Showing posts with label wisata jogja. Show all posts
Showing posts with label wisata jogja. Show all posts
Tuesday, May 3, 2016

Menelusuri Lembah Mangunan, Imogiri, Bantul


Mangunan, terkenal dengan puncaknya yang menyajikan kabut syahdu layaknya hamparan awan yang bisa kita liat di puncak-puncak gunung namun hanya bisa dilihat pada musim penghujan dengan tips yang sudah pernah saya tulis sebelumnya (Baca : Tips melihat HamparanAwan di Kebun Buah Mangunan). Saat ini mulai memasuki Musim Kemarau, Mangunan juga tampak elok dengan pemandangan lembah yang menawan, pemandangan lekukan sungai Oyo berbentuk huruf S. Pemandangan suasana pedesaan yang asri dan jembatan gantung berwarna kuning, yang sering sekali terdengar suaranya ketika ada yang motor yang melintasinya. Saya pun tertarik turun untuk melihat lebih jauh dan lebih dekat seperti apa lembah mangunan.

Rute Menuju Lembah Mangunan

Saya berangkat agak siang sekitar jam 8 pagi menuju lembah Mangunan, diperjalanan saya sempatkan mampir makan dulu mengingat perut sudah minta jatah hehe. Saya berangkat dari Jogja dengan rute awal hampir sama dengan menuju Puncak Kebun Buah Mangunan. Rute menuju lembah  mangunan dari Jogja cukup mudah kok. Kota Jogja – Bangjo Terminal Giwangan – Lurus ke Jalan Raya Imogiri Timur – Ikuti Jalan Imogiri Timur – Mentok di pasar Imogiri ambil kiri melintasi pasar – pertigaan yang lurus ke makam raja-raja Imogiri kalian ambil kanan seperti halnya menuju ke kebun buah namun setelah itu sebelum jalan menanjak hutan-hutan ada pertigaan, kalian ambil kanan  lalu ikuti jalan besar tersebut sampai di pertigaan desa Banyusumurup ambil kanan, ikuti jalan tersebut sampai mentok pertigaan ambil kiri, ikuti jalan tersebut akan sampai di tepian sungai Oya.

Penting : mulai belok kanan di pertigaan sebelum jalan menanjak jangan malu bertanya  kepada warga setempat jika kalian bingung diperjalanan , karena jalan disini banyak persimpangan jalan desa. Jika bertanya coba tanya dengan kata kunci Jembatan Gantung Selopamioro, Dusun Wunut, Desa Sriharjo.
Perjalanan menyelusuri Lembah Mangunan
Pemandangan Lembah Mangunan
Perjalanan di jalan desa di lembah mangunan ini cukup asri, nyaman dengan suasana pedesaan yang saya bilang bisa merefresh otak yang mulai jenuh dengan keseharian, Sapalah warga yang kita temui diperjalanan, mampir sebentar jika mereka mempersilahkan mampir ngobrol di depan rumahnya. Rombongan anak sekolah berpakaian olahraga sehabis melakukan jalan sehat atau olahraga tertentu dan hendak menyebrang sungai kembali ke sekolahnya. Jika musim kemarau, debit sungai Oya agak berkurang jadi jika malas karena cukup jauh memutar melewati jembatah gantung yang merupakan jembatan satu-satunya disana. Lanjut menyelusuri lembah mangunan, sampailah dimana kita bisa melihat pemandangan bukit-bukit yang membentengi lembah mangunan dengan begitu gagah. Terlihat puncak mangunan dari jauh dan sekilas orang yang lagi foto-foto (kayaknya :p). Suasana asri selain lembahnya ketika melihat area persawahan berundak-undak menaiki bukit mangunan tersebut dan berhenti di Jembatan Gantung.

Jembatan Gantungnya
Memandikan Sapi
Sebelum melihat-lihat  dan bermain di sekitar sungai dan area jembatan gantung, parkirlah kendaraan anda di tempat yang disediakan secara rapih agar  tidak mengganggu jalur transportasi di desa tersebut. Jembatan gantung ini merupakan jembatan satu-satunya yang menghubungkan Desa Sri Harjo dengan Desa Selopamioro. Untuk bermain ditepian sungai, kita harus menyebrangi jembatan dulu karena di sisi sebrang terdapat endapan pasir sungai yang kering sehingga kita bisa bermain dengan leluasa. Saat saya datang kesana sekitar jam 10an, terdapat keluarga kecil (bapak-ibu dan anak yg baru pulang sekolah) sedang memandakan sapi mereka di sungai. Kehadiran saya untungnya tidak menganggu aktivitas mereka sampai diijinkan mengabadikan aktivitas mereka. Mungkin mereka adalah salah satu potret kehidupan di sekitar lembah mangunan.  Air sungai yang terlihat hijau bukan berarti kotor, hanya saja karakteristik sungai yang mengalir di daerah karst. Satu lagi karakteristik sungai daerah karst adalah adanya palung-palung sungai, jadi lebih baik hindari bermain air di sungai Oyo. Nikmati saja pemandangan dan suasananya dan jangan lupa sampah jajanan kalian di bawa pulang atau dibuang ketempat sampah yang ada.

