Showing posts with label wisata sulawesi selatan. Show all posts
Showing posts with label wisata sulawesi selatan. Show all posts
Monday, January 27, 2014

Menelisik Kerajaan Kupu-Kupu Bantimurung - Perlahan Menghilang


Mengunjungi Negeri Peri

Tersirat dalam pikiran ketika menempuh perjalanan ke Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Banyak yang bilang Bantimurung ini merupakan kerajaan kupu-kupu yang ada di Indonesia, karena disini merupakan habitat dari sedikitnya 250 jenis kupu-kupu dan 20 jenisnya termasuk jenis yang dilindungi. TN ini terletak di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan atau berjarak sekitar 42 km dari kota Makassar, atau jika dari bandara Internasional Hassanudin hanya berjarak 21 km.

Untuk mencapai kesini cukup mudah, selain papan petunjuk jalan jelas, banyak Pete-Pete (angkutan umum) yang melewati lokasi ini. Dari kota Makassar, saya berangkat naik Pete-Pete menuju Terminal Daya. Dari terminal daya saya mengganti pete-pete yang menuju arah Maros. Naik angkot dari terminal daya ke Maros lebih baik Tanya terlebih dahulu apakah nanti akan melewati Taman Nasional Bantimurung atau tidak. Biasanya jika tidak melewati TN Bantimurung. Kita akan diingatkan untuk turun di terminal pasar Maros lalu ganti angkutan lagi menuju TN Bantimurung. Perjalanan dari kota Makassar memakan waktu perjalanan selama 30 menit. Sepanjang perjalan dari pasar Maros menuju TN Bantimurung akan terlihat sawah, lading masyarakat setempat  berlatar pegunungan Karst yang indah. Sesekali ada kuda dan kerbau yang sedang merumput di ladang.
sayapnya rusak
Sesampainya di TN Bantimurung, kita bisa langsung melihat kupu-kupu raksasa bersayap hijau kebiruan. Namun bukan kupu-kupu hidup tapi hanya patung kupu-kupu yang melambangkan sebagai patung selamat datang. Setelah patung kupu-kupu kita langsung disambut oleh patung spesies kera hitam yang tinggal di TN ini. Perjalanan dari jalan utama menuju loket masuk TN Bantimurung kita masih harus berjalan kaki sekitar 2-3 km.  Untuk memasuki kawasan TN Bantimurung ini kita hanya tinggal mengeluarkan Rp. 15 ribu. Harga yang pantas untuk memasuki kawasan ini. selain kita bisa menikmati daya tarik kerajaan Kupu-Kupu, kita bisa menikmati suasana alam yang masih asri, Goa dan tentunya air terjun Bantimurung yang terkenal se Sulawesi Selatan ini.

Suasananya sepi, karena saya datangnya kepagian. Sepertinya saya pengunjung pertama hari ini. bahkan Kupu-kupu pun belum berdatangan. Saya lebih memilih menikmati air terjun Bantimurung dahulu beserta Gua yang ada disana. Setelah keluar dari Goa ternyata kupu-kupu sudah mulai bermunculan. Ada yang sedang hinggap di pinggiran sungai ataupun berterbangan. Biasanya kupu-kupu yang hinggap jika kita dekati akan berterbangan, jadi untuk mendekatinya harus perlahan-lahan. Jika terlanjur berterbangan kita tunggu saja di lokasi sebelumnya, biasanya kupu-kupu tersebut akan kembali  hinggap ketempat sebelumnya.
narsis dulu di air terjun Bantimurung

Kupu-Kupu yang hinggap
Pilihan waktu yang tepat untuk melihat Kupu-Kupu disini lebih baik saat musim kemarau sekitar mulai bulan Maret – Oktober. Karena aktivitas kupu-kupu aktif saat suhu dan intensitas cahaya tertentu. Jika suhu dan cahaya terlalu rendah, kupu-kupu cenderung pasif dan tidak terlihat di sekitar kawasan ini. Katanya ada yang bilang pakailah baju yang cerah seperti yang saya pakai, supaya menarik perhatian kupu-kupu disana.


