Showing posts with label yogyakarta. Show all posts
Showing posts with label yogyakarta. Show all posts
Sunday, January 5, 2014

Rangkaian Prosesi Adat Perayaan Maulud di Jogja

Yogyakarta mempunyai tradisi budaya yang unik dalam memperingati Hari Lahir Nabi Muhammad SAW atau Maulud (maulid) Nabi, yaitu Perayaan Sekaten. Perayaan Sekaten ini rutin diadakan sejak tahun 1960-an bertempat di Alun-alun Utara pada bulan Maulud, bulan ketiga pada kalender Jawa. Memilih datang ke Jogja bertepatan dengan perayaan Sekaten ini merupakan pilihan yang tepat. Kita bisa menik mati suasana Pasar Malam yang dibuka sejak bulan Sapar (Kalender Jawa) yang dimeriahkan dengan beberapa wahana permainan lokal seperti Ombak Banyu, Bianglala, Komedi Putar, Rumah Hantu, tong Setan dan permainan lainnya. Selain itu,  ada prosesi inti Perayaan Sekaten yang bisa kita saksikan selama perayaan ini.

Miyos Gongso


Prosesi Miyos Gongso itu mengeluarkan dua perangkat Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogowilogo dari Kraton menuju Mesjid Gede Kauman.  Dua Gamelan ini dibawa oleh para prajurit dan abdi dalem dari Keraton melalui Siti Hinggil, melewati Alun-alun Utara lalu menuju Mesjid Gede Kauman.  Dua Gamelan ini tidak diletakan bersama, namun Gamelan Kyai Guntur Madu diletakan di  bagian Kidul (Selatan) dan Kyai Nogowilogo diletakan di bagian Lor (Utara). Dengan dikeluarkannya dua gamelan ini sekaligus sebagai penanda dimulainya Sekaten.
Acara ini biasanya mulai menjelang tengah malam sekitar pukul 23.00 WIB. Jika ingin menyaksikan prosesi ini sebaiknya datang lebih awal sekalian menikmati suasana pasar malam dan mencoba wahana permainan yang ada :D
Prosesi Miyos Gongso ini digelar pada tanggal 5 Maulud atau pada saat ini bertepatan dengan tanggal  7 Januari 2014

Numplak Wajik


Prosesi pembuatan Wajik (makanan khas yang terbuat dari beras ketan dengan gula kelapa) untuk mengawali pembuatan pareden yang digunakan dalam upacara Garebeg Maulud yang merupakan acara puncak nantinya. Prosesi ini diadakan sore hari di Pawon Ageng di halaman bangsal Kemagangan Kidul (selatan) dan harus disaksikan oleh salah seorang saudara Sri Sultan yang menjadi pembesar (pengageng) Kraton Yogyakarta. Uniknya pada prosesi ini diiringi dengan musik ansambel lesung-alu (alat penumbuk padi), kenthongan, dan alat musik kayu lainnya. Setelah Prosesi ini selesai, akan dilanjutkan dengan pembuatan pareden.
Jika ingin menyaksikan acara ini, ada bisa datang ke bangsal Kemagangan Kidul yang letaknya di selatan Keraton Yogyakarta, atau sebelah timurnya Komplek Tamansari. Prosesi ini akan dilaksanakan pada tanggal 11 Januari 2014

Kondur Gongso
merupakan kebalikan dari prosesi Miyos Gongso, dua perangkat Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogowilogo dikembalikan/pulang kembali ke Kraton setelah ditabuh selama 7 hari di Mesjid Gede Kauman. Ada yang unik dari prosesi ini yaitu akan ada “Sebar Udhik-Udhik” yang dilakukan oleh Raja Kraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono. Udhik-Udhik terdiri dari beras kuning, uang logam dan bunga. Sebar Udhik-Udhikini melambakan kemurahan hati Sultan untuk memberi kemakmuran kepada rakyatnya.  Disini akan banyak masyarakat yang berebut Udhik-Udhik karena dipercaya akan mendapatkan berkah, ketenangan dan kelancaran rezeki.
Acara ini diadakan malam hari sebelum Grebeg Maulud di pagi harinya atau tepatnya Tanggal 11 Bulan Maulud. Pada kali ini, prosesi ini diadakan pada tanggal 13 Januari 2013