Tertarik mengunjungi Lembah Mangunan kan :)

Lembah Mangunan dari Puncak Kebun Buah Mangunan


Friday, April 29, 2016

Air Terjun Pulosari, Tersembunyi Di Dasar Sebuah Jurang


Setelah kenyang menyantap Mie Ayam Tumini, saya membawa kendaraan saya menuju Bantul dengan tujuan ke Air Terjun Musiman Pulosari atau yang lebih dikenal dengan nama Curug Jurang Pulosari.

patung bagong desa Krebet
Dari Kota Jogja letaknya tidak terlalu jauh, hanya menempuh perjalanan selama paling cepat 45 menit sampai 1 jam dengan motor. Menuju kesini bisa dibilang cukup mudah karena sudah banyak petunjuk jalan yang membawa kalian sampai di Curug Pulosari. Rut eke Curug Pulosari dari Kota Jogja arahkan kendaraan anda ke Jalan Bantul – melewati Bangjo Ringroad Selatan – Bangjo Gapura Desa Wisata Keramik Kasongan ambil kanan memasuki desa tersebut – Ikuti jalan desa wisata kasongan tersebut jangan belok-belok sampai menemukan petunjuk jalan menuju desa wisata Krebet –Ikuti petunjuk jalan menuju desa Wisata Krebet dan kita akan melintasi jalan sedikit agak naik dan berkelok-kelok dengan kanan kiri berupa hutan jati. Jika kalian melihat patung Bagong besar kalian sampai di Desa Wisata Krebet – Liat petunjuk jalan berupa Peta yang ada di sekitar patung tersebut akan mengarahkan anda ke Curug Pulosari. Jika ragu diperjalanan jangan sungkan bertanya pada warga setempat ya :D

Peta petunjuk jalan menuju curug Pulosari di Desa Krebet
Dari lokasi parkir kita tinggal berjalan kaki menyelusuri jarang setapak yang sudah disediakan. Sesuai dengan namanya Jurang Pulosari, air terjun ini letaknya di bawah jurang. Jalan untuk sampai ke bawah jurang tersebut sudah dibuat ramah pengunjung, jadi tidak berbahaya mengajak anak2 untuk berkunjung kesini. Perjalanan dari lokasi parkir menuju air terjun Pulosari cukup seru, menuruni sebuah jurang, menyelusuri hutan jati, menyebrangi sungai dan akhirnya bisa sampai di Air Terjun Pulosari.
kondisi jalan dari parkiran menuju jurang pulosari
Melintasi sungai kecil
Air Terjun Pulosari
Air terjun ini tidak terlalu tinggi, mungkin ketinggiannya berkisar sekitar 5-7 meter saja, namun yang menarik yaitu cara air jatuhnya seperti membentuk tirai-tirai putih yang cukup cantik dan dibawahnya terdapat kolam yang bisa digunakan untuk berenang bermain air. Hari itu cukup ramai, banyak muda-mudi yang sedang berenang-renang, berfoto bersama bahkan ada yang bertapa di bawah air terjunnya, beberapa ada yang mojok dibawah rimbunan pohon-pohon jati. Poin pentingnya : Jika anda berkunjung di hari libur atau di musim kemarau jangan bayangkan bisa mendapatkan foto kece yang biasa diliat di Instagram :p, karena beberapa teman pernah kecewa karenanya. Musim kemarau debit air sedikit dan saat hari libur pasti ramai pengunjung.
cukup ramai hehe :)
alau dikelola warga setempat, fasilitas air terjun ini cukup lengkap. Ada ruang bilas atau ruang ganti baju, ada warung penjaja makanan, lokasi parkir yang luas dan aman, bahkan ada penyewaan ban untuk kalian yang tidak bisa berenang. Jika kalian ingin menginap dan menikmati lebih jauh jurang pulosari ini berikut suasana desa wisata krebet ini bisa menginap di homestay desa wisata krebet yang sudah disediakan. Mumpung belum memasuki musim kemarau yuk kunjungi air terjun ini J
Wednesday, December 30, 2015

Air Terjun Randusari - Air Terjun Kembar di daerah Dlingo, Bantul :)


Musim Hujan telah tiba, saatnya main ke air terjun musiman :D
Pilihan saya kali ini main ke Air Terjun Randusari, salah satu air terjun berada dekat dengan hutan Pinus dan puncak Becici.