cinderamata yang bisa kita beli :)
Ada pendapat, kalau  di kerajaan ini, kupu-kupunya mulai jarang dijumpai, banyak sumber menyebutkan karena adanya penangkapan kupu-kupu yang terlalu berlebihan untuk dijadikan cinderamata yang bisa kita beli di kawasan parkir TN Bantimurung. Bisa juga karena semakin banyaknya wisatawan yang datang ke lokasi ini, kupu-kupunya mulai terganggu dan lebih masuk kedalam kawasan hutan yang lebih dalam. Baiknya adanya pembuatan penakaran yang dikhususkan untuk pembuatan cinderamata, sehingga para pembuat cinderamata tidak menangkap kupu-kupu liar di habitatnya. Padahal suatu kebanggaan Indonesia khususnya wilayah Sulawesi mempunyai Kerajaan Kupu-Kupu layaknya Negeri Peri. Amat disayangkan jika kerajaan kupu-kupu cantik ini sampai runtuh senasib sama seperti kerajaan lainnya. Semoga Kerajaan Kupu-Kupu tetap berjaya, lestari dan tidak punah.
Friday, January 24, 2014

Berziarah ke Makam Sultan Hassanudin dan Raja-Raja Gowa

Kota Makassar, kota yang menyimpan banyak sejarah, salah satu yang terkenal adalah kisah Sultan Hassanudin dari kerajaan Gowa yang berjuang gigih mengusir penjajah dari Nusantara ini. Dalam kunjungan singkat di kota Makassar saya menyempatkan diri berziarah ke makam beliau. Mengirimkan doa dan sekaligus mengenang jasa-jasa Sultan Hassanudin.

Makam Sultan Hassanudin berada di komplek pemakamam raja-raja Gowa yang letaknya di Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Lokasinya sangat mudah dijangkau baik dengan kendaraan pribadi/sewa atau naik Pete-Pete (nama angkutan umum di Makassar). Sebelum berziarah, terlebih dahulu saya mengunjungi Istana Kerajaan Gowa karena letaknya searah dengan makam Sultan Hassanudin.  Dari Kota Makassar (dekat Tugu Mandala) saya naik pete-pete warna merah yang menuju arah jalan Sultan Hassanudin Kabupaten Gowa, nanti setelah memasuki jalan akan terlihat papan petunjuk jalan dan jalan masuk menuju Makam Sultan Hassanudin. Dari jalan masuk tersebut kita bisa jalan kaki sekitar 2-3 km atau naik bentor (becak motor) yang mangkal di pinggir jalan. Perjalanan dari Kota Makassar ke makam raja-raja Gowa cukup singkat hanya sekitar 20 menit - 30 menit saja

patung sultan Hassanudin
Akhirnya sampai di depan komplek makam raja-raja Gowa. Tempatnya terlihat sepi, namun terawatt dan mempunyai taman yang cukup rapi. Saat memasuki gerbang masuk makam raja berbentuk seperti rumah kecil. Di Tengah ruangan tersebut akan terlihat sebuah patung Sultan Hassanudin yang terlihat gagah dengan pakaian kebesarannya. Di dinding kiri-kanan gerbang masuk tersebut tertulis silsilah kerajaan serta kisah singkat raja-raja Gowa yang dimakamkan termasuk sultan Hassanudin.

Sultan Hasanuddin merupakan putera kedua dari Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke -15. Pahlawan nasional yang bernama asli I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe lahir di Makassar 12 Januari 1631 dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670. Setelah memeluk agama Islam, raja Gowa ke-16 ini mendapat tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, yang kemudian dikenal dengan Sultan Hasanuddin (wikipedia.com).

