Showing posts with label wisata religi. Show all posts
Showing posts with label wisata religi. Show all posts
Sunday, October 18, 2015

Thailand kecil di Kuil Dewa 4 Wajah, Surabaya


Surabaya mulai mengusik perhatian saya, setelah diberi seoprang teman brosur “Sparkling Surabaya” yang berisi wisata kota Surabaya yang menarik perhatian. Salah satunya adalah Patung Dewa Empat Wajah dengan pagoda emas sukses menghipnotislayaknya pergi ke Negara Thailand :)

Peta rute ke Kuil Dewa 4 Wajah dari Kota Surabaya
gapura masuk kenpark
Sore itu saya diantar salah seorang teman yang ada di Surabaya menuju Patung Dewa Empat Wajah yang letaknya berada di Kenpark atau dikenal juga dengan Pantai Ria Kenjeran atau Pantai Kenjeran Baru, Sebuah kawasan di pinggir pantai Kenjeran yang rencananya dibangun sebuah taman untuk hiburan warga Surabaya. Menuju ketempat ini dari pusat kota Surabaya cukup mudah, anda tinggal menuju jalan Kenjeran, dan Kenpark berada di ujung timur jalan Kenjeran tersebut. Setelah sampai di Kenpark, kita akan ditarik biaya sebesar 10 ribu untuk motor, kalau mobil mungkin lebih mahal. Setelah membayar tiket masuk kita tinggal menuju Patung Dewa 4 Wajah tersebut. Sayangnya Kenpark tidak menyediakan papan petunjuk yang memudahkan pengunjungnya, jadi kita harus mandiri bertanya-tanya pada orang yang ada di dalam kenpark.

dilihat dari bawah
Ganesha pada dewa Hindu
Patung Dewa 4 Wajah ini merupakan tempat ibadah umat Budha yang ada di Kenpark. Patung tersebut mirip dengan patung Phra Phrom (Four Faced Buddha) di Kuil Erawan, Bangkok, Thailand sehingga saya serasa terhipnotis berada di Thailand saat itu. Menurut info yang saya dapat patung itu merupakan patung Dewa Brahma dengan 4 wajah yang menghadap ke seluruh penjuru mata angin, dan melambangkan 4 sifat baik sang Buddha, yaitu welas asih, murah hati, adil, dan meditasi. Patung ini mempunyai 8 tangan yang melambangkan kehadiran dan kekuatan Sang Buddha. Salah satu dari tangan kanan memegang dada, sedangkan di 3 tangan kanan yang lain memegang cupu berisi air suci, tongkat kebesaran dan cakram (sejenis senjata berbentuk piringan). Air suci merupakan perlambang energi penciptaan semesta. Adapun tangan kiri patung terlihat sedang memegang tasbih, teratai, kitab suci dan kerang. Teratai merupakan lambang kekuatan yang memunculkan alam semesta.  Uniknya disini juga terdapat 4 patung Gajah yang ditempatkan di 4 penjuru mata angin, dan juga terdapat juga patung Dewa Ganesha yang merupakan dewa dalam agama Hindu.

Sampai matahari mulai merendah, kami masih terpaku dan menikmati seisi taman di tempat peribadahan. Ketika itu juga patung Dewa Empat Wajah beserta Pagodanya diterpa matahari dan menampakan warna keemasan. Bayangan patung dewa jatuh dengan indahnya di beranda tempat peribadahan ini. Subhanallah, sebuah pemandangan sore di Surabaya yang mengesankan :)

suasana sore di Kuil Dewa 4 Wajah
Jika Rezeki ke Thailandmu belum datang kenapa tidak coba mengunjungi tempat ini. Jika kamu beragama Budha bisa sekalian beribadah, dan yang beragama lain kita bisa menikmati suasananya tanpa mengganggu dan mengotori kasawan tempat Peribadahan tersebut.


Wednesday, February 19, 2014

Klenteng Hok Tek Bio, Pasar Baru - Klenteng Tua Yang Terlupakan


Di tengah perkembangan kota Jakarta yang pesat, Kawasan Pasar Baru pun terus tumbuh menjadi salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Selain itu, kawasan Pasar Baru ini merupakan salah satu kawasan tempat tinggal etnis Tiong Hoa di Jakarta yang sudah ada sejak jaman Belanda. Salah satu bukti, masih ada sisa-sisa arsitektur rumah jaman dahulu seperti atap, atau hiasan/ukiran di tembok rumah.  Namun sayangnya rumah-rumah tertutup bangunan toko-toko modern yang berdiri sejajar sepanjang jalan utama Pasar Baru. Di suatu gang yang sempit, terdapat Klenteng yang menjadi sudah menjadi saksi bisu perkembangan kawasan Pasar Baru lebih dari 300 tahun yang lalu, Hok Tek Bio namanya.