Air terjun Randusari berada di tengah hutan rakyat yang cukup teduh dan tenang di lembah dari perbukitan dusun Rejosari, Desa Jatimulyo, Kecamatan Dlingo, Bantul. Air Terjun ini memang belum lama muncul di dunia wisata Jogja setelah tahun lalu pengelolanya memasang plang petunjuk jalan di setiap persimpangan Jalan dari Patuk menuju Kebun Buah Mangunan atau sebaliknya.

ketemu petunjuk jalan ini ambil arah Jatimulyo
Banyak rute  menuju Air Terjun Randusari dari Jogja yaitu lewat Imogiri atau lewat Patuk. Jika kalian ingin ke air terjun Randusari  via Imogiri, dari Kota Jogja – Terminal Giwangan  - Jalan Imogiri Timur – Pasar Imogiri ke arah Hutan Pinus Mangunan – melewati Hutan Pinus Mangunan ambil arah Puncak Becici- melewati Puncak Becici akan menemukan petunjuk arah menuju Air Terjun Randusari di pohon beringin tengah jalan (liat gambar ya) – mulai dari sini ikuti saja petunjuk jalan yang membawa kalian ke Air Terjun Randusari.

pohon beringin tengah jalan yang terakhir, ada papan petunjuk ke Randusari :D
Rute Air Terjun Randusari dari Patuk, Kota Jogja – Jalan Wonosari – Bukit Bintang – Pos Polisi Patuk (diatas bukit bintang) ada jalan masuk ikuti saja – pertigaan pertama ambil Kanan – melewati Watu Amben – ikuti jalan tersebut sampai menemukan pohon petunjuk jalan ke Air Terjun Randusari yang ada di Pohon Beringin Tengah Jalan  (liat gambar ya) – mulai dari sini ikuti saja petunjuk jalan yang membawa kalian ke Air Terjun Randusari. Jika ragu dengan jalannya tanyakan saja pada warga sekitar ya :).

Sesampainya di parkiran Air Terjun Randusari, kita tinggal berjalan sebentar saja sekitar 15 menit mengikuti jalan setapak melewati beberapa rumah warga setempat, saluran irigasi dan sawah. Setelah sampai di bawah bukit, mulai terdengar suara gemerincik air dan aliran air kecil yang airnya berasal dari air terjun tersebut. Suasana cukup sejuk di bawah teduhnya pepohonan jati dan pohon lainnya di sekitar air terjun. Sebelum menikmati suasana sekitar air terjun kami menaruh tas kami di gazebo-gazebo yang di sekitar air terjun.

Suasana sekitar Air Terjun :)
Air Terjun ini unik, terlihat seolah-olah air terjun kembar karena ada dua air terjun yang airnya jatuh bersebelahan. Di dekat air terjun ini terdapat Pohon Randu atau pohon kapuk yang cukup besar, itulah kenapa air terjun ini dinamakan Air Terjun Randusari. Kedalaman di sekitar air terjun tidak terlalu dalam hanya berkisar 1 meter saja, pengunjung bisa bermain air, berenang dan mandi-mandi melepas lelah penat dari rutinitas. Di dekat air terjun juga terdapat dua pohon kelapa hijau yang sering kali digunakan untuk menggantung “Hammock”. Bersantai dengan Hammock di pinggir air terjun Randusari yang cukup sepi ini mendamaikan sekali serasa air terjun ini ada di halaman rumah saya sendiri saja :D
Hammock-an :D

Tempat yang indah ini harus kita jaga, salah satunya dengan tidak membuang sampah sembarangan. Pihak pengelola sudah menyediakan tempat sampah yang cukup. Jika masih nyampah, mending jangan piknik-piknik lah, di rumah aja :D
Sunday, December 20, 2015

Sarapan Pagi Jogja : Soto Batok Mbah Katro, Sambisari, Sleman.


Walau letaknya diluar kota Jogja, tidak mengurungkan niat para penikmat Soto baik yang di berada di Jogja maupun yang dari luar Jogja seperti saya sekalipun. Mungkin memang bentuk sajian, daya tarik tempat dan cita rasa yang khas.

Soto Batok atau Saoto Batok ini adalah soto yang akhir-akhir ini sedang naik daun di dunia per”Soto’an Jogja. letaknya tidak jauh dari kota Jogja, dekat Bandara Adi Sucipto atau bersebelahan dengan candi Sambisari. Untuk menuju ke warung Soto Batok cukup mudah. Rute ke soto batok dari kota Jogja tinggal mengarahkan kendaraan anda ke jalan raya Solo – melewati Mall Ambarukmo – melewati pertigaan lampu lalu lintas Janti lalu melewati pertigaan lampu lalu lintas ringroad timur – masih ke arah timur melewati pertigaan Bandara akan ada papan petunjuk jalan ke Candi Sambisari – ikuti petunjuk tersebut sampai di depan candi Sambisari dan Soto Batok tersebut ada di sebelah Utara Candi tersebut. Jika bingung cobalah tanya warga setempat di dekat candi J.