Saya beruntung saat saya berkunjung kesana, sedang ada satu keluarga yang berziarah mendoakan para pejuang yang telah lama gugur, saya bisa ikut berdoa bersama. Dengan khusuknya lantunan doa-doa diucapkan sampai diakhiri dengan mengucapkan kalimat “Amin”.  Jasamu selalu dikenang pahlawan!!





Niatnya sehabis berziarah ketempat ini, saya berniat menuju masjid Katangka, yang katanya masjid tertua disana. Sayangnya saat bertanya penduduk setempat, banyak yang tidak tahu dimana letaknya. Semoga next time bisa kesana J
Monday, January 20, 2014

Kunjungan singkat ke Mesjid Terapung, Makassar


Menjelang sore, saya sudah duduk tenang di samping supir pete-pete (angkutan umum di kota Makassar) menuju kawasan Pantai Losari. Mengunjungi kawasan ini terdapat masjid yang unik, uniknya karena berada diatas laut. Mesjid ini harus kalian kunjungi saat kita berada di kota Makassar. Masjid Terapung Amirul Mukminin namanya. Mesjid yang menjadi salah satu tempat yang wajib kita kunjungi saat berada di Makassar khususnya jika sedang mengunjungi pantai Losari. Letaknya tidak jauh dari tulisan pantai Losari, hanya berjarak sekitar 200 meter ke arah selatan. Mencapainya dari pusat kota pun cukup mudah karena banyak kendaraan umum yang menuju kawasan ini.

Mesjid ini dibangun terapung di atas teluk Makassar disangga dengan tiang-tiang yang berjumlah 99. Angka 99 ini konon merupakan lambang dari Asmaul Husna (99 Sifat Allah). Mesjid ini juga mempunyai desain arsitektur yang menawan, dengan warna dominan putih, abu-abu serta warna biru untuk bagian kubahnya dan terdapat dua buah menara yang berdiri tegak di sisi-sisi masjid ini. tak kalah dengan luarnya, arsitektur bagian dalamnya juga mempesona.

Mesjid ini terbuka untuk siapa saja baik yang ingin beribadah maupun yang sekedar ingin melihat-lihat. Kita hanya menjaga ketenangan dan kesopanan karena merupakan kawasan tempat ibadah. Mesjid ini ramai mulai sore hari, orang-orang mulai berdatangan untuk menikmati senja di sekitar masjid dan kawasan pantai losari. Banyak yang bilang, masjid ini adalah masjid yang romantis. Ketika senja mulai tenggelam warna masjid ini seolah-olah berubah memancarkan keindahannya yang tak kalah dengan indahnya senja.
di halaman mesjid
suasana saat malam

Sayangnya saya tidak sempat mengabadikan senja di sekitar masjid ini, karena terlalu menikmati senja di lokasi sebelah, Pantai Losari. Moga ada kesempatan lagi buat mengabadikan foto masjid ini saat senja.. Amin :D
Friday, January 17, 2014

Angkutan Pete-Pete Makassar dan Rutenya

foto dari sini
Pete-pete merupakan sebutan dari angkutan umum yang ada di kota Makassar.  Pete-pete di Makassar berwarna biru muda, sehingga terlihat “ngjreng” di jalan-jalan kota.  Pengalaman selama di Makassar, Pete-pete ini sangat membantu saya untuk menuju beberapa destinasi wisata Makassar dan sekitarnya. Daripada jika saya menyewa kendaraan yang jatuhnya lebih mahal, dengan pete-pete ini kita bisa sekalian bisa bercakap-cakap dengan penduduk setempat,juga sekaligus mengorek info seputar kota Makassar. Sambil menikmati perjalanan, sang supir sering kali menyalakan lagu-lagu dengan volume yang agak kecang. Lagu yang diputar tiap pete-pete beragam tergantung supirnya, dari musik pop, dangdut, melayu bahkan sampai ada lagu yang melow-melow banget. Sambil menikmati lagu yang diputar, suasana jalan, pete-pete ini membawamu sampai tujuan :)