Grebeg Maulud

Merupakan prosesi terakhir dari perayaan Sekaten dan juga merupakan prosesi yang paling ramai didatangi oleh masyarakat dari segala penjuru. Prosesi dimulai jam 07.30 dan diawali dengan Parade Kesatuan Prajurit Kraton Yogyakarta dengan mengenakan pakaian mereka. Sekitar jam 10 akan ada 3 buah Gunungan yang dikeluarkan dari Siti Hinggil menuju Halaman Alun-alun Utara, Mesjid Gede Kauman dan Pakualaman. Gunungan-gunungan tersebut nantinya akan diperebutkan oleh masyarakat karena dipercaya mendapatkan berkah, kelancaran rizki dan ketenangan.

Prosesi ini berlangsung pada tanggal 12 Maulud atau bertepatan pada tanggal 14 Januari 2014. Jika ingin menyaksikan prosesi ini, lebih baik datang pagi, karena agar bisa mendapatkan posisi yang diinginkan. 
Tuesday, December 31, 2013

Bakmi Des Pundong, Mie Khas Bantul


Setelah puas menikmati suasana sore di pantai Parangtritis, saatnya memuaskan perut dari rasa lapar. Cobalah singgah di daerah Pundong, sekitar 15-20 menit dari Parangtritis. Pundong ini mempunyai kuliner yg khas yg tidak ada di daerah jogja lainnya. Bakmi Des Pundong namanya. "Des" berasal dari singkatan "pedes/pedas".

Berangkat dari Jogja maupun Parangtritis kita bisa melewati jalan parangtritis menuju pertigaan Pundong (pertigaan sempalan pundong) belok masuk ke pertigaan tersebut. Disepanjang jalan ini terdapat beberapa warung bakmi des. Waktu kami kesini, kami memilih bakmi des buatan pak Yono yang lokasinya dekat dengan pasar Pundong ( 200 m sebelum pasar). Rata2 warung bakmi di Pundong mulai buka sore hari sekitar jam 5 sore sampai tengah malam.

Setelah sampai di warung, kami segera memesan. Menunggu pesanan bakminya selesai kita bisa menikmati suasana pedesaan pundong dengan bukit karst yang menjulang di arah timur. Akhirnya pesanan kam harga bakminya terbilang cukup murah, kami bertiga nemesan bakmi  datang, penampakan bakmi des ternyata berbeda sekali dengan bakmi jawa. Mienya berukuran besar seperti kwetiaw, namun mienya pendek-pendek. Mienya bukan buatan pabrik, melainkan buatan sendiri dengan bahan baku dari ketela sehingga rasa bakminya lebih kenyal. Soal harga dijamin tidak bikin kantong jebol kok, kami memesan 3 Bakmi des beserta minumnya hanya membayar 25ribu Rupiah saja, cukup murahkan :)




Sunday, December 22, 2013

Bakmi Shibitsu - Kenikmatannya Membuat Kita Diam Membisu



Belakangan ini, hujan selalu mengguyur kota Jogja terutama sore sampai malam hari.  Sesungguhnya cuaca dingin-dingin begitu enaknya memang menyantap makanan yang membuat hangat, salahsatunya sudah pasti Bakmi Jawa. Saya teringat kedai bakmi jawa yang pernah saya coba tahun 2008 silam, Bakmi Shibitsu namanya. Nama yang bisa dibilang cukup unik, saya sempat tertipu dengan namanya yang mirip kosakata bahasa Jepang dan saya pikir di kedai bakmi ini akan ada kolaborasi antara dunia perbakmian Tanah Jawa dengan Jepang , khayalan yg aneh. Penamaan kedai bakmi tersebut karena peracik bumbu dan sekaligus penjajanya adalah orang Bisu atau Tunawicara. Namun begitu, kenikmatan bakmi buatannya bisa membuat kita diam membisu.