Sesuai namanya, Soto ini dihidangkan dengan mangkuk yang terbuat dari batok kelapa. Komposisi soto seperti soto pada umumnya, ada sayuran kol, taouge, kuah soto, nasi dan daging sapi. Namun uniknya hidangan soto tersebut dihidangkan tidak menggunakan mangkuk biasa melainkan menggunakan Batok dari buah Kelapa. Tidak hanya itu, terdapat sajian tambahan lagi seperti sate telur, sate usus, tahu dan tempe garing. Favorit saya sih Tempenya itu digoreng sangat garing dan memiliki rasa yang berbeda dari tempe yang pernah saya makan :D.


Suasana tempatnya pun cukup nyaman, terbuka, dan bernuansa jawa sederhana. Tempat makannya pun terdiri dari Saung atau pendopo untuk yang ingin lesehan atau terdapat meja dan kursi bagi yang tidak ingin lesehan. Di sekitar warung soto batok ini mempunyai suasana ladang atau sawah.  Saya pun cukup senang menikmati soto disini.  Rasanya benar-benar sempurna, menikmati Semangkuk Soto, Teh Panas, dan Suasanan Jawa Sederhana. Dan setelah mengisi perut, saya menyempatkan mampir ke Candi Sambisari yang berada di dekat soto Batok tersebut.

candi Sambisari
Satu porsi soto batok ini seharga Rp.5.000. harga yang terbilang cukup murah, apalagi kalian bisa mendapatkan suasana tempat makan yang bagus juga. Namun jika untuk kalian yang biasanya makan pagi dengan porsi banyak, 1 porsi soto batok sekiranya kurang, Cobalah pesen dua mangkok atau perbanyak lauk tambahan :p
Saturday, December 12, 2015

Bersantai Sejenak ke Grojogan Sewu, Kulonprogo

Air Terjun Grojogan Sewu, Kulonrpogo

Musim hujan telah tiba, air terjun yang debitnya sedikit kembali menjadi banyak kembali, salh satunya di Grojogan Sewu,di Kulonprogo.

Grojogan Sewu terletak di dusun Beteng, desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo. Berdekatan dengan air terjun lainnya dalam satu desa yaitu grojogan mudal, kedung pedut, air terjun kembang soka dan air terjun setawing. Air terjun ini mulai booming musim hujan tahun lalu tersebut, dan dikelola oleh masyarakat lokal.

Pemandangan pegunungan Menoreh setelah perempatan pasar Kenteng
pertigaan 100 meter dari Pasar Jongrangan
Rute ke Grojogan Sewu cukup gampang kok. Dari Tugu Jogja ambil jalan ke barat ke jalan Godean sampai perempatan Ring Road Demak Ijo – Ikuti jalan tersebut melewati pasar Godean – melewati jembatan besar Sungai Progo lalu akan sampai di perempatan psar kenteng yang keliatan pegunungan menoreh – dari perempatan tersebut ambil lurus ke arah barat, ke arah pegunungan menoreh. Kondisi jalan dari sini menanjak dan berkelok, belum lagi pemandangan kanan kiri lumayan indah pengendara. Setelah melewati jalan berliku menanjak akan mentok di pertigaan, ambil ke kanan  lalu akan sampai di pasar kecil Jonggrang  100 meter melewati pasar Jonggrang ada pertigaan kecil dengan petunjuk jalan Grojogan Sewu. Ikuti petunjuk jalan tersebut dan petunjuk jalan yang kalian jumpai nanti akan membawa kalian ke lokasi Grojogan Sewu, Kulonprogo. Perjalanan dari kota Jogja ke Grojogan Sewu ini memakan waktu sekitar 1,5 jam saja. Setelah memarkirkan kendaraan di tempat yang tersedia, kami langsung air terjunnya. Dari parkiran kita harus jalan lagi menuruni sebuah jalan setapak yang sudah dibuat oleh pengelolanya melewati hutan desa setempat. Tidak sampai 15 menit akhirnya sampai di air terjun Grojogan Sewu.

