dari Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta saat bulan Sapar (pada tanggalan Jawa) terdapat tradisi Budaya Saparan Bekakak dimana akan terdapat banyak Ogoh-ogoh dalam berbagai bentuk dari yang berbentuk hewan sampai berbentuk Hantu Kalong Wewe ada juga Hantu Gondoruwo :D

Sepasang Bekakak (Pengantin) dari Beras Ketan
Cerita terjadinya tradisi Saparan Bekakak ini berawal keinginan Abdi Dalem kesayangan dari Sri Sultan HB I yaitu bernama Kyai Wirasuta dan Nyi Wirasuta yang merupakan pasangan Suami-Istri hendak membangun sebuah Kraton di tempat Kerajaan dan Kediaman Sultan. Selama masa pembangunan kraton, Sultan tinggal sementara di sebuah Pesanggrahan daerah Ambarketawang, Gamping.  Setelah pembangunan selesai dan Sri Sultan hendak pindah ke Kraton namun kedua abdi dalem Kyai Wirasuta dan Nyi Wirasuta memilih menetap di bekas Pesanggrahan Sultan tersebut. Namun pada bulan Sapar tepatnya hari Jum’at Kliwon terjadi bencana berupa runtuhnya Gunung Gamping yang menewaskan kedua abdi dalem tersebut  dan anehnya jasad keduanya tidak dapat ditemukan. Setelah kejadian itu setiap bulan Sapar terjadi bencana serupa dan akhirnya Sri Sultan bertitah kepada masyarakat Ambarketawang untuk melakukan tradisi selamatan dengan menyembeli sepasang Bekakak (Pengantin) dengan bahan dari beras ketan. Tradisi Penyembelihan tersebut dimaksud agar tidak korban bencana Gunung Gamping yang serupa. Pada versi lain menyebutkan tradisi penyembelihan Bekakak ini juga sebagai Tipu muslihat untuk menipu Setan-setan dan hawa jahat yang ada di Gunung Gamping agar tidak meminta korban lagi.
Ogoh-ogoh dan anaknya Ogoh2

Walau seiring jalannya waktu masyarakat masih tetap menjaga tradisi tersebut hingga saat ini masih tetap diselenggarakan pada hari Jum’at Kliwon Bulan Sapar di setiap tahunnya. Tradisini ini dilaksanakan sehabis solat Jumat, biasanya jam 2 siang dengan titik Start dari Lapangan Desa Ambarketawang.  Dilapangan tersebut akan  Ogoh-ogoh dari beberapa dusun di Desa Ambarketawang telah hadir. Kehadiran Ogoh-ogoh dianggap sebagai pengganti setan-setan yang menghuni Gunung Gamping yang kerap kali mengganggu manusia.  Acara dimulai dengan melakukan arak-arakan Bekakak beserta Ogoh-ogoh keliling Desa Ambarketawang dan setelahnya dilakukan penyembelihan di dua tempat berbeda yaitu di cagar alam Gunung Gamping dan di depan Kampus Stikes, Ring Road Barat. Dua tempat inilah dulunya terdapat Gunung Gamping yang meresahkan tersebut.

Pawai memutari Desa Ambarketawang
Acara berlangsung cukup meriah, karena ada kehadiran ogoh-ogoh. Tradisi ini terlihat beda dari yang lain. Karena itu, tidak hanya dari warga Ambarketawang saja bahkan sempet bertemu warga dari "Negeri Tetangga" Solo. Lebih baik datang jam 1 untuk bisa dapat tempat enak untuk menikmati tradisinya juga bisa foto-foto dengan peserta pawai dan Ogoh-ogohnya di Lapangan Kelurahan Ambarketawang. Jika datang telat, jalanan sudah ditutup dan kita tidak bisa masuk karena saking rapat dan banyaknya warga yang menyaksikan tradisi Saparan Bekakak ini


Untuk melihat acara ini gratis kok, kita tinggal datang ke hari Tradisinya yang dimulai di Lapangan Kelurahan Ambarketawang, Gamping yang letaknya sebelah barat dari pasar Buah Gamping serta berakhir di Cagar Alam Gunung Gamping dan di Depan Kampus Stikes Ring Road untuk melakukan Penyembelihan Bekakak. Dari Tugu kita tinggal ke arah barat melewati jalan Godean sampai perempatan ringroad barat Demak Ijo. Ambil kiri menuju arah selatan sampai bertemu perempatan lampu merah jalan Wates. ambil ke kanan lalu bertemu pertigaan lampu lalu lintas ambil lurus melewati pasar Gamping sampai bertemu perempatan yang ada Indomaret kiri jalan, ambil ke kanan.

Upacara puncak yaitu penyembelihan Bekakak sifatnya agak keras, jika kalian orang tua yang mengajak anaknya melihat tradisi ini untu mengingatkan untuk tidak menirunya dirumah. Untuk tahun 2015 ini akan diadakan hari Jum’at, 27 November 2015.

Mahasiswi kampus stikes yang ikut berebut Gunungan :D


Selamat menikmati Tradisi Budaya Yogyakarta.