Untuk mencapai klenteng ini cukup mudah, kita bisa menggunakan kendaraan pribadi langsung menuju kawasan Pasar Baru, atau bisa menggunakan Busway TransJakarta dan Kereta. Jika menggunakan kereta, anda bisa turun di Stasiun Juanda, lalu dari stasiun tinggal berjalan kaki sekitar kurang dari 1 km akan sampai di depan gapura masuk kawasan Pasar Baru. Jika naik Transjakarta, bisa melalui rute trayek PGC-Harmoni transit di Juanda lalu ke Pasar Baru dan dari Harmoni-PGC tak perlu transit di Juanda.

Sesampainya di kawasan Pasar Baru, kita akan melihat gapura besar dan tinggi bergaya etnik Tiong Hoa, terukir tulisan “Pasar Baroe 1820” yang menandakan bahwa kawasan ini mulai berdiri pada tahun 1820. Melewati gapura, kita bisa melihat banyak toko-toko modern berdiri. Dari toko elektronik, toko pakaian, kain, kuliner dan lain-lain. Semakin memasuki kedalam, anda akan melihat plang petunjuk kecil menuju yayasan Vihara Dharma Jaya (Sin Tek Bio) nama lain dari Klenteng yang kita tuju. Plang petunjuk tersebut membawa kita melewati gang sempit yang hanya muat untuk 1-2 orang saja.

Tertulis jelas di tembok gang sempit yang kita lewati, kalau Klenteng ini berdiri sejak tahun 1698. Karena saya berkunjung tahun 2014 jadi umur klenteng ini kurang lebih adalah 316 tahun. Klenteng ini ada 3 tingkat namun digunakan tempat ibadah hanya sampai tingkat tida saja. Di dalam klenteng ini terdapat ratusan dewa yang berasal dari abad ke-17 dan abad ke-20 dengan 14 altar di ruang utama dan 14 altar di ruang atas. Dan yang menarik disini adanya altar-altar tokoh lokal seperti Mbah Raden, yang altarnya berisi peralatan tempat tidur seperti kasur, bantal guling mini, cangkir-cangkir teh. Menurut sumber yang saya baca enempatan altar tokoh lokal adalah suatu penghormatan para pendatang dari Tiongkok kepada wilayah dimana mereka tinggal. Altar ini merupakan bentuk akulturasi kepercayaan pendatang dan kepercayaan lokal.

suasana dalam klenteng
suasana dalam klenteng

Klenteng ini dibuka untuk siapa saja baik yang ingin beribadah atau sekedar wisata seperti saya. Kita tidak ditarik biaya masuk, hanya saja berkunjung ke klenteng ini harap berlaku sopan karena merupakan tempat ibadah. Ada baiknya saat berkunjung ke sini, berbicara dahulu meminta ijin kepada petugas yang ada di klenteng ini.



nb : berkunjung kesini kita bisa sekalian kuliner terkenal di lokasi dekat sini,, tunggi tulisan berikutnya ya J
Friday, January 24, 2014

Berziarah ke Makam Sultan Hassanudin dan Raja-Raja Gowa

Kota Makassar, kota yang menyimpan banyak sejarah, salah satu yang terkenal adalah kisah Sultan Hassanudin dari kerajaan Gowa yang berjuang gigih mengusir penjajah dari Nusantara ini. Dalam kunjungan singkat di kota Makassar saya menyempatkan diri berziarah ke makam beliau. Mengirimkan doa dan sekaligus mengenang jasa-jasa Sultan Hassanudin.