Panorama Grojogan Sewu dari Atas
Saat kami kesana, airnya cukup deras, mungkin karena dua hari terakhir hujan turun rutin. Air terjun ini memiliki bentuk cukup unik dengan sungai berkelok dan menurunnya. Ada beberapa tingkat air terjun dari yang jatuh 90 derajat, ada yang berbentuk mirip Perosotan. Batuan dasar air terjun dan sungai kecilnya juga unik, berwarna putih, sehingga permukaan dasarnya terlihat cantik. Air terjun paling atas mempunyai dasar agak kehijauan karena tertutup lumut, biasanya saat air deras lumut tidak terlihat. Jangan berenang dan main air di bawah air terjun utama karena di bawahnya merupakan sebuah kedung yang cukup dalam.

kursi sederhana untuk duduk menikmati suasana
Di sekitar air terjun juga keadaannya cukup sejuk, rimbunan pohon hutan desa, bunyi serangga hutan beserta riuhnya suara air-air yang jatuh dan mengalir di Grojogan Sewu. Nikmat banget alam  disini. Saya pun salut dengan pengelolanya membuat taman kecil, bangku-bangku sederhana untuk bisa istirahat dan duduk menikmati alam air terjun Grojogan Sewu. Fasilitas yang cukup memadai seperti kamar ganti/kamar mandi yang bersih, dan lokasi tempat sampah yang di taruh ditempat pas.


Mengunjungi air terjun ini bisa juga mengunjungi 6 air terjun lainnya yang ada di dekat ini (Baca 6 Air Terjundi Desa Jatimulyo) atau bisa menikmati pemandangan alam Gunung Gajah dengan panorama Waduk Sermo dan perbukitan menoreh dari atas.

Monday, December 7, 2015

Pantai Watutopi, Pantai Tersembunyi di Gunungkidul

Pantai dan karang Watutopi-nya
Pantai Watu Topi, nama yang unik dan seperti namanya pantai ini dinamakan demikian pasti ada watu (batu) bentuknya seperti “Topi”.

Pantai Watutopi letaknya berada di sebelah timur pantai Jungwok dan sebelah barat pantai Greweng. Pantai berpasir putih namun hanya sedikit sekali dan sebagian besar banyak karangnya. Dibagian timur pantai terdapat batu karang agak menjorok laut. Karena batu karang itulah pantai ini bernama pantai Watutopi.  Jika dilihat dari karakternya pantai ini menjadi pilihan para pencari lobster memasang perangkap di selah-selah tebing karang.
peta Pantai Watutopi

Untuk ke pantai Watutopi ini rutenya kalian harus ke Pantai Jungwok terlebih dahulu, karena pantai Watutopi ini letaknya di sebelah timur pantai Jungwok.  Rute Dari Jogja ke Pantai Watutopi, pertama ambil jalan wonosari- bukit bintang- patuk – hutan bunder – kota Wonosari – Jalan kearah pantai Baron – pertigaan goa Nginggrong ikuti petunjuk jalan ke pantai Siung dan Wediombo – sampai di pertigaan pantai Siung ikuti petunjuk arah ke pantai Wediombo – di dekat sebelum  parkiran pantai Wediombo, ada jalan kecil sebelah kiri dengan papan petunjuk pantai Jungwok – ikuti sampai Pantai Jungwok lalu parkirkan kendaraan anda di sana – tanya saja dengan petugas parkir atau warga setempat jalan menuju pantai Watutopi, intinya kalian Cuma tinggal muterin bukit sebelah timurnya pantai Jungwok aja kok J.

jalan setapaknya
Awalnya kami tidak berencana untuk mampir ke pantai ini, berhubung pencari lobster yang kami temui pagi-pagi di pantai Jungwok bilang ada sebuah pantai kecil di balik bukit sebelah timurnya, kami memutuskan untuk mencoba kesana. Awalnya kami ingin susur lewat tebing sebelah timurnya supaya lebih cepat namun karena ombaknya sedang ganas dan pasang. Demi keamanan, kami ya memutuskan untuk memutari bukit timur pantai Jungwok saja. Jalan setapak tersebut membawa kami melewati ladang-ladang masyarakat, dan kebetulan karena kami ragu sama jalan setapaknya, kami tidak malu bertanya kepada yang sedang bekerja di ladang. Sekitar 15-20 menit berjalan sampailah kita di pesisir tebing pantai Watutopi. Untuk ke pantai Watutopi, kami harus turun dengan tangga yang sudah tersedia.
Yippii sampe di Pantai Watutopi

tangga turunnya
Yap, ternyata memang benar adanya, pantai Watutopi cukup kecil, pasirnya sedikit dan lebih banyak batu karang. Kemah disini tidak mungkin bisa karena jika dilihat-lihat jika air pasang akan menutupi pasir pantainya. Soal batu karang yang mirip topi juga ada di sebelah timurnya. Ingin mendekat kea rah Watutopinya namun ombaknya lagi cukup kencang. Kami mengurungkan niat dan memilih memakan bekal nasi bungkus yang kami bawa. Setelah puas dan kenyang makan bekalnya, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Greweng yang berada agak jauh dari Pantai Watutopi ini.

panorama Pantai Watutopi
n.b : cuaca mendung, kurang puas, semoga suatu saat ada waktu kami mencoba kesini lagi :D


Monday, November 30, 2015

Pagi-Pagi Ke Pantai Jungwok, Gunungkidul


Selamat pagi, Jungwok!!

bukan berarti nama dari sebuah tempat di Korea Selatan, tapi nama dari sebuah pantai di Gunungkidul, tepatnya di Desa Jepitu Kecamatan Girisubo, Gunungkidul, Yogyakarta. Dan letaknya berdekatan dengan Pantai Wediombo.