Sunday, October 18, 2015

Thailand kecil di Kuil Dewa 4 Wajah, Surabaya


Surabaya mulai mengusik perhatian saya, setelah diberi seoprang teman brosur “Sparkling Surabaya” yang berisi wisata kota Surabaya yang menarik perhatian. Salah satunya adalah Patung Dewa Empat Wajah dengan pagoda emas sukses menghipnotislayaknya pergi ke Negara Thailand :)

Peta rute ke Kuil Dewa 4 Wajah dari Kota Surabaya
gapura masuk kenpark
Sore itu saya diantar salah seorang teman yang ada di Surabaya menuju Patung Dewa Empat Wajah yang letaknya berada di Kenpark atau dikenal juga dengan Pantai Ria Kenjeran atau Pantai Kenjeran Baru, Sebuah kawasan di pinggir pantai Kenjeran yang rencananya dibangun sebuah taman untuk hiburan warga Surabaya. Menuju ketempat ini dari pusat kota Surabaya cukup mudah, anda tinggal menuju jalan Kenjeran, dan Kenpark berada di ujung timur jalan Kenjeran tersebut. Setelah sampai di Kenpark, kita akan ditarik biaya sebesar 10 ribu untuk motor, kalau mobil mungkin lebih mahal. Setelah membayar tiket masuk kita tinggal menuju Patung Dewa 4 Wajah tersebut. Sayangnya Kenpark tidak menyediakan papan petunjuk yang memudahkan pengunjungnya, jadi kita harus mandiri bertanya-tanya pada orang yang ada di dalam kenpark.

dilihat dari bawah
Ganesha pada dewa Hindu
Patung Dewa 4 Wajah ini merupakan tempat ibadah umat Budha yang ada di Kenpark. Patung tersebut mirip dengan patung Phra Phrom (Four Faced Buddha) di Kuil Erawan, Bangkok, Thailand sehingga saya serasa terhipnotis berada di Thailand saat itu. Menurut info yang saya dapat patung itu merupakan patung Dewa Brahma dengan 4 wajah yang menghadap ke seluruh penjuru mata angin, dan melambangkan 4 sifat baik sang Buddha, yaitu welas asih, murah hati, adil, dan meditasi. Patung ini mempunyai 8 tangan yang melambangkan kehadiran dan kekuatan Sang Buddha. Salah satu dari tangan kanan memegang dada, sedangkan di 3 tangan kanan yang lain memegang cupu berisi air suci, tongkat kebesaran dan cakram (sejenis senjata berbentuk piringan). Air suci merupakan perlambang energi penciptaan semesta. Adapun tangan kiri patung terlihat sedang memegang tasbih, teratai, kitab suci dan kerang. Teratai merupakan lambang kekuatan yang memunculkan alam semesta.  Uniknya disini juga terdapat 4 patung Gajah yang ditempatkan di 4 penjuru mata angin, dan juga terdapat juga patung Dewa Ganesha yang merupakan dewa dalam agama Hindu.

Sampai matahari mulai merendah, kami masih terpaku dan menikmati seisi taman di tempat peribadahan. Ketika itu juga patung Dewa Empat Wajah beserta Pagodanya diterpa matahari dan menampakan warna keemasan. Bayangan patung dewa jatuh dengan indahnya di beranda tempat peribadahan ini. Subhanallah, sebuah pemandangan sore di Surabaya yang mengesankan :)

suasana sore di Kuil Dewa 4 Wajah
Jika Rezeki ke Thailandmu belum datang kenapa tidak coba mengunjungi tempat ini. Jika kamu beragama Budha bisa sekalian beribadah, dan yang beragama lain kita bisa menikmati suasananya tanpa mengganggu dan mengotori kasawan tempat Peribadahan tersebut.


Tuesday, February 10, 2015

Menikmati suasana Dinner Gazebo Garden Resto dan Pertunjukan Ramayana Ballet Purawisata, Jogja


Suatu kebanggaan tersendiri, menyaksikan mahakarya dari para penari Ramayana Ballet yang berkomitmen menari tanpa libur sejak tahun 1976. Walau penonton hanya sedikit, walau cuaca seperti hujan, angin kencang sedang melanda, hal tersebut tidak menghentikan mereka menari. Purawisata, disana para penari tersebut berkarya setiap hari, setiap waktu.

Purawisata terletak sangat strategis di pusat kota Yogyakarta, berada di Jalan Brigjen Katamso , tepatnya di selatan pusat perbelanjaan elektronik Jogjatronik,  tidak jauh dari Malioboro, Kraton Yogyakarta, Taman Sari, Alun-Alun Selatan, Bahkan jika kita kembali dari Pantai Parangtritis menuju kota Jogja melewati Purawisata ini. Bagaimana tidak tertarik untuk mengunjungi Purawisata, selain adanya Pertunjukan Ramayana Ballet yang tidak pernah libur selama sekian tahun, Purawisata mempunyai lokasi Dinner (makan malam) bernama Gazebo Garden Resto. Gazebo Garden Resto ini mempunyai yang Cozy berbangunan Jawa Klasik. Pasti berkesan jika mengajak Sahabat, keluarga bahkan Pacar makan malam disini.