Kedai Bakmi ini terletak selatan Pojok Benteng Barat, lebih tepatnya di Jalan Raya Bantul no. 106. jika dilihat dari letaknya kedai bakmi ini lumayan dekat dari beberapa objek wisata seperti Malioboro, alan-alun utara dan alun-alun selatan. Sehabis  berdingin-dingin ria dan menikmati suasana malam di tempat tersebut, kita bisa mencoba kenikmatan bakmi ini. Jika dari alun-alun selatan kita bisa melewati Plengkung Gading lalu ambil arah kanan (barat) ikuti jalan tersebut nanti akan bertemu lampu merah pertama (pojok benteng barat) ambil kiri ke arah Jalan Raya Bantul. Nanti kedai bakmi Shibitsu ini ada di kiri jalan. Saat berada di Jalan Raya Bantul pelan-pelan saja karena warung ini agak susah terlihat.

Sesampainya di kedai trsebut saya memesan, bakmi godog (rebus) dan teh panas, yang saya kira cocok dapat menghangatkan badan saya setelah menembus gerimis kecil dan yang pasti bisa memadamkan kelaparan. Di warung ini kita bisa memilih duduk lesehan atau duduk di meja-kursi panjang. Saya memilih meja kursi pojok belakang. Tidak menunggu lama, pesanan teh panas saya datang diantarkan oleh ibu murah senyum berbaju biru yang kemudian saya ketahui dia bisu setelah saya ajak bicara. Hidangan tehnya berbeda dari kedai bakmi biasanya, disini tehnya memakai gula batu dan disediakan seteko kecil  sebagai tambahan jika teh kita telah habis kita nikmati. Teh disini menurut saya cukup nikmat rasa kentelnya pas dan agak berbeda dari teh yang dihidangkan di kedai bakmi lainnya,. Hidangan teh khas jawa bisa kita nikmati sambil menunggu bakmi pesanan kita. Cukup lama memang menunggu pesanan bakmi saya matang, karena antrian dan juga pembuatannya masih tradisional menggunakan “anglo”.  Namun lamanya menunggu tak terasa sambil menikmati hidangan teh khas jawa bersama teman-teman dan penikmat  bakmi ini. Setelah 30 menit akhirnya bakmi pesanan saya dating, yah seperti namanya kenikmatan bakmi ini sekejap membuat saya diam membisu. Entah bagaimana meracik bumbunya, bumbunya terasa melekat pada bakminya maupun kuahnya.  Kenikmatan bakmi membuat yang membuat diam membisu perlu kalian coba, selagi kalian masih di jogja J


Sunday, December 8, 2013

Menjelajahi Pantai Krokoh, Gunungkidul



Masih dengan misi menjelajahi pantai-pantai Gunungkidul bersama mas edi, aria, dan anno. Kali ini kami mampir ke pantai Krokoh, salah satu pantai di ujung timur pantai Sadeng. Adanya keberadaan pantai ini membuat pernyataan kalau pantai Sadeng merupakan pantai paling timur di wilayah Gunungkidul, Jogja adalah salah. Pantai Krokoh ini juga tidak bias saya bilang pantai paling timur, sebab mungkin saja ada pantai lain di sebelah timurnya yang masih tersembunyi, hanya diketahui oleh warga-warga setempat.

pemandangan menuju krokoh
Pantai Krokoh ini letaknya di padukuhan Putat, Desa Songbanyu,Kecamatan Girisubo, Gunungkidul, Yogyakarta. Rute untuk ke pantai Krokoh, kita  harus sampai dulu di tepi pantai Sadeng. Berangkat dari Jogja menuju pantai Sadeng melewati Jalan Wonosari-Kota Wonosari-Semanu-Jepitu-Girisubo-Pantai Sadeng atau bisa melewati Jalan Wonosari-Kota Wonosari-Jalan Baron-Jalan Pesisir Pantai Selatan Gunungkidul kea rah timur (pantai Sadeng). Jika bingung dengan jalan yang ditempuh, jangan malu bertanya pada warga setempat. Warga setempat disana ramah-ramah kok ^_^. Nah jika sudah sampai pantai sadeng coba liat bukit sebelah timurnya, ada jalan menanjak yang lumayan tinggi, ikuti jalan tersebut  melewati perladangan warga setempat dan hutan rakyat, dan melewati Padukuhan Putat. Kendaraan yang kami bawa saya tinggal di pinggir jalan padukuhan,karena akses jalan yang agak berbahaya jika menggunakan kendaraan. Dari sini kami berjalan kaki sekitar 45 menit  melewati jalan berbatu untuk sampai di tepian pantai Krokoh.
gapura padukuhan putat
jalan kaki dari padukuhan putat, menuju pantai
Pantai pasir putih yang damai, pasir pantainya halus, di apit kedua buah tebing, tebing sebelah timur menjorok memanjang ke arah laut, sedangkan tebing barat menjulang agak tinggi. Saat surut kami lihat ada  jenis rumput laut / lumut berwarna coklat yang hidup di terumbu karang pantai ini. Di tebing bagian timur pantai terdapat sebuah lubang horizontal, yang didalamnya merupakan sarang-sarang “Kalong” (kelelawar) dan juga burung wallet. Saat kami sampai disana ada beberapa pemancing lobster dan gurita sedang mempersiapkan peralatan mancing mereka.
semacam rumput laut/ lumut coklat dan lubang tebing
Kami pun berpencar menjelajahi, mengambil gambar dan menikmati keindahan alam pantai ini. Semoga pantai ini tetap lestari dan terlindungi dari tangan-tangan yang jahil :)
foto keluarga dr kameranya kang edi