Petunjuk jalan ke Jungwok sebelum parkiran pantai Wediombo
Kali ini kami ingin menikmati pagi di Pantai, dan kebetulan juga salah seorang dari kami ingin mencoba pantai-pantai yang letaknya di sebelah timur Wediombo. Jatuhlah pilihan kami yaitu Pantai Jungwok. Kami berangkat pagi sekitar jam 2 dini hari dari Kota Jogja. Rute ke pantai Jungwok cukup mudah, dari kota Jogja arahkan kendaraan menuju jalan Wonosari – Bukit Bintang – Patuk – Hutan Bunder Wanagama – Kota Wonosari – sampai kota Wonosari ikuti petunjuk jalan yang mengarahkan ke Pantai Baron/Kukup – ikuti jalan tersebut sampai di pertigaan Nginggrong yang ada papan petunjuk jalan ke pantai Siung – Ikuti arah papan petunjuk ke Siung sampai menemukan petunjuk jalan ke Pantai Wediombo -  Sebelum parkiran pantai Wediombo, ada petunjuk jalan kea rah pantai Jungwok yang terbuat dari kayu –ikuti saja petunjuk jalan tersebut nanti anda akan sampai di tepi Pantai Jungwok.

Sekitar jam 4 pagi, kami pun sampai di tepi pantai Jungwok, masih sepi tiada yang kemah hari itu mungkin karena hari ini bukan Weekend . Kami hanya berjumpa beberapa pemancing dari atas tebing dan pencari Lobster yang mulai berangkat melintasi ke balik tebing timur Jungwok. Perlahan dan pasti gelap malam mulai memudar, warna pagi matahari memaksa menembus gumpalan awan mendung pagi itu. Sunrise pagi indah sekali, langit berwarna merah-ungu belum lagi pantulan-panmtulan warna air lautnya. Matahari makin meninggi, keindahan pantai Jungwok secara utuh mulai terlihat jelas.
Selamat Pagi Jungwok :)

Panorama Pagi di Jungwok, foto dari sisi timur
Pantai Jungwok memiliki garis pantai melengkung agak panjang, berpasir putih yang agak kasar, beberapa masih terdapat cangkang karang yang masih utuh. Terdapat sebuah bukit kecil yang letaknya tidak jauh dari garis pantai namun cukup berbahaya untuk di dekati karena ombaknya cukup besar di dekat pulau tersebut. Kami coba melihat ke tebing sebelah timur pantai Jungwok. Kami bertemu dengan bapak pencari Lobster, bapaknya mendapatkan beberapa lobster yang terjebak di perangkapnya.
bapak pencar lobster
Fasilitas yang ada di pantai ini tidak sebagus yang ada di Wediombo maupun pantai-pantai lain seperti Indrayanti, Sundak, Kukup dll. Tidak ada penjual makanan yang tiap hari berjualan, tempat pembuangan sampah juga minim, sehingga pengunjung diharuskan untuk membawa kembali sampah yang mereka hasilkan. Akses jalan masuk ke kawasan pantai belum baik namun bisa di lewati kendaraan mobil atau motor. Update terakhir yang saya dengar katanya di Jungwok ada fasilitas Snorkeling juga.


Setelah puas explore dan menikmati pantai Jungwok, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Watutopi, Greweng dan Sedahan yang berada di sebelah timur dari pantai Jungwok!! :)

Monday, November 23, 2015

Saparan Bekakak, Ambarketawang - Tradisi Budaya Unik Jogja Di Bulan Sapar

Salah satu Ogoh-Ogoh Unik
Yogyakarta memang punya kebudayaan yang unik, apalagi budaya unik dari Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta saat bulan Sapar (pada tanggalan Jawa) terdapat tradisi Budaya Saparan Bekakak dimana akan terdapat banyak Ogoh-ogoh dalam berbagai bentuk dari yang berbentuk hewan sampai berbentuk Hantu Kalong Wewe ada juga Hantu Gondoruwo :D