Menuju Purawisata cukup mudah loh, jika kita dari Malioboro kita tinggal menuju perempatan Km 0 Yogyakarta (yang ada Benteng dan kantor pos) ambil Kiri, ikuti jalan tersebut sampai di perempatan lampu merah pertama, lalu ambil kanan. Ikuti jalan tersebut nanti setelah melewati Jogjatronik (kanan jalan) kita sampai di Purawisata. Bisa juga anda menggunakan fasilitas angkutan umum TransJogja nanti bisa turun di halte Jogjatronik dan jalan kaki sebentar menuju Purawisata.

gedung utama Gazebo Garden Resto

Sabtu Malam di bulan Januari, Hujan tidak menghalangkan rencana saya dan sahabat saya berangkat ke Purawisata. Sesampainya di lokasi parkir Purawisata, bunyi seperangkat alat musik jawa dan hujan menjatu jadi satu, semacam musik penyambutan selamat datang buat kami. Terkesan ketika kami memasuki kawasan Gazebo Garden Resto ini. Arsitektur dan bernuansa jawa klasik, landskap tamannya pun juga indah. Beberapa tamu sedang sibuk memilih makanan yang telah disediakan, sebagian lagi sudah mulai menikmati dan menyantapnya. Makanan yang dihidangkan secara prasmanan dengan menu makanan tradisional Indonesia dan Internasional. Istimewa rasanya, menyantap hidangan yang kami pilih sambil diiringan musik seperangkat gamelan jawa dan tarian jawa klasik. Pengunjung diperbolehkan jika ingin berfoto bareng dengan musisi pemain gamelan maupun penari tari klasik tersebut.


tari klasik

sedang merias
Tak terasa terlalu nyaman menikmati makanan dan suasana Gazebo Garden Resto, waktu menunjukan 20.00 waktu bagian setempat, saatnya pertunjukan Ramayana Ballet. Ramayana Ballet yang sudah pentas sejak tahun 1976 tanpa libur. Sambil menunggu pentas dimulai, pengunjung bisa melihat para penari pentas Ramayana Ballet melakukan persiapan dan merias wajah mereka menjadi karakter dalam cerita. Persiapan merias dimulai sekitar jam 7 malam, pengunjung tinggal datang ke tempat pertunjukan dan menghubungi petugas yang ada disana. Di sini tiap pemain harus merias dirinya sendiri, anak-anak kecil pun begitu, orang tuanya hanya mendampingi saja. Sayangnya tempat rias pemain wanita berbeda dengan laki-laki dan anak-anak, tapi jika kalian wanita sih sepertinya bisa liat para pemain wanita sedang berias :D

salah satu adegan yang ada di ramayana ballet

efek lampu salah satu adegan wafatnya tokoh dalam ceerita ramayana
Musik pengiring tari Ramayana Ballet sudah berbunyi, saya bergegas duduk di posisi yang enak buat menikmati, buat foto juga :D. Namanya juga Tari Ramayana Ballet mengisahkan cerita kisah Ramayana dengan lengkapnya. Cerita tentang kisah kasih Rama dan Shinta, lalu Shinta dibawa oleh Rahwana, merebut kembali Shinta. Pengunjung dibawa memahami cerita Ramayana tanpa suara hanya dari gerakan-gerakan tari. Disini juga disediakan gratis beberapa leafleat tentang cerita singkat kisah Ramayana dalam berbagai bahasa buat pengunjung yang membutuhkannya sehingga lebih mudah memahami kisah Ramayana tersebut. Yang membuat saya terkesan yaitu efek lampunya, saat tokoh dari kisah Ramayana wafat atau tewas, suasana panggung menjadi biru seolah-olah arwahnya tercabut dan pergi ke akhirat, bikin merinding terkagum-kagum pokoknya :)

Yuk silakan diKunjungi sendiri dan rasakan sensasi yang saya rasakan saat berkunjung ke Gazebo dan Pertunjukan di Purawisata, Yogyakarta. Sayang kalo sering ke Jogja tapi ga nyoba kemari :)

Wednesday, February 19, 2014

Klenteng Hok Tek Bio, Pasar Baru - Klenteng Tua Yang Terlupakan


Di tengah perkembangan kota Jakarta yang pesat, Kawasan Pasar Baru pun terus tumbuh menjadi salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Selain itu, kawasan Pasar Baru ini merupakan salah satu kawasan tempat tinggal etnis Tiong Hoa di Jakarta yang sudah ada sejak jaman Belanda. Salah satu bukti, masih ada sisa-sisa arsitektur rumah jaman dahulu seperti atap, atau hiasan/ukiran di tembok rumah.  Namun sayangnya rumah-rumah tertutup bangunan toko-toko modern yang berdiri sejajar sepanjang jalan utama Pasar Baru. Di suatu gang yang sempit, terdapat Klenteng yang menjadi sudah menjadi saksi bisu perkembangan kawasan Pasar Baru lebih dari 300 tahun yang lalu, Hok Tek Bio namanya.

