Showing posts with label wisata jakarta. Show all posts
Showing posts with label wisata jakarta. Show all posts
Wednesday, February 26, 2014

Nyok Keliling Ibukota Dengan Bus Tingkat Jakarta :)


Banyak Cara Menuju Roma, Banyak Cara Juga Untuk Menikmati Suasana kota Jakarta. Salah satunya dengan Keliling Ibukota dengan Bus Tingkat Jakarta

City Tour Jakarta Bus atau lebih banyak dikenal sebagai Bus Tingkat Jakarta yang sudah banyak dinanti oleh warga kota Jakarta dan sekitarnya untuk segera mencoba menaikinya. Bus Tingkat Jakarta ini merupakan salah satu pelayanan pemerintah DKI Jakarta dalam bidang transportasi dan pariwisata. Hari Senin, 24 Februari Bus ini akhirnya beoperasi dan dan siap membawa warga Jakarta dan turis-turis keliling Ibukota dan ke beberapa daerah wisata di Jakarta secara gratis. Bus ini juga mempunyai nama unik lainnya yaitu Mpok Siti. Kata Mpok karena para pegawai di dalam busnya baik supir sampai Guidenya seorang wanita dan kata Siti diambil dari nama bus ini City Tour Jakarta Bus.  

antrian ramai di halte
Setelah bermunculan berita Bus Tingkat Jakarta sudah dibuka untuk umum, saya langsung berangkat ke Bundaran HI, salah satu lokasi yang di lewati bus ini. Untuk menaiki bus ini kita tidak bisa sembarang tempat menunggunya. Bus ini hanya berhenti di Halte-halte yang berada dalam rute dan sejauh yang saya amati ada plang bertuliskan “City Tour”. Karena Jumlahnya bus tingkatnya terbatas, untuk saat ini hanya melayani Rute mulai dari Balai Kota, Bundaran HI, Jalan MH Thamrin, Merdeka Barat lalu berbelok ke Juanda, Merdeka Utara, ke Merdeka Barat lagi, Merdeka Selatan, dan kembali Balai Kota. Bus Tingkat ini mulai beroperasi mulai jam 8.30 dari Balaikota sampai jam 19.00 namun untuk hari Minggu dimulai jam  12.00 sampai 19.00 waktu setempat.

mba Rika, Guide saat saya menaiki Bus ini
Bus Tingkat Jakarta melaju pelan sekitar 10-20 km/jam sehingga kita bisa merasakan suasana berkeliling Ibukota dengan Bus Tingkat. Jika kita mengelilingi satu rute, kita akan menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam dan jika keadan jalan macet bisa sampai 1,5 Jam. Dalam perjalanan di Bus Tingkat kita tidak hanya diam saja melihat suasana yang dilewati bus ini. Guide akan menjelaskan hal-hal mengenai bus tingkat ini serta penjelasan tentang lokasi-lokasi wisata serta tempat yang bernilai sejarah ada disekitar rute bus ini seperti Monas, Gedung Bank Indonesia, bahkan patung perunggu menunjuk di jembatan Juanda yang akhirnya saya ketahui kalau itu patung Dewa Hermes, dewa perniagaan di mitos Yunani menunjuk ke arah salah satu pusat perbelanjaan yang ramai di kota Jakarta.

Melewati Bundaran HI
Tak terasa 1 Jam sudah mengelilingi Jakarta dengan Bus ini. Pengetahuan baru, pengalaman baru bahkan teman baru saya dapatkan dalam Bus Tingkat Jakarta ini. Untuk kedepannya saya rasa, bus ini perlu menyediakan brosur gratis yang menjelaskan objek wisata yang menjelaskan tentang lokasi wisata yang dilewati mungkin beserta Peta Wisata Kota Jakarta yang nantinya berguna bagi warga Jakarta maupun turis untuk lebih mengenal kota Jakarta ini.