Angkutan Pete-pete jumlahnya cukup banyak dan mudah dijumpai, sehingga kita tak perlu lagi menunggu terlalu lama, bahkan menunggu angkutan bukan di jalan besar pun tidak sampai  10 menit. Pete-pete ini terbagi dalam berbagai trayek yang menyelusuri sampai ke sudut-sudut kota Makassar dan sekitarnya. Berikut daftar rute trayek Pete-petenya :

KODE A
Berangkat : BTN Minasa Upa - Syech Yusuf - Sultan Alauddin - Andi Tonro - Kumala - Ratulangi - Jendral Sudriman (Karebosi Timur) - HOS Cokroaminoto (Sentral) - KH. Wahid Hasyim - Wahidin Sudirohusodo - Pasar Butung
Kembali  : Pasar Butung - Sulawesi - Riburane Achmad Yani (Balaikota) - Jendral Sudirman - Ratulangi (MaRI) - Landak - Veteran - Sultan Alauddin - Syech Yusuf - BTN Minasa Upa

KODE B
Berangkat : Terminal Tamalate - Malengkeri - Daeng Tata - Abdul Kadir - Dangko - Cendrawasih - Arief Rate - Sultan Hasanuddin - Patimura - Ujungpandang - Riburane - Jendral Achmad Yani (Balaikota) - Pasar Butung
Kembali  : Pasar Butung - Sulawesi - Achmad Yani - Kajaolalido (Karebosi Timur) - Botolempangan - Arief Rate - Cendrawasih - Dangko - Abdul Kadir - Daeng Tata - Malengkeri - Terminal Tamalate.

KODE C
Berangkat : KH.Wahid.Hasyim - DR Wahidin Sudirohusodo- Buru - Bandang - Masjid Raya - Cumi-cumi - Pongtiku - Ujungpandang Baru - Gatot Subroto - Juanda - Regge – Rappokalling
Kembali : Rappokalling - Korban 40 ribu - Juanda - Gatot Subroto - Ujungpandang Baru - Pongtiku - Datok Ditiro - Sunu - Masjid Raya - Bawakaraeng - Jenderal Sudirman - HOS Cokroaminoto - KH.Wahid Hasyim - Makassar Mall

KODE D
Berangkat : Terminal Daya – Sudiang - Perintis Kemerdekaan - Urip Sumoharjo - AP. Pettarani - Bawakaraeng - Latimojong - Andalas - Laiya - Selatan Makassar Mall
Kembali : Selatan Makassar Mall - HOS Cokroaminoto - Bulusaraung - Masjid Raya - Urip Sumoharjo - Perintis Kemerdekaan - Terminal Daya

KODE E
Berangkat  :  Terminal Panakkukang - Toddoppuli - Tamalate - Emmy Saelan - Mapala - AP. Pettarani - Maccini Raya - Urip Sumoharjo - Bawakaraeng - Latimojong - Andalas - Laiya - KH.Agus Salim -Timur Makassar Mall
Kembali : KH. Agus Salim - Pangeran Diponegoro - Bandang - Masjid Raya - Urip Sumoharjo -AP. Pettarani - Mapala - Emmy Saelan - Tamalate - Todoppuli - Terminal Panakkukang

KODE F
Berangkat : Terminal Tamalate - Mallengkeri - Daeng Tata - Daeng Ngeppe - Kumala - Veteran - Bandang - Buru - Andalas - Satangnga - KH. Agus Salim - Timur Makassar Mall
Kembali : KH Agus Salim - Pangeran Diponegoro - Andalas - Buru - Bandung - Veteran - Sultan Alauddin - Andi Tonro - Kumala - Daeng Ngeppe - Daeng Tata -Mallengkeri - Terminal Tamalate

KODE G
Berangkat : Terminal Daya - Kima - TOL (Ir. Sutami) - Tinumbu - Cakalang - Yos Sudarso - Tentara Pelajar - Kalimantan - Pasar Butung
Kembali    : Pasar Butung - Kalimantan - Cakalang - Tinumbu - TOL (Ir. Sutami) - Kima - Terminal Daya