Sepasang Bekakak (Pengantin) dari Beras Ketan
Cerita terjadinya tradisi Saparan Bekakak ini berawal keinginan Abdi Dalem kesayangan dari Sri Sultan HB I yaitu bernama Kyai Wirasuta dan Nyi Wirasuta yang merupakan pasangan Suami-Istri hendak membangun sebuah Kraton di tempat Kerajaan dan Kediaman Sultan. Selama masa pembangunan kraton, Sultan tinggal sementara di sebuah Pesanggrahan daerah Ambarketawang, Gamping.  Setelah pembangunan selesai dan Sri Sultan hendak pindah ke Kraton namun kedua abdi dalem Kyai Wirasuta dan Nyi Wirasuta memilih menetap di bekas Pesanggrahan Sultan tersebut. Namun pada bulan Sapar tepatnya hari Jum’at Kliwon terjadi bencana berupa runtuhnya Gunung Gamping yang menewaskan kedua abdi dalem tersebut  dan anehnya jasad keduanya tidak dapat ditemukan. Setelah kejadian itu setiap bulan Sapar terjadi bencana serupa dan akhirnya Sri Sultan bertitah kepada masyarakat Ambarketawang untuk melakukan tradisi selamatan dengan menyembeli sepasang Bekakak (Pengantin) dengan bahan dari beras ketan. Tradisi Penyembelihan tersebut dimaksud agar tidak korban bencana Gunung Gamping yang serupa. Pada versi lain menyebutkan tradisi penyembelihan Bekakak ini juga sebagai Tipu muslihat untuk menipu Setan-setan dan hawa jahat yang ada di Gunung Gamping agar tidak meminta korban lagi.
Ogoh-ogoh dan anaknya Ogoh2

Walau seiring jalannya waktu masyarakat masih tetap menjaga tradisi tersebut hingga saat ini masih tetap diselenggarakan pada hari Jum’at Kliwon Bulan Sapar di setiap tahunnya. Tradisini ini dilaksanakan sehabis solat Jumat, biasanya jam 2 siang dengan titik Start dari Lapangan Desa Ambarketawang.  Dilapangan tersebut akan  Ogoh-ogoh dari beberapa dusun di Desa Ambarketawang telah hadir. Kehadiran Ogoh-ogoh dianggap sebagai pengganti setan-setan yang menghuni Gunung Gamping yang kerap kali mengganggu manusia.  Acara dimulai dengan melakukan arak-arakan Bekakak beserta Ogoh-ogoh keliling Desa Ambarketawang dan setelahnya dilakukan penyembelihan di dua tempat berbeda yaitu di cagar alam Gunung Gamping dan di depan Kampus Stikes, Ring Road Barat. Dua tempat inilah dulunya terdapat Gunung Gamping yang meresahkan tersebut.

Pawai memutari Desa Ambarketawang
Acara berlangsung cukup meriah, karena ada kehadiran ogoh-ogoh. Tradisi ini terlihat beda dari yang lain. Karena itu, tidak hanya dari warga Ambarketawang saja bahkan sempet bertemu warga dari "Negeri Tetangga" Solo. Lebih baik datang jam 1 untuk bisa dapat tempat enak untuk menikmati tradisinya juga bisa foto-foto dengan peserta pawai dan Ogoh-ogohnya di Lapangan Kelurahan Ambarketawang. Jika datang telat, jalanan sudah ditutup dan kita tidak bisa masuk karena saking rapat dan banyaknya warga yang menyaksikan tradisi Saparan Bekakak ini


Untuk melihat acara ini gratis kok, kita tinggal datang ke hari Tradisinya yang dimulai di Lapangan Kelurahan Ambarketawang, Gamping yang letaknya sebelah barat dari pasar Buah Gamping serta berakhir di Cagar Alam Gunung Gamping dan di Depan Kampus Stikes Ring Road untuk melakukan Penyembelihan Bekakak. Dari Tugu kita tinggal ke arah barat melewati jalan Godean sampai perempatan ringroad barat Demak Ijo. Ambil kiri menuju arah selatan sampai bertemu perempatan lampu merah jalan Wates. ambil ke kanan lalu bertemu pertigaan lampu lalu lintas ambil lurus melewati pasar Gamping sampai bertemu perempatan yang ada Indomaret kiri jalan, ambil ke kanan.

Upacara puncak yaitu penyembelihan Bekakak sifatnya agak keras, jika kalian orang tua yang mengajak anaknya melihat tradisi ini untu mengingatkan untuk tidak menirunya dirumah. Untuk tahun 2015 ini akan diadakan hari Jum’at, 27 November 2015.

Mahasiswi kampus stikes yang ikut berebut Gunungan :D


Selamat menikmati Tradisi Budaya Yogyakarta.


Monday, October 26, 2015

Pantai Watunene dan Tebing Benteng Alaminya


Emang Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta mempunyai pantai yang unik dan punya ciri khasnya masing-masing, salah satunya pantai Watunene, sebuah pantai yang mempunyai tebing layaknya Benteng. Benteng yang melindungi Keindahan Pantai tersebut.