Friday, December 6, 2013

Pantai Dadapan, Pantai Tapal Batas Timur Jogja-Jateng


Pantai Dadapan, warga sekitar menyebutnya demikian. Pantai yang terletak diujung paling barat Wonogiri, merupakan pantai tapal batas antara daerah Wonogiri dengan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

denah dr kelurahan :D
Perjalanan kali ini, saya bersama teman2 menjelajah ke pesisir selatan gunungkidul paling timur, dengan tujuan menyelusuri dan mendata pantai yang ada di jogja terutama pantai- pantai tersembunyi yang ada di kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Patokan perjalanan kami adalah pantai sembukan yang letaknya sepertinya berdekatan dengan batas wilayah DIY jika di lihat dari peta online. Peta online tersebut terdapat marking (tanda)pantai Sembukan yang berbatasan langsung dengan suatu pantai paling timur Jogja yang di marking (tanda) dengan nama pantai Mangetan. Namun setelah sampai di lapangan, nama pantai itu tidak dikenal warga. Warga malah menyarankan kami mengunjungi pantai yang ada di Wonogiri, seperti pantai Sembukan dan Nampu. Cukup membuat kami patah semangat, namun akhirnya kami menanyakan pantai yang terdapat pal batas tersebut ke kantor kelurahan, ternyata pantai tersebut adalah pantai Dadapan serta diberi denah sederhana menuju kesana oleh karyawan kelurahan.

perjalanan
Rutenya, kami berangkat dari jogja melewati ke arah timur melalui jalur utama kawasan pantai Gunungkidul menuju perbatasan yaitu kecamatan Paranggupito, Wonogiri. Setelah sampai kita tinggal menuju desa sawilan,yg dilewati jalan raya Sembukan. Di desa sawilan kami bertanya lagi, untuk sampai di pantai tapal batas kami menyelusuri jalan berbatu, lalu blusukan memasuki hutan dan ladang warga setempat. Jangan sungkat menanyakan jalan pada warga yang ada di ladang agar tidak tersesat. Kami sempat tersesat dan malah menemukan pantai wonogiri, yaitu pantai Nglojok dan Njujukan. Dari sisi bukit pantai Nglojok, terlihat pal batas DIY yang ada di atas sebuah batu karang di pinggir pantai. Dengan semangat tersisa kami berangkat kembali dr bukit pantai Nglojok melewati beberapa bukit. Akhirnya semangat kami membuahkan hasil.