KODE H
Berangkat : Perumnas Antang - Antang Raya - Urip Sumiharjo - Bawakaraeng - Jenderal Sudirman - DR. Wahidin Sudirohusodo - Satando - Kalimantan - Pasar Butung
Kembali : Pasar Butung - Kalimantan - Satando - DR. Wahidin Sudirohusodo - Tentara Pelajar - Ujung - Bandang - Masjid Raya - Perumnas Antang

KODE I
Berangkat : Terminal Panakkukang - Toddopuli Raya - Borong - Batua Raya - Abdullah Daeng Sirua - AP. Pettarani - Pelita Raya - Sungai Sadang Baru -Sungai Saddang - Karungrung - Arif Rate - Sultan Hasanuddin - Pattimura - Pasar Baru
Kembali : Pasar Baru - Pattimura - Ujungpandang - Riburane - Ahmad Yani (Balaikota) - Kajaolalido - Botolempangan - Karungrung - Sungai Saddang - Sungai Saddang Baru - Pelita Raya - AP. Pettarani - Abdullah Daeng Sirua - Batua Raya - Borong - Toddopuli Raya -Terminal Panakkukang

KODE J
Berangkat : Terminal Panakkukang - Toddopuli Raya - Tamalate - Emmy Saelan - Sultan Alauddin - Andi Tonro - Kumala - Ratulangi - Jenderal Sudirman - HOS Cokroaminoto – Nusakambangan
Kembali  : Nusakambangan - Ahmad Yani - Jenderal Sudirman - DR. Sam Ratulangi - Landak - Veteran - Sultan Alaudin - Emmy Saelan - Tamalate - Toddopuli Raya - Terminal Panakkukang

KODE B1 (05)
Berangkat : Teminal Tamalate - Mallengkeri - Daeng Tata - Abd. Kadir - Dangko - Cendrawasih - Arif Rate - Sultan Hasanudin - Sawerigading - Botolempangan - Karunrung - Sungai Saddang - Latimojong - Masjid Raya - Urip Sumoharjo - Perintis Kemerdekaan - Kampus Unhas
Kembali : Kampus Unhas - Perintis Kemerdekaan - Urip SUmoharjo - Bawakaraeng - Kartini - Botolempangan - Arif Rate - Cendrawasih - Dangko - Abd. Kadir - Daeng Tata - Mallengkeri – Tamalate

KODE C1
Berangkat : Korban 40 ribu - Ujungpandang Baru - Pongtiku - Cumi-cumi - Laccukang - Sunu - Masjid Raya - Urip Sumoharjo - Perintis Kemerdekaan - Kampus Unhas
Kembali            : Kampus Unhas - Perintis Kemerdekaan - Urip Sumoharjo - Bawakaraeng - Jenderal Sudirman - HOS Cokroaminoto - DR. Wahidin Sudirohusodo - Tentara Pelajar - Ujung - Bandang - Masjid Raya - Sunu - Teuku Umar - Gatot Subroto - Korban 40 ribu

KODE E1 (07)
Berangkat : Terminal Panakkukang - Toddopuli Raya - Perumnas - Hertasning - AP. Pettarani - Kampus IKIP - Gunung Sari - AP. Pettarani - Pelita Raya - AP. Pettarani - Abdullah Daeng Sirua - PLTU - Urip Sumoharjo - Perintis Kemerdekaan - Kampus Unhas
Kembali : Kampus Unhas - Perintis Kemerdekaan - Urip SUmoharjo - PLTU - Abdullah Daeng Sirua - AP. Pettarani - Kampus IKIP - Gunung Sari - AP. Pettarani - Hertasning - Perumnas - Toddopuli Raya – Panakkukang