Pantai Watunene di sebelah barat pantai Seruni

Pantai Watunene merupakan pantai baru yang masih belum populer. Secara administrasi letaknya di Desa Tepus, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul atau lebih tepatnya disebelah barat  pantai Seruni dan di sebelah timur pantai Pantai Pok Tunggal. Karena letaknya berdekatan dan searah,  mengunjungi pantai Watunene bisa sekalian berkunjung ke Pantai Pok Tunggal dan Pantai Seruni. Masih belum mendapatkan info arti penamaan Pantai Watunene, tebakan saya sih Watunene merupakan nama tebing unik yang membentag mengelilingi pantai tersebut. Karena bentuk tebingnya unik seperti Pantai Dreamland di Bali, kami menyebutnya Pantai Watunene itu sebagai Pantai Dreamlandnya Jogja.

pertigaan dengan petunjuk jalan pantai seruni
Rute menuju Pantai Watunene dari Jogja cukup mudah, hanya saja kita harus membawa atau menyewa kendaraan  karena tidak ada transportasi umum untuk menuju ke Pantai Watunene. Rutenya Jogja – Jalan Wonosari – Bukit Bintang – Patuk – Rest Area dan Hutan Bunder – Kota Wonosari – Jalan Baron – Pertigaan Goa Ngingrong ambil kiri (petunjuk arah pantai Siung, Wediombo dll) – Ikuti Jalan tersebut dan ikuti petunjuk arah ke arah pantai sampai menemukan pertigaan dengan petunjuk ke arah pantai Pok Tunggal dan ikuti petunjuk tersebut- Ikuti jalan tersebut  sampai menemukan lagi Plang masuk Pantai Pok Tunggal dengan jalan cor blok – ikuti Jalan tersebut sampai menemukan pertigaan dengan  papan petunjuk ke Pantai Seruni – Ikuti jalan tersebut sampai di Parkiran Pantai Seruni – Dari Parkiran tinggal menaiki bukit disebelah barat, kita akan bisa melihat pemandangan Pantai Watunene dengan Benteng Tebingnya itu dari atas. Dari atas tebing menuju pantai Watunene turunnya harap berhati-hati karena kondisi jalan setapak dengan turunan agak curam dengan sampingnya adalah jurang.  Setelah berhasil menuruni jalan setapak yang curam tersebut sampailah kita di Pantai Watunene.
jalan turun tebingnya tahun 2014 silam :o
pemandangan dari Atas
Jika dilihat dari atas, pasir panta Watunene dari tanah ke arah laut tidak terlalu luas, namun saat sampai  di bawah, pasir pantainya ternyata cukup luas apalagi di pantai tersebut saat itu hanya ada kami bertiga dan salah satu warga setempat yang sedang istirahat di gubuk kecil di pinggir pantai. Pantai ini memiliki hamparan pasir yang memanjang dari ujung barat ke ujung timur, dan di ujung timur terdapat banyak tumpukan batuan putih mulus berkumpul di satu tempat. Keistimewaan dan ciri khas pantai ini yaitu tebing menjulang tinggi dan membentang mengelilingi Pantai Watunene layaknya sebuah benteng. Tebingnya juga unik, batuan yang menyusun tebing membentuk garis-garis yang indah untuk dinikmati. Di tebing tersebut juga tumbuh beberapa tanaman, semak belukar dan bisa terlihat ada juntaian akar-akar pohon yang menggantung.
Tebing unik dan gubuk kecil milik warga setempat


sumber air tawarnya
Di Pantai ini ternyata terdapat sumber mata air tawar seperti pantai Seruni yang persis ada di sebelah timurnya. Sumber airnya bukan berasal dari bawah tanah atau bawah pasir melainkan dari atas tebing yang jatuh setetes-tetes dan sebagian mengalir dari sela-sela tebing. Karena ada sumber air tersebut warga setempat membentuk suatu wadah di bawah tetesan sumber air tersebut sehingga bisa menampung air tawar yang sewaktu-waktu bisa digunakan untuk minum saat mereka sedang mencari lobster, rumput laut (suket) atau melintas di pantai Watunene. Saya sedikit membayangkan jika setetes air tersebut menjadi sebuah air terjun, pasti pantai ini akan menajdi primadona baru di Gunungkidul.

Pantai Watunene pantai yang saya bilang cukup alami, dan keberadaannya masih cukup nyaman untuk dikunjungi. Kadang pantai ini dipilih sebagai tempat untuk berkemah atau camping. Sayangnya untuk menikmati senja disini cukup sulit karena senjanya kadang terhalang oleh bukit yang menjulang tinggi sehingga untuk menikmati senja kita harus dari atas bukit.



Sekedar mengingatkan ketika mengunjungi tempat ini, sampah-sampah dari bekal yang kita bawa tidak dibuang sembarangan dan baiknya dibawa kembali karena tidak ada tempat sampah di pantai ini. Selamat mengunjungi pantai-pantai Gunungkidul :)