Pantai dadapan, pantai dengan pasir putih dan terdapat batu2 karang di sisi sebelah kanannya. Letak pal batas Wonogiri,Jateng-DIY terdapat di sisi barat pantai ini, sehingga pantai ini termasuk pantai yang dimiliki oleh daerah Wonogiri sekaligus pantai paling barat kabupaten Wonogiri. Keadaan pantai ini sedikit kotor, namun juka dilihat sampah-sampah terbawa ombak dan terdampar disini. Saat kami berkunjung banyak kupu-kupu hijau dan kupu-kupu jenis lain, terbang riang kesana kemari dan hinggap di pantai ini. Penamaan pantai dadapan oleh warga sekitar mungkin dipantai tersebut terdapat pohon dadap. Jika dipikir-pikir adanya penamaan Pantai Mangetan di peta online mungkin dapat di artikan pantai paling Ngetan (Bahasa Jawa yang berarti “Timur”).
pal perbatasan
lost in paradise :D
Akhirnya kami menyelusuri pantai sendiri-sendiri, mencari sudut bidik foto masing-masing. Semoga pantai ini tetap lestari :)

Makasih Mas Edi, Aria, Anno, tanpa kalian mesti ga bisa sampai sini :D

Sunday, December 1, 2013

Museum Batik Joglo Cipto Wening, Imogiri


Berjalan pulang menuju Jogja dari Kebun Buah Mangunan, Imogiri, pandangan saya terpaku pada papan petunjuk jalan menuju “ Musium Batik”  di sekitar pasar Imogiri lama. Tanpa berpikir panjang saya membelokan kendaraan menuju museum batik tersebut. Tak jauh sekitar 200 meter saya pun sampai di depan museum batik tersebut. Museum Batik Joglo Cipto Wening namanya, merupakan museum yang didirikan dengan koleksi-koleksi pribadi. Museum ini didirikan tahun 2004 namun sempat tutup sementara karena rusak akibat gempa bumi dan didirikan dan resmi dibuka kembali oleh Sultan Hamengku Buwono X.

Rute untuk mencapai museum batik ini dari jogja cukup mudah, kita hanya tinggal melewati jalan Imogiri Timur sampai mentok pertigaan, lalu ambil kiri. Kita akan melewati pasar dan nanti sebelah kiri jalan akan ada papan petunjuk arah menuju museum batik ini. Jika tidak menemukan museum batik ini, jangan sungkan-sungkan bertanya pada warga sekitar ya :)

Memasuki museum ini, saya langsung terkesan dengan nuansa jawa. Sepeda onthel, pohon kepel, nangka yang merupakan pohon khas jogja dan bangunan Joglo yang menyimpan dan memamerkan koleksi-koleksi batik. Jogjo tersebut merupakan Joglo tua yang umurnya sudah mencapai 200 tahun. Nuansa Joglonya lebih mengagumkan lagi, suasana jawa yang khas dengan tata letak dan cahaya lampu yang pas membuat suasana jawanya makin kerasa. Dan karena nuansanya yang khas museum ini kadang dipakai untuk pembuatan foto komersil maupun film.



Museum ini didirikan untuk melestarikan batik-batik kuno asal daerah Bantul, Yogyakarta dan sekitarnya. Kata pemilik museum ini, museum ini juga menyimpan kain yang dihiasi motif-motif langka yang tidak lagi atau sudah jarang diproduksi saat ini. Beberapa motif langka tersebut antara lain motif lereng, sidomukti, sidoluhur, dan wahyu tumurun. Pembuatan motif tersebut memerlukan keahlian dan ketelatenan yang tinggi selama proses pembuatannya serta pembatik yang bias mengerjakan motif tersebut hanya sedikit. Terdapat pula batik khas daerah Imogiri yang dilestarikan di sini, namanya batik Kelengan. Kekhasan batik jenis ini adalah pada warna nila dan putih yang mendominasi pewarnaannya di dalamnya. Pada zaman dulu, warna nila (Cyan) diperoleh dari sejenis rumput-rumputan yang tumbuh di wilayah setempat.

Museum ini buka mulai jam 10.00 sampai dengan 15.00 dan libur di hari senin dan libur nasional. Mengunjungi museum ini tidak ditarik biaya, dan kita diharuskan menjaga kesopanan, kebersian dan keasrian museum ini.

yuk Kunjungi Museum :)

Sunday, November 3, 2013

Pantai Sarangan, Gunungkidul : Pesona Mungkin Terlupakan

panorama pantai Sarangan
Entah berapa jumlahnya deretan pantai indah yang ada di Gunungkidul, Yogyakarta. Walaupun letaknya berdekatan,berbatasan dengan bukit karst kecil pun nama pantainya sudah berbeda. Begitu pula yang terjadi pada pantai yang saya kunjungi kali ini, Pantai Sarangan namanya. Pantainya letaknya di sebelah barat pantai krakal, tepatnya di Desa Ngestirejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Sebagian pengunjung objek wisata ini mungkin salah sangka bahwa pantai Sarangan masih termasuk pantai Krakal, padahal berbeda. Jika dilihat dengan seksama pantai Sarangan dan Krakal hanya dipisahkan dengan bukit karang yang tidak begitu tinggi mungkin hanya sekitar 3-4 meter.