Nyok Keliling Ibukota ^_^


NB : nantinya untuk naik bus ini kita diharuskan untuk mengambil tiketnya yang telah disediakan gratis di lokasi-lokasi tertentu di Jakarta. untuk 3 bulan kedepan ini, sistem tiket belum berlaku sehingga kita tinggal datang, antri dengan tertib di halte yang ada telah disediakan
Sunday, February 23, 2014

Es Selendang Mayang, Kuliner Khas Jakarta Yang Kian Langka


Tak seindah namanya, begitulah nasib jajanan tradisional Es Selendang Mayang. Banyak yang tidak tau atau mungkin telah lupa jajan khas daerah Jakarta/ Betawi yang satu ini. Susah menemukan penjual es Selendang Mayang di era sekarang ini, membuat banyak orang tidak mengenalnya bahkan saya sendiri  hampir lupa akan keberadaan kuliner tersebut.

Es Selendang Mayang dihidangkan di atas mangkuk kecil, bisa dibilang ukurannya sama dengan mangkuk Soto Kudus. Isinya berupa seperti sebuah adonan kenyal lebih kenyal dari cendol, namun mempunyai 3 lapis warna. Jika diurutkan dari atas warnanya merah-putih dan hijau. Adonan dengan 3 lapis warna itulah yang disebut Selendang Mayang. Saya pikir, nama Es Selendang Mayang berasal dari pencipta kulinernya, si Mayang dan dia berjualana Esnya tersebut digendong menggunakan selendang tapi ternyata salah banget. Penamaan Selendang Mayang karena orang dulu sering menyebutkan warna cerah yang ada di atas dengan sebutan Selendang sedangkan warna putih di bawahnya disebut Mayang. Kuliner khas Jakarta yang mempunyai nama lain Es Cendol Parek ini dipercaya orang dulu bisa menghilangkan panas dalam.

Bang Ade, salah satu penjual es Selendang Mayang
Tak Sengaja saya melihat penjual es Selendang Mayang di sela gang kecil. Memikul gerobak pikulnya, membunyikan mangkuk kecil dengan berirama sembari menengok kesana kemari seakan mencari orang yang ingin membeli dagangannya, Es Selendang Mayang. Saya pun menghentikan langkahnya ingin melepas dahaga di panasnya Jakarta kala ini sekaligus mendokumentasikan Kuliner langka ini. Sambil menyantap Es Selendang Mayang, terjadilah obrolan-obrolan ringan di antara kami . Belakangan saya tau namanya bang Ade, dia telah menekuni profesinya sebagai penjual Es Selendang Mayang  selama 10 tahun, dan berjualan di sekitar daerah Cipayung. Menurut dia berjualan es ini jaman dahulu berbeda dengan sekarang. Dulu banyak tanah lapang, lapangan bola, dimana di tempat tersebut banyak masyarakat berkumpul baik anak-anak maupun yang sudah dewasa sekalipun. Ada yang bermain, atau sekedar bersantai dan bang Ade biasanya mangkal disana. Kehadiran es selendang mayang pasti menarik perhatian mereka untuk melepas dahaga sesaat khususnya anak-anak yang kecapaian setelah bermain. Namun beberapa tahun kedepan, tanah lapang mulai berganti perumahan, banyak bermunculan kuliner minuman dingin modern yang mengalahkan popularitas si Es Selendang Mayang. Belum lagi makin berkurangnya penjual Es Selendang Mayang membuat kuliner khas betawi jadi makin sudah ditemukan dan hampir terlupakan.

Es Selendang Mayang di Kawasan Kota Tua
Belakangan ini, di Kawasan Kota Tua mudah ditemukan Es Selendang Mayang. Biasanya penjual Es Selendang Mayang mudah dijumpai sekitar Museum Fatahillah pada hari Sabtu-Minggu atau hari Libur. Jika anda ingin mencoba kenikmatan es Selendang Mayang ini, cobalah datang ke Kawasan Kota Tua Jakarta pada hari-hari tersebut.
Museum Fatahillah

Semoga dengan adanya tulisan sederhana ini, kuliner Es Selendang Mayang ini tidak punah dan makin dikenal masyarakat luas J
Wednesday, February 19, 2014