Untuk mencapai klenteng ini cukup mudah, kita bisa menggunakan kendaraan pribadi langsung menuju kawasan Pasar Baru, atau bisa menggunakan Busway TransJakarta dan Kereta. Jika menggunakan kereta, anda bisa turun di Stasiun Juanda, lalu dari stasiun tinggal berjalan kaki sekitar kurang dari 1 km akan sampai di depan gapura masuk kawasan Pasar Baru. Jika naik Transjakarta, bisa melalui rute trayek PGC-Harmoni transit di Juanda lalu ke Pasar Baru dan dari Harmoni-PGC tak perlu transit di Juanda.

Sesampainya di kawasan Pasar Baru, kita akan melihat gapura besar dan tinggi bergaya etnik Tiong Hoa, terukir tulisan “Pasar Baroe 1820” yang menandakan bahwa kawasan ini mulai berdiri pada tahun 1820. Melewati gapura, kita bisa melihat banyak toko-toko modern berdiri. Dari toko elektronik, toko pakaian, kain, kuliner dan lain-lain. Semakin memasuki kedalam, anda akan melihat plang petunjuk kecil menuju yayasan Vihara Dharma Jaya (Sin Tek Bio) nama lain dari Klenteng yang kita tuju. Plang petunjuk tersebut membawa kita melewati gang sempit yang hanya muat untuk 1-2 orang saja.

Tertulis jelas di tembok gang sempit yang kita lewati, kalau Klenteng ini berdiri sejak tahun 1698. Karena saya berkunjung tahun 2014 jadi umur klenteng ini kurang lebih adalah 316 tahun. Klenteng ini ada 3 tingkat namun digunakan tempat ibadah hanya sampai tingkat tida saja. Di dalam klenteng ini terdapat ratusan dewa yang berasal dari abad ke-17 dan abad ke-20 dengan 14 altar di ruang utama dan 14 altar di ruang atas. Dan yang menarik disini adanya altar-altar tokoh lokal seperti Mbah Raden, yang altarnya berisi peralatan tempat tidur seperti kasur, bantal guling mini, cangkir-cangkir teh. Menurut sumber yang saya baca enempatan altar tokoh lokal adalah suatu penghormatan para pendatang dari Tiongkok kepada wilayah dimana mereka tinggal. Altar ini merupakan bentuk akulturasi kepercayaan pendatang dan kepercayaan lokal.

suasana dalam klenteng
suasana dalam klenteng

Klenteng ini dibuka untuk siapa saja baik yang ingin beribadah atau sekedar wisata seperti saya. Kita tidak ditarik biaya masuk, hanya saja berkunjung ke klenteng ini harap berlaku sopan karena merupakan tempat ibadah. Ada baiknya saat berkunjung ke sini, berbicara dahulu meminta ijin kepada petugas yang ada di klenteng ini.



nb : berkunjung kesini kita bisa sekalian kuliner terkenal di lokasi dekat sini,, tunggi tulisan berikutnya ya J
Friday, January 24, 2014

Berziarah ke Makam Sultan Hassanudin dan Raja-Raja Gowa

Kota Makassar, kota yang menyimpan banyak sejarah, salah satu yang terkenal adalah kisah Sultan Hassanudin dari kerajaan Gowa yang berjuang gigih mengusir penjajah dari Nusantara ini. Dalam kunjungan singkat di kota Makassar saya menyempatkan diri berziarah ke makam beliau. Mengirimkan doa dan sekaligus mengenang jasa-jasa Sultan Hassanudin.

Makam Sultan Hassanudin berada di komplek pemakamam raja-raja Gowa yang letaknya di Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Lokasinya sangat mudah dijangkau baik dengan kendaraan pribadi/sewa atau naik Pete-Pete (nama angkutan umum di Makassar). Sebelum berziarah, terlebih dahulu saya mengunjungi Istana Kerajaan Gowa karena letaknya searah dengan makam Sultan Hassanudin.  Dari Kota Makassar (dekat Tugu Mandala) saya naik pete-pete warna merah yang menuju arah jalan Sultan Hassanudin Kabupaten Gowa, nanti setelah memasuki jalan akan terlihat papan petunjuk jalan dan jalan masuk menuju Makam Sultan Hassanudin. Dari jalan masuk tersebut kita bisa jalan kaki sekitar 2-3 km atau naik bentor (becak motor) yang mangkal di pinggir jalan. Perjalanan dari Kota Makassar ke makam raja-raja Gowa cukup singkat hanya sekitar 20 menit - 30 menit saja

patung sultan Hassanudin
Akhirnya sampai di depan komplek makam raja-raja Gowa. Tempatnya terlihat sepi, namun terawatt dan mempunyai taman yang cukup rapi. Saat memasuki gerbang masuk makam raja berbentuk seperti rumah kecil. Di Tengah ruangan tersebut akan terlihat sebuah patung Sultan Hassanudin yang terlihat gagah dengan pakaian kebesarannya. Di dinding kiri-kanan gerbang masuk tersebut tertulis silsilah kerajaan serta kisah singkat raja-raja Gowa yang dimakamkan termasuk sultan Hassanudin.