KODE F1 (02)
Berangkat : Terminal Tamalate - Mallengkeri - Daeng Tata - M. Tahir - Kumala - Veteran - Masjid Raya - Urip Sumoharjo - Perintis Kemerdekaan - Kampus Unhas
Kembali : Kampus Unhas - Perintis Kemerdekaan - Urip Sumoharjo - AP. Pettarani - Abubakar Lambogo - Veteran - Sultan Alauddin - Andi Tonro - Kumala - M.Tahir - Daeng Tata - Mallengkeri - Terminal Tamalate

Kode tiap Pete-pete bisa kita lihat di kaca depan mobilnya. Semoga info rute trayek Pete-Pete Makassar dan sekitarnye berguna buat temen-teman traveller yang mau mengunjungi kota Makassar ini J

Sumber Rutenya dari sini : Makassar Kota

Pantai Losari, Landmark Kota Makassar

suasana menjelang senja
Tidak ke Makassar , kalau tidak berkunjung ke Pantai Losari.

Pantai Losari, pantai ikon kota Makassar yang sudah menjadi agenda wajib para wisatawan jika berkunjung ke Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Di Pantai yang terletak di sebelah barat kota sering banyak dikunjungi pada waktu sore hari untuk sekedar menikmati senja yang terkenal indah maupun sekedar bersantai-santai menikmati waktu. Setelah senja berganti malam, keadaan pantai ini makin ramai dikunjungi terutama para muda-mudi yang memanfaatkannya sebagai tempat berkumpul.

Cukup mudah menuju pantai Losari, banyak Pete-pete (nama angkutan umum di Makassar) yang melewati pantai ini. Selain itu Becak atau Bentor (becak motor) maupun taksi siap mengantarkan kita menuju pantai ini. Jika ingin menghemat biaya transportasi, kita bisa memilih untuk naik Pete-Pete.

huruf2 raksasa dan mesjid terapung
Pantai Losari tidak memiliki pasir. Dari daratan kita langsung menjumpai laut yang dalam, sehingga disini pengunjung dilarang untuk bermain air dan berenang. Namun sebagai gantinya pantai Losari didesain unik dengan komposisi blok-blok batu yang enak dipandang. Tulisan tulisan raksasa bertulisakan pantai Losari, City of Makassar, dan lainnya menambah keunikan desain pantai ini. tidak hanya itu, di pantai ini terdapat Mesjid Terapung, Amirul Mukminin yang mempunyai arsitektur yang unik untuk kita lihat.

ikan bolu bakar
Tak perlu khawatir soal makanan, disini banyak pilihan-pilihan kuliner yang siap memanjakan perut kita. Yang terkenal di Pantai Losari ini yaitu Pisang Epe. Pisang Epe merupakan pisang mentah atau muda yang dibakar kemudian di epe atau di pipih, dan dicampur air gula merah. Makanan ini sangat nikmat dimakan saat masih hangat. Kini makanan Pisang Epe sudah banyak variasinya, ada yang dicampur dengan keju, coklat, maupun Durian. Di seberang jalan pantai Losari berdiri kios-kios yang menjual kuliner khas Makassar seperti Coto Makassar, ikan Bolu dan lain sebagainya.




Sayangnya keunikan pantai ini sedikit agak terganggu karena ketidaksadaran beberapa pengunjung membuang sampah sembarangan.  Juga saya pribadi sedikit terganggu dengan ada sebagian pengamen dan pengemis yang suka memaksa untuk diberi uang. Namun itu tidak menjadikan saya kapok untuk menikmati suasana pantai ini, terutama suasana senja yang terkenal akan keindahannya jika ada kesempatan lagi J
Saturday, October 5, 2013

Mengunjungi Kompleks Kerajaan Gowa, Sulawesi Selatan


Jangan hanya menikmati keindahan alam Sulawesi Selatan saja, tapi cobalah mengenal sejarahnya dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarahnya. 