Klenteng Hok Tek Bio, Pasar Baru - Klenteng Tua Yang Terlupakan


Di tengah perkembangan kota Jakarta yang pesat, Kawasan Pasar Baru pun terus tumbuh menjadi salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Selain itu, kawasan Pasar Baru ini merupakan salah satu kawasan tempat tinggal etnis Tiong Hoa di Jakarta yang sudah ada sejak jaman Belanda. Salah satu bukti, masih ada sisa-sisa arsitektur rumah jaman dahulu seperti atap, atau hiasan/ukiran di tembok rumah.  Namun sayangnya rumah-rumah tertutup bangunan toko-toko modern yang berdiri sejajar sepanjang jalan utama Pasar Baru. Di suatu gang yang sempit, terdapat Klenteng yang menjadi sudah menjadi saksi bisu perkembangan kawasan Pasar Baru lebih dari 300 tahun yang lalu, Hok Tek Bio namanya.

Untuk mencapai klenteng ini cukup mudah, kita bisa menggunakan kendaraan pribadi langsung menuju kawasan Pasar Baru, atau bisa menggunakan Busway TransJakarta dan Kereta. Jika menggunakan kereta, anda bisa turun di Stasiun Juanda, lalu dari stasiun tinggal berjalan kaki sekitar kurang dari 1 km akan sampai di depan gapura masuk kawasan Pasar Baru. Jika naik Transjakarta, bisa melalui rute trayek PGC-Harmoni transit di Juanda lalu ke Pasar Baru dan dari Harmoni-PGC tak perlu transit di Juanda.

Sesampainya di kawasan Pasar Baru, kita akan melihat gapura besar dan tinggi bergaya etnik Tiong Hoa, terukir tulisan “Pasar Baroe 1820” yang menandakan bahwa kawasan ini mulai berdiri pada tahun 1820. Melewati gapura, kita bisa melihat banyak toko-toko modern berdiri. Dari toko elektronik, toko pakaian, kain, kuliner dan lain-lain. Semakin memasuki kedalam, anda akan melihat plang petunjuk kecil menuju yayasan Vihara Dharma Jaya (Sin Tek Bio) nama lain dari Klenteng yang kita tuju. Plang petunjuk tersebut membawa kita melewati gang sempit yang hanya muat untuk 1-2 orang saja.

Tertulis jelas di tembok gang sempit yang kita lewati, kalau Klenteng ini berdiri sejak tahun 1698. Karena saya berkunjung tahun 2014 jadi umur klenteng ini kurang lebih adalah 316 tahun. Klenteng ini ada 3 tingkat namun digunakan tempat ibadah hanya sampai tingkat tida saja. Di dalam klenteng ini terdapat ratusan dewa yang berasal dari abad ke-17 dan abad ke-20 dengan 14 altar di ruang utama dan 14 altar di ruang atas. Dan yang menarik disini adanya altar-altar tokoh lokal seperti Mbah Raden, yang altarnya berisi peralatan tempat tidur seperti kasur, bantal guling mini, cangkir-cangkir teh. Menurut sumber yang saya baca enempatan altar tokoh lokal adalah suatu penghormatan para pendatang dari Tiongkok kepada wilayah dimana mereka tinggal. Altar ini merupakan bentuk akulturasi kepercayaan pendatang dan kepercayaan lokal.

suasana dalam klenteng
suasana dalam klenteng

Klenteng ini dibuka untuk siapa saja baik yang ingin beribadah atau sekedar wisata seperti saya. Kita tidak ditarik biaya masuk, hanya saja berkunjung ke klenteng ini harap berlaku sopan karena merupakan tempat ibadah. Ada baiknya saat berkunjung ke sini, berbicara dahulu meminta ijin kepada petugas yang ada di klenteng ini.



nb : berkunjung kesini kita bisa sekalian kuliner terkenal di lokasi dekat sini,, tunggi tulisan berikutnya ya J