Sultan Hasanuddin merupakan putera kedua dari Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke -15. Pahlawan nasional yang bernama asli I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe lahir di Makassar 12 Januari 1631 dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670. Setelah memeluk agama Islam, raja Gowa ke-16 ini mendapat tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, yang kemudian dikenal dengan Sultan Hasanuddin (wikipedia.com).

Saya beruntung saat saya berkunjung kesana, sedang ada satu keluarga yang berziarah mendoakan para pejuang yang telah lama gugur, saya bisa ikut berdoa bersama. Dengan khusuknya lantunan doa-doa diucapkan sampai diakhiri dengan mengucapkan kalimat “Amin”.  Jasamu selalu dikenang pahlawan!!





Niatnya sehabis berziarah ketempat ini, saya berniat menuju masjid Katangka, yang katanya masjid tertua disana. Sayangnya saat bertanya penduduk setempat, banyak yang tidak tahu dimana letaknya. Semoga next time bisa kesana J
Sunday, January 5, 2014

Rangkaian Prosesi Adat Perayaan Maulud di Jogja

Yogyakarta mempunyai tradisi budaya yang unik dalam memperingati Hari Lahir Nabi Muhammad SAW atau Maulud (maulid) Nabi, yaitu Perayaan Sekaten. Perayaan Sekaten ini rutin diadakan sejak tahun 1960-an bertempat di Alun-alun Utara pada bulan Maulud, bulan ketiga pada kalender Jawa. Memilih datang ke Jogja bertepatan dengan perayaan Sekaten ini merupakan pilihan yang tepat. Kita bisa menik mati suasana Pasar Malam yang dibuka sejak bulan Sapar (Kalender Jawa) yang dimeriahkan dengan beberapa wahana permainan lokal seperti Ombak Banyu, Bianglala, Komedi Putar, Rumah Hantu, tong Setan dan permainan lainnya. Selain itu,  ada prosesi inti Perayaan Sekaten yang bisa kita saksikan selama perayaan ini.

Miyos Gongso


Prosesi Miyos Gongso itu mengeluarkan dua perangkat Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogowilogo dari Kraton menuju Mesjid Gede Kauman.  Dua Gamelan ini dibawa oleh para prajurit dan abdi dalem dari Keraton melalui Siti Hinggil, melewati Alun-alun Utara lalu menuju Mesjid Gede Kauman.  Dua Gamelan ini tidak diletakan bersama, namun Gamelan Kyai Guntur Madu diletakan di  bagian Kidul (Selatan) dan Kyai Nogowilogo diletakan di bagian Lor (Utara). Dengan dikeluarkannya dua gamelan ini sekaligus sebagai penanda dimulainya Sekaten.
Acara ini biasanya mulai menjelang tengah malam sekitar pukul 23.00 WIB. Jika ingin menyaksikan prosesi ini sebaiknya datang lebih awal sekalian menikmati suasana pasar malam dan mencoba wahana permainan yang ada :D
Prosesi Miyos Gongso ini digelar pada tanggal 5 Maulud atau pada saat ini bertepatan dengan tanggal  7 Januari 2014

Numplak Wajik


Prosesi pembuatan Wajik (makanan khas yang terbuat dari beras ketan dengan gula kelapa) untuk mengawali pembuatan pareden yang digunakan dalam upacara Garebeg Maulud yang merupakan acara puncak nantinya. Prosesi ini diadakan sore hari di Pawon Ageng di halaman bangsal Kemagangan Kidul (selatan) dan harus disaksikan oleh salah seorang saudara Sri Sultan yang menjadi pembesar (pengageng) Kraton Yogyakarta. Uniknya pada prosesi ini diiringi dengan musik ansambel lesung-alu (alat penumbuk padi), kenthongan, dan alat musik kayu lainnya. Setelah Prosesi ini selesai, akan dilanjutkan dengan pembuatan pareden.
Jika ingin menyaksikan acara ini, ada bisa datang ke bangsal Kemagangan Kidul yang letaknya di selatan Keraton Yogyakarta, atau sebelah timurnya Komplek Tamansari. Prosesi ini akan dilaksanakan pada tanggal 11 Januari 2014

Kondur Gongso
merupakan kebalikan dari prosesi Miyos Gongso, dua perangkat Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogowilogo dikembalikan/pulang kembali ke Kraton setelah ditabuh selama 7 hari di Mesjid Gede Kauman. Ada yang unik dari prosesi ini yaitu akan ada “Sebar Udhik-Udhik” yang dilakukan oleh Raja Kraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono. Udhik-Udhik terdiri dari beras kuning, uang logam dan bunga. Sebar Udhik-Udhikini melambakan kemurahan hati Sultan untuk memberi kemakmuran kepada rakyatnya.  Disini akan banyak masyarakat yang berebut Udhik-Udhik karena dipercaya akan mendapatkan berkah, ketenangan dan kelancaran rezeki.
Acara ini diadakan malam hari sebelum Grebeg Maulud di pagi harinya atau tepatnya Tanggal 11 Bulan Maulud. Pada kali ini, prosesi ini diadakan pada tanggal 13 Januari 2013