Kata-kata yang terlintas sekilas di dalam kepala, ketika hendak berangkat menuju Kompleks Kerajaan Gowa. Kerajaan yang dulu berjuang melawan penjajahan Belanda, kerajaan yang dulu pernah berjaya di daerah Sulawesi Selatan.

Kompleks Kerajaan Gowa ini terletak di di Jalan Sultan Hasanuddin No. 48, Sungguminasa, Somba Opu, Kabupatan Gowa, Sulawesi Selatan, tepatnya di Sungguminasa yang berbatasan langsung dengan kota Makassar. Menuju kesini cukup mudah, karena adanya transportasi angkutan umum dari pusat kota Makassar menuju ke Kota Sungguminasa dan melewati depan museum ini atau bisa juga menggunakan kendaraan pribadi. Jika ragu dengan jalan yang anda tempuh jangan malu bertanya ya :)

Pintu Belakang Kompleks Kerajaan Gowa
Dari Jalan Gunung Bawakaraeng saya menaiki pete-pete (sebutan angkutan umum di Makassar) berwarna merah yang menuju Terminal Kota Sungguminasa, pete-pete ini ternyata melewati Komplek pemakaman Raja-Raja Gowa termasuk Sultan Hasanudin. Niatnya sehabis mengunjungi museum Balla Lompoa, saya ingin berziarah ke makam tersebut. Tak memakan waktu lama, dari kota Makassar ke Komplek Kerajaan Gowa hanya 30 menit. Memasuki komplek Kerajaan Gowa ini kita hanya diminta mengisi buku tamu dan memberikan sumbangan sukarela seiklasnya saja.

Istana Tamalate dengan Tulisan Hiasnya
Kompleks Kerajaan Gowa ini merupakan  rekonstruksi dari istana Kerajaan Gowa yang didirikan pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-31, I Mangngi-mangngi Daeng Matutu, pada tahun 1936. Di dalam Komplek ini terdapat dua bangunan yaitu Istana Tamalate dan Museum Balla Lompoa yang di depan bangunan-bangunan tersebut ada tulisan nama bangunannya seperti halnya tulisan Pantai Losari. Sepetinya tulisan penghias seperti ini sedang disukai disini. Istana Tamalate adalah replika dari istana asli yang sudah punah. Namun sayangnya tidak bisa memasuki Istana ini karena dikunci. Sedangkan Museum Balla Lompoa jika diartikan dalam bahasa Makassar artinya "Rumah Besar" atau "Rumah Kebesaran" Di dalam museum Balla Lompoa ini menyimpan berbagai macam benda koleksi Kerajaan Gowa  Benda-benda bersejarah tersebut dipajang berdasarkan fungsi umum setiap ruangan pada bangunan museum. Di ruang utama dipajang silsilah keluarga Kerajaan Gowa mulai dari Raja Gowa I, Tomanurunga pada abad ke-13, hingga Raja Gowa terakhir Sultan Moch Abdulkadir Aididdin A. Idjo Karaeng Lalongan (1947-1957). Di ruangan utama ini, terdapat sebuah singgasana yang diletakkan pada area khusus di tengah-tengah ruangan. Beberapa alat perang, seperti tombak dan meriam kuno, serta sebuah payung lalong sipue (payung yang dipakai raja ketika pelantikan) juga terpajang di ruangan ini. selain itu museum ini  tidak hanya bernilai tinggi karena nilai sejarahnya, tetapi juga karena bahan pembuatannya dari emas atau batu mulia lainnya, seperti mahkota, gelang, kancing, kalung, keris, dan benda-benda lain yang umumnya terbuat dari emas murni dan dihiasi berlian, batu rubi, dan permata.
Pintu Istana Tamalatenya dikunci
Numpang Narsis ..hehe,.

Seselesainya mengunjungi kompleks Kerajaan Gowa ini, saya langsung menuju tujuan wisata selanjutnya : berziarah ke makam Raja-raja Gowa. Catatan perjalanannya ditunggu aja ya :)