Untuk menuju pantai ini cukup mudah jika mengenakan kendaraan pribadi atau sewaan. Mengunakan kendaraan umum sangat tidak dianjurkan karena akan terlalu lama memakan waktu perjalanan, karena mengunggu kendaraannya. Dari jogja kita hanya tinggal menuju daerah wisata Pantai Gunungkidul lewat jalan wonosari, melewati kota Wonosari lalu memilih jalan Baron, ikuti jalan tersebut nanti aka nada papan petunjuk jalan menuju pantai Krakal. Dari parkiran pantai Krakal, kita tinggal berjalan kaki sebentar menuju pantai Sarangan.

Secara sekilas pantai Sarangan tidak jauh beda dengan pantai Krakal, namun setelah berkunjung kesekian kalinya. Jika pantai Krakal bentuknya lurus memanjang, namun pantai Sarangan bentuknya agak melengkung. Saat surut ternyata pantai ini mempunyai struktur batu karang yang berbatu besar pada bagian barat pantai, sehingga jika ingin bermain air di pantai ini lebih hati-hati agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan (baca : terluka). Tebing sebelah timurnya terdapat anak tangga dari bambu yang bisa dilewati untuk menikmati pemandangan alam pantai dari atas.
batu-batu karang di sebelah barat pantai Sarangan
Jembatan untuk naik ke atas tebing sebelah timur
Fasilitas yang ada disini cukup lengkap, ada tempat ibadah, kamar mandi, penginapan juga warung penjaja makanan. Hanya saja lingkungan pantai ini jarang ada tanaman/pohon yang bisa dijadikan untuk meneduh dari sengatan matahari. Mungkin penanaman pohon jenis tanaman seperti cemara laut, cemara udang atau ketapang bisa menjadi solusi atas masalah tersebut.
Sunday, October 13, 2013

Menelisik Keunikan Pantai Ngrumput, Gunungkidul

Pemandangan Pantai Ngrumput yang penuh batu
Tak disangka hasil coba-coba susur ke arah timur dari pantai drini,kami menemukan sebuah pantai yang unik. Pantai dengan bukit karang yang bolong dan seketika ombak datang melewati lubang yang ada di pinggir karang tersebut. Menurut warga yang ada disana, pantai tersebut bernama pantai Ngrumput. Pantai ini terletak di wilayah yang sama dengan pantai Drini yaitu di desa Ngestirejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabiupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Pantai Ngrumput berjarak sekitar 500-700 meter dari pantai Drini dan dapat dicapai dengan jalan kaki susur pantai saat surut atau melewati jalan setapak perbukitan-perbukitan.

Untuk mencapai pantai ini kita bisa berangkat menuju pantai Drini. Dari kota Jogja kita akan menempuh 2 jam perjalanan dengan kendaraan pribadi atau kendaraan rental. Saat itu kami sampai di pantai drini mulai surut sehingga kami tidak perlu menempuh perjalanan agak jauh melewati perbukitan. Jika melewati jalur pantai kita hanya menempuh 10-15 menit saja. Sedangkan jika melewati perbukitan katanya menempuh 30-45 menit. Jangan mengambil resiko jika laut dalam keadaan pasang karena pantai selatan mempunyai gelombang laut yang ganas, belum lagi keadaan terumbu karang tempat kita berpijak ada beberapa titik yang agak dalam.
si Agung Widi yg memimpin susur dari tepian Drini menuju pantai Ngrumput
Agak memacu adrenalin, seketika ombak datang dengan ketinggian sedikit diatas dengkul, membuat hamparan terumbu karang tak terlihat tertutup buih ombak. Karena kami membawa kamera di tas, otomatis kami mengangkat tas kami dan berdiam diri sampai air tidak lagi berbuih. Kami langsung menepi ke arah tebing dan memilih menaiki pinggir tebing untuk mencapai pantai ini. Disini kita kudu ektra hati-hati agar tidak terperosok kebawah, juga berhati-hati karena ada beberapa karang yang tajam.