Grebeg Maulud

Merupakan prosesi terakhir dari perayaan Sekaten dan juga merupakan prosesi yang paling ramai didatangi oleh masyarakat dari segala penjuru. Prosesi dimulai jam 07.30 dan diawali dengan Parade Kesatuan Prajurit Kraton Yogyakarta dengan mengenakan pakaian mereka. Sekitar jam 10 akan ada 3 buah Gunungan yang dikeluarkan dari Siti Hinggil menuju Halaman Alun-alun Utara, Mesjid Gede Kauman dan Pakualaman. Gunungan-gunungan tersebut nantinya akan diperebutkan oleh masyarakat karena dipercaya mendapatkan berkah, kelancaran rizki dan ketenangan.

Prosesi ini berlangsung pada tanggal 12 Maulud atau bertepatan pada tanggal 14 Januari 2014. Jika ingin menyaksikan prosesi ini, lebih baik datang pagi, karena agar bisa mendapatkan posisi yang diinginkan. 
Sunday, December 1, 2013

Museum Batik Joglo Cipto Wening, Imogiri


Berjalan pulang menuju Jogja dari Kebun Buah Mangunan, Imogiri, pandangan saya terpaku pada papan petunjuk jalan menuju “ Musium Batik”  di sekitar pasar Imogiri lama. Tanpa berpikir panjang saya membelokan kendaraan menuju museum batik tersebut. Tak jauh sekitar 200 meter saya pun sampai di depan museum batik tersebut. Museum Batik Joglo Cipto Wening namanya, merupakan museum yang didirikan dengan koleksi-koleksi pribadi. Museum ini didirikan tahun 2004 namun sempat tutup sementara karena rusak akibat gempa bumi dan didirikan dan resmi dibuka kembali oleh Sultan Hamengku Buwono X.

Rute untuk mencapai museum batik ini dari jogja cukup mudah, kita hanya tinggal melewati jalan Imogiri Timur sampai mentok pertigaan, lalu ambil kiri. Kita akan melewati pasar dan nanti sebelah kiri jalan akan ada papan petunjuk arah menuju museum batik ini. Jika tidak menemukan museum batik ini, jangan sungkan-sungkan bertanya pada warga sekitar ya :)

Memasuki museum ini, saya langsung terkesan dengan nuansa jawa. Sepeda onthel, pohon kepel, nangka yang merupakan pohon khas jogja dan bangunan Joglo yang menyimpan dan memamerkan koleksi-koleksi batik. Jogjo tersebut merupakan Joglo tua yang umurnya sudah mencapai 200 tahun. Nuansa Joglonya lebih mengagumkan lagi, suasana jawa yang khas dengan tata letak dan cahaya lampu yang pas membuat suasana jawanya makin kerasa. Dan karena nuansanya yang khas museum ini kadang dipakai untuk pembuatan foto komersil maupun film.



Museum ini didirikan untuk melestarikan batik-batik kuno asal daerah Bantul, Yogyakarta dan sekitarnya. Kata pemilik museum ini, museum ini juga menyimpan kain yang dihiasi motif-motif langka yang tidak lagi atau sudah jarang diproduksi saat ini. Beberapa motif langka tersebut antara lain motif lereng, sidomukti, sidoluhur, dan wahyu tumurun. Pembuatan motif tersebut memerlukan keahlian dan ketelatenan yang tinggi selama proses pembuatannya serta pembatik yang bias mengerjakan motif tersebut hanya sedikit. Terdapat pula batik khas daerah Imogiri yang dilestarikan di sini, namanya batik Kelengan. Kekhasan batik jenis ini adalah pada warna nila dan putih yang mendominasi pewarnaannya di dalamnya. Pada zaman dulu, warna nila (Cyan) diperoleh dari sejenis rumput-rumputan yang tumbuh di wilayah setempat.

Museum ini buka mulai jam 10.00 sampai dengan 15.00 dan libur di hari senin dan libur nasional. Mengunjungi museum ini tidak ditarik biaya, dan kita diharuskan menjaga kesopanan, kebersian dan keasrian museum ini.

yuk Kunjungi Museum :)

Saturday, October 5, 2013

Mengunjungi Kompleks Kerajaan Gowa, Sulawesi Selatan


Jangan hanya menikmati keindahan alam Sulawesi Selatan saja, tapi cobalah mengenal sejarahnya dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarahnya. 

Kata-kata yang terlintas sekilas di dalam kepala, ketika hendak berangkat menuju Kompleks Kerajaan Gowa. Kerajaan yang dulu berjuang melawan penjajahan Belanda, kerajaan yang dulu pernah berjaya di daerah Sulawesi Selatan.