Makam Sultan Hassanudin berada di komplek pemakamam raja-raja Gowa yang letaknya di Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Lokasinya sangat mudah dijangkau baik dengan kendaraan pribadi/sewa atau naik Pete-Pete (nama angkutan umum di Makassar). Sebelum berziarah, terlebih dahulu saya mengunjungi Istana Kerajaan Gowa karena letaknya searah dengan makam Sultan Hassanudin.  Dari Kota Makassar (dekat Tugu Mandala) saya naik pete-pete warna merah yang menuju arah jalan Sultan Hassanudin Kabupaten Gowa, nanti setelah memasuki jalan akan terlihat papan petunjuk jalan dan jalan masuk menuju Makam Sultan Hassanudin. Dari jalan masuk tersebut kita bisa jalan kaki sekitar 2-3 km atau naik bentor (becak motor) yang mangkal di pinggir jalan. Perjalanan dari Kota Makassar ke makam raja-raja Gowa cukup singkat hanya sekitar 20 menit - 30 menit saja

patung sultan Hassanudin
Akhirnya sampai di depan komplek makam raja-raja Gowa. Tempatnya terlihat sepi, namun terawatt dan mempunyai taman yang cukup rapi. Saat memasuki gerbang masuk makam raja berbentuk seperti rumah kecil. Di Tengah ruangan tersebut akan terlihat sebuah patung Sultan Hassanudin yang terlihat gagah dengan pakaian kebesarannya. Di dinding kiri-kanan gerbang masuk tersebut tertulis silsilah kerajaan serta kisah singkat raja-raja Gowa yang dimakamkan termasuk sultan Hassanudin.

Sultan Hasanuddin merupakan putera kedua dari Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke -15. Pahlawan nasional yang bernama asli I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe lahir di Makassar 12 Januari 1631 dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670. Setelah memeluk agama Islam, raja Gowa ke-16 ini mendapat tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, yang kemudian dikenal dengan Sultan Hasanuddin (wikipedia.com).

Saya beruntung saat saya berkunjung kesana, sedang ada satu keluarga yang berziarah mendoakan para pejuang yang telah lama gugur, saya bisa ikut berdoa bersama. Dengan khusuknya lantunan doa-doa diucapkan sampai diakhiri dengan mengucapkan kalimat “Amin”.  Jasamu selalu dikenang pahlawan!!





Niatnya sehabis berziarah ketempat ini, saya berniat menuju masjid Katangka, yang katanya masjid tertua disana. Sayangnya saat bertanya penduduk setempat, banyak yang tidak tahu dimana letaknya. Semoga next time bisa kesana J
Monday, January 20, 2014

Kunjungan singkat ke Mesjid Terapung, Makassar


Menjelang sore, saya sudah duduk tenang di samping supir pete-pete (angkutan umum di kota Makassar) menuju kawasan Pantai Losari. Mengunjungi kawasan ini terdapat masjid yang unik, uniknya karena berada diatas laut. Mesjid ini harus kalian kunjungi saat kita berada di kota Makassar. Masjid Terapung Amirul Mukminin namanya. Mesjid yang menjadi salah satu tempat yang wajib kita kunjungi saat berada di Makassar khususnya jika sedang mengunjungi pantai Losari. Letaknya tidak jauh dari tulisan pantai Losari, hanya berjarak sekitar 200 meter ke arah selatan. Mencapainya dari pusat kota pun cukup mudah karena banyak kendaraan umum yang menuju kawasan ini.

Mesjid ini dibangun terapung di atas teluk Makassar disangga dengan tiang-tiang yang berjumlah 99. Angka 99 ini konon merupakan lambang dari Asmaul Husna (99 Sifat Allah). Mesjid ini juga mempunyai desain arsitektur yang menawan, dengan warna dominan putih, abu-abu serta warna biru untuk bagian kubahnya dan terdapat dua buah menara yang berdiri tegak di sisi-sisi masjid ini. tak kalah dengan luarnya, arsitektur bagian dalamnya juga mempesona.

Mesjid ini terbuka untuk siapa saja baik yang ingin beribadah maupun yang sekedar ingin melihat-lihat. Kita hanya menjaga ketenangan dan kesopanan karena merupakan kawasan tempat ibadah. Mesjid ini ramai mulai sore hari, orang-orang mulai berdatangan untuk menikmati senja di sekitar masjid dan kawasan pantai losari. Banyak yang bilang, masjid ini adalah masjid yang romantis. Ketika senja mulai tenggelam warna masjid ini seolah-olah berubah memancarkan keindahannya yang tak kalah dengan indahnya senja.
di halaman mesjid
suasana saat malam

Sayangnya saya tidak sempat mengabadikan senja di sekitar masjid ini, karena terlalu menikmati senja di lokasi sebelah, Pantai Losari. Moga ada kesempatan lagi buat mengabadikan foto masjid ini saat senja.. Amin :D