Akhirnya Pantainya keliatan, Penuh Batu kan :D
Setelah melewati itu semua sampai lah kami di tepi pantai Ngrumput. Awalnya saya menduga dinamakan pantai Ngrumput karena akan ada banyak rumput disana namun kenyataan tebakan saya salah, di pantai Ngrumput ternyata penuh batu yang timbul secara tersebar diantara pasir pantai. Kami berjalan terus menuju tepi pantainya, dan cukup mengejutkan, karang di sebelah barat pantai ini ternyata cukup unik, karena karang tersebut terdapat lubang yang agak besar. Ketika ombak datang, ombaknya perlahan melewati lubang tersebut.  Pemandangan yang mengagumkan :)

batu-batu yg tersebar
ini dia karang bolongnya


Mengingat hari makin sore, dan khawatir laut akan pasang kembali, kami memutuskan untuk kembali ke pantai Drini dan menikmati sore hari disana :)
Tuesday, October 8, 2013

Curug Tersembunyi Watu Jonggol



The Jewel of Java, begitulah julukannya Kulonprogo, kabupaten yang terletak di bagian barat Yogyakarta. Ibarat Jewel (batu berharga), perlu ekplorasi lebih untuk menemukan keindahan dan potensi-potensi di daerah ini.

Kali ini saya bersama teman-teman penasaran ingin mendatangi curug Watu Jonggol. Curug yang letaknya di pegunungan menoreh Kulonprogo pada ketinggian 900 Mdpl. Curug ini disebut juga curug Nglinggo karena lokasinya di dusun Nglinggo, desa Pagerharjo, kecamatan Samigaluh, Kulonprogo, sekitar 42 km dari kota Yogyakarta. Curug ini benar-benar masih alami, terletak dicelah-celah perbukitan, ditengah-tengah rimbunan pepohonan yang tumbuh subur disana, dan udara yang masih sejuk membuat tempat ini sangat cocok untuk melepas kepenatan dari rutinitas biasanya.

Untuk menuju curug ini searah dengan rute menuju curug Sidoharjo yaitu, dari kota Jogja kita menuju ke arah Godean melewati sungai Progo, lalu di perempatan lampu merah setelah itu (perempatan Nanggulan) ambil kanan, ikuti jalan tersebut sampai di perempatan Dekso (ada tugu besar ditengah jalan) ambil kiri. ikuti saja jalan ini, melewati pinggir sungai jalan menanjak dan berkelak-kelok sampai menemukan pertigaan yang ada papan petunjuk ke Nglinggo, ikuti petunjuk jalan tersebut sampai di sebuah pasar. Di pasar tersebut akan ada jalan kecil menanjak, masuk ke jalan tersebut. Bersiap-siaplah, karena mulai dari sini akan ada tanjakan tak berujung, beberapa kali saya harus turun dan mendorong motor karena motor tak kuat nanjak :p.
mereka yg mengantar kami :D
Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam, sampai juga di dusun Nglinggo, dan kami sudah bisa bernafas lega jalan sudah tak lagi menanjak hehe. Letak curug yang tersembunyi membuat kami beberapa kali bertanya kepada warga setempat. Ternyata memang benar jalan masuk menuju curugnya tertutup semak belukar sehingga agak susah mencarinya. Beruntung kami bertemu anak-anak kecil yg hendak bermain kesana. Kami disarankan untuk menitipkan kendaraan dirumah salah satu dari mereka. Kami melewati jalan setapak yang nyaris tak terlihat karena tertutup bayang-bayang pohon yang ada. Jalan setapak menuju curug ternyata cukup baik, terbuat dari semen. setelah menembus rerimbunan pohon, sudah mulai terdengak suara gemerincik air yang jatuh. Curug Watu Jonggol terlihat bertingkat dari lokasi kami berada saat itu yaitu disisi bukit sebelahnya. Tak sabar untuk main air, anak-anak kecil yang mengantar kami mulai berlarian menuju curug tersebut dan kami menyusulnya kemudian.