Kompleks Kerajaan Gowa ini terletak di di Jalan Sultan Hasanuddin No. 48, Sungguminasa, Somba Opu, Kabupatan Gowa, Sulawesi Selatan, tepatnya di Sungguminasa yang berbatasan langsung dengan kota Makassar. Menuju kesini cukup mudah, karena adanya transportasi angkutan umum dari pusat kota Makassar menuju ke Kota Sungguminasa dan melewati depan museum ini atau bisa juga menggunakan kendaraan pribadi. Jika ragu dengan jalan yang anda tempuh jangan malu bertanya ya :)

Pintu Belakang Kompleks Kerajaan Gowa
Dari Jalan Gunung Bawakaraeng saya menaiki pete-pete (sebutan angkutan umum di Makassar) berwarna merah yang menuju Terminal Kota Sungguminasa, pete-pete ini ternyata melewati Komplek pemakaman Raja-Raja Gowa termasuk Sultan Hasanudin. Niatnya sehabis mengunjungi museum Balla Lompoa, saya ingin berziarah ke makam tersebut. Tak memakan waktu lama, dari kota Makassar ke Komplek Kerajaan Gowa hanya 30 menit. Memasuki komplek Kerajaan Gowa ini kita hanya diminta mengisi buku tamu dan memberikan sumbangan sukarela seiklasnya saja.

Istana Tamalate dengan Tulisan Hiasnya
Kompleks Kerajaan Gowa ini merupakan  rekonstruksi dari istana Kerajaan Gowa yang didirikan pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-31, I Mangngi-mangngi Daeng Matutu, pada tahun 1936. Di dalam Komplek ini terdapat dua bangunan yaitu Istana Tamalate dan Museum Balla Lompoa yang di depan bangunan-bangunan tersebut ada tulisan nama bangunannya seperti halnya tulisan Pantai Losari. Sepetinya tulisan penghias seperti ini sedang disukai disini. Istana Tamalate adalah replika dari istana asli yang sudah punah. Namun sayangnya tidak bisa memasuki Istana ini karena dikunci. Sedangkan Museum Balla Lompoa jika diartikan dalam bahasa Makassar artinya "Rumah Besar" atau "Rumah Kebesaran" Di dalam museum Balla Lompoa ini menyimpan berbagai macam benda koleksi Kerajaan Gowa  Benda-benda bersejarah tersebut dipajang berdasarkan fungsi umum setiap ruangan pada bangunan museum. Di ruang utama dipajang silsilah keluarga Kerajaan Gowa mulai dari Raja Gowa I, Tomanurunga pada abad ke-13, hingga Raja Gowa terakhir Sultan Moch Abdulkadir Aididdin A. Idjo Karaeng Lalongan (1947-1957). Di ruangan utama ini, terdapat sebuah singgasana yang diletakkan pada area khusus di tengah-tengah ruangan. Beberapa alat perang, seperti tombak dan meriam kuno, serta sebuah payung lalong sipue (payung yang dipakai raja ketika pelantikan) juga terpajang di ruangan ini. selain itu museum ini  tidak hanya bernilai tinggi karena nilai sejarahnya, tetapi juga karena bahan pembuatannya dari emas atau batu mulia lainnya, seperti mahkota, gelang, kancing, kalung, keris, dan benda-benda lain yang umumnya terbuat dari emas murni dan dihiasi berlian, batu rubi, dan permata.
Pintu Istana Tamalatenya dikunci
Numpang Narsis ..hehe,.

Seselesainya mengunjungi kompleks Kerajaan Gowa ini, saya langsung menuju tujuan wisata selanjutnya : berziarah ke makam Raja-raja Gowa. Catatan perjalanannya ditunggu aja ya :)
Wednesday, September 25, 2013

Senja Indah di Ratu Boko


Menikmati senja itu tiada membosankan, rasanya membuat hati tenang dan damai. Tak peduli tempatnya  di atas gunung, di atas bukit, di pantai, di tengah kota, bahkan di atas atap rumah/gedung,  apalagi jika menikmatinya bersama orang-orang istimewa. Kali ini saya menulis satu lagi spot menikmati senja di sekitaran Yogyakarta. Istana Ratu Boko adalah kompleks bangunan megah yang dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran (Wangsa Sailendra) dari kerajaan Medang (mataram Hindu) pada masa abad ke-8. Diyakini sebagai istana karena adanya sisa-sisa bangunan dinding benteng dan parit kering sebagai struktur pertahanan dan ditemukan juga sisa-sisa permukiman poenduduk disekitar kawasan ini.

Ratu Boko terletak di atas bukit wilayah Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, atau tepatnya 3 km sebelah selatan Candi Prambanan. Akses menuju Ratu Boko sangat mudah, patokannya adalah pasar tradisional Prambanan yg letaknya di selatan komplek candi Prambanan. Jika berangkat dari Jogja kita bisa naik kendaraan pribadi melewati jalan Solo sampai pertigaan Pasar Prambanan. Dari Pasar Prambanan ke arah selatan, tidak jauh nanti akan ada papan petunjuk jalan menuju Ratu Boko. Pilihan kedua dari Jogja kita bisa menaiki Trans Jogja jurusan Candi Prambanan turun di pasar, lalu dari pasar Prambanan kita bisa menyewa jasa ojek, delman atau jalan kaki (jika mau) menuju ratu Boko. Pilihan alternatifnya saat mengunjungi Candi Prambanan kita bisa membeli tiket terusan ke Ratu Boko. Nanti akan ada mobil yang mengantarkan kita ke Ratu Boko pada jam-jam tertentu saja.

Kali ini saya mengunjungi Ratu Boko untuk menikmati senja. Banyak yang bilang jika cuaca bagus senja disini sangat indah, apalagi saat bulan Agustus-September matahari senja pas di tengah-tengah salah satu pintu masuk Istana Boko. Saya bersama teman-teman berangkat dari Jogja jam 15.30 sampai dengan menempuh perjalanan selama 1 jam. Lebih baik berangkat tidak terlalu sore, sehingga sampai Ratu Boko kita bisa berkeliling menikmati suasananya lebih lama. Tiket masuk Ratu Boko sore hari tetap sama seperti biasanya yaitu 25 ribu (harga September 2013) dengan bonus air mineral botol kecil. Cukup untuk melepas dahaga sambil menunggu senja disini :) .

matahari di tengah pintu gerbang istana Ratu Boko


Setelah puas berkeliling sekitar jam 5, saatnya berburu foto senja. Foto yang saya ambil disini yaitu siluet reruntuhan gerbang masuk merupakan Landmark Istana Ratu Boko. Ternyata tidak hanya kami, disana sudah ada beberapa wisatawan lokal dan 2 turis asal Jepang bernama Chihiro dan Airi. Dengan modal nekat dan bahasa inggris pas-pasan kami mengakrabkan diri dengan mereka. Matahari mulai turun perlahan-lahan, warna langit yang tadinya biru mulai berubah kuning-kuning merona. Rasa takjub atas keindahan ini tidak hanya terlihat dari wajah mereka, tapi juga pada kami.

Pose "Love Sunset Ratu Boko" si Chihiro dan Airi :)

Tuesday, July 23, 2013

Ngabuburit di Pasar Legi Kotagede, Jogja


Jogja memang asik buat jalan-jalan, terlebih saat bulan puasa kayak gini. Kali ini saya mau ngasih masukan buat teman-teman pembaca yang mau mencari alternatif jalan-jalan sore atau kalau bulan puasa namanya ngabuburit di Jogja yaitu Kawasan Kotagede. Kawasan ini terletak di selatan kota Jogja, kurang lebih sekitar 4-5 km dari Malioboro. Istimewanya kawasan ini karena kawasan ini dulunya merupakan kawasan Kerajaan Mataram Islam sehingga sudah pasti di dalam kawasan ini jika kita telusuri masih banyak peninggalan-peninggalan masa lampau.

Ngabuburit kali ini, saya memilih Pasar Legi Kotagede, pasar yang terletak di tengah-tengah kawasan Kotagede. Pasar ini akan ramai hari legi (Tanggal Jawa), namun pada hari lain pasar ini tetap buka. Menuju Kotagede cukup mudah, dari Plengkung Gading kita hanya tinggal mengikuti arah timur akan sampai di gapura Kotagede. Bisa juga dari Km.0 ke arah timur melewati Bonbin. Lampu lalu lintas setelah itu ambil kanan, ikuti jalan tersebut nanti kita akan sampai di gapura Kotagede atau menggunakan Trans Jogja ke kawasan ini juga bisa. Selanjutnya ikuti jalan masuk Gapura tersebut untuk sampai di pasar Legi Kotagede. Nah sepanjang jalan menuju pasar, jangan lupa lihat kanan-kiri, nanti akan terlihat bangunan-bangunan khas jawa yang pasti akan menambah kekaguman kita akan Kotagede.

Salah Satu Penjual, Pecelnya cuma 2rb

Pada sore hari di pasar ini terdapat banyak penjual makanan-makanan khususnya makanan tradisional. Dari kue cucur, pecel, cenil, serabi solo, leker, putu dan kue-kue tradisional lainnya, tidak ketinggalan minuman-minuman untuk berbuka. Soal harga tidak usah khawatir saya rasa harga makanan-minuman di pasar ini relatif murah. Kue cucur yang saya beli untuk berbuka seharga 500 rupiah. Karna suasana pasar yang asik, jangan kaget kalau pasar ini lumayan ramai terutama saat ngabuburit. Bahkan waktu itu saya melihat ada Bule sekeluarga yang menyerbu membeli Putu :D.


Selesai menemukan “si manis” buat berbuka puasa jangan langsung pulang. Sambil menunggu adzan Magrib, coba deh keliling Kotagede, menikmati cagar budaya yang ada dari komplek Makam Raja Mataram, Mesjid Agung Kotagede, bangunan-bangunan lama bernuansa Jawa yang unik sampai masyarakat Kotagede yang ramah :).

salah satu rumah jawa yg berdiri tahun 1862.