jembatan bambu setelah menuruni bukit

foto satu team :)
Disini terdapat beberapa fasilitas yang dibangun warga setempat untuk wisatawan seperti petunjuk jalan, jalan setapak menuju air terjun, jembatan, gubuk dan bangku yang terbuat dari bambu. Namun mungkin karena letaknya yang lumayan jauh dan kurangnya promosi membuat tempat ini jarang menjadi pilihan berwisata, padahal potensi desa ini cukup besar selain ada air terjun, dusun ini terdapat hutan pinus dan perkebunan the satu-satunya di Jogja :)



Wednesday, September 25, 2013

Senja Indah di Ratu Boko


Menikmati senja itu tiada membosankan, rasanya membuat hati tenang dan damai. Tak peduli tempatnya  di atas gunung, di atas bukit, di pantai, di tengah kota, bahkan di atas atap rumah/gedung,  apalagi jika menikmatinya bersama orang-orang istimewa. Kali ini saya menulis satu lagi spot menikmati senja di sekitaran Yogyakarta. Istana Ratu Boko adalah kompleks bangunan megah yang dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran (Wangsa Sailendra) dari kerajaan Medang (mataram Hindu) pada masa abad ke-8. Diyakini sebagai istana karena adanya sisa-sisa bangunan dinding benteng dan parit kering sebagai struktur pertahanan dan ditemukan juga sisa-sisa permukiman poenduduk disekitar kawasan ini.

Ratu Boko terletak di atas bukit wilayah Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, atau tepatnya 3 km sebelah selatan Candi Prambanan. Akses menuju Ratu Boko sangat mudah, patokannya adalah pasar tradisional Prambanan yg letaknya di selatan komplek candi Prambanan. Jika berangkat dari Jogja kita bisa naik kendaraan pribadi melewati jalan Solo sampai pertigaan Pasar Prambanan. Dari Pasar Prambanan ke arah selatan, tidak jauh nanti akan ada papan petunjuk jalan menuju Ratu Boko. Pilihan kedua dari Jogja kita bisa menaiki Trans Jogja jurusan Candi Prambanan turun di pasar, lalu dari pasar Prambanan kita bisa menyewa jasa ojek, delman atau jalan kaki (jika mau) menuju ratu Boko. Pilihan alternatifnya saat mengunjungi Candi Prambanan kita bisa membeli tiket terusan ke Ratu Boko. Nanti akan ada mobil yang mengantarkan kita ke Ratu Boko pada jam-jam tertentu saja.

Kali ini saya mengunjungi Ratu Boko untuk menikmati senja. Banyak yang bilang jika cuaca bagus senja disini sangat indah, apalagi saat bulan Agustus-September matahari senja pas di tengah-tengah salah satu pintu masuk Istana Boko. Saya bersama teman-teman berangkat dari Jogja jam 15.30 sampai dengan menempuh perjalanan selama 1 jam. Lebih baik berangkat tidak terlalu sore, sehingga sampai Ratu Boko kita bisa berkeliling menikmati suasananya lebih lama. Tiket masuk Ratu Boko sore hari tetap sama seperti biasanya yaitu 25 ribu (harga September 2013) dengan bonus air mineral botol kecil. Cukup untuk melepas dahaga sambil menunggu senja disini :) .

matahari di tengah pintu gerbang istana Ratu Boko


Setelah puas berkeliling sekitar jam 5, saatnya berburu foto senja. Foto yang saya ambil disini yaitu siluet reruntuhan gerbang masuk merupakan Landmark Istana Ratu Boko. Ternyata tidak hanya kami, disana sudah ada beberapa wisatawan lokal dan 2 turis asal Jepang bernama Chihiro dan Airi. Dengan modal nekat dan bahasa inggris pas-pasan kami mengakrabkan diri dengan mereka. Matahari mulai turun perlahan-lahan, warna langit yang tadinya biru mulai berubah kuning-kuning merona. Rasa takjub atas keindahan ini tidak hanya terlihat dari wajah mereka, tapi juga pada kami.

Pose "Love Sunset Ratu Boko" si Chihiro dan Airi :)

Wednesday, September 4, 2013

Blusukan ke Pantai Porok, Gunungkidul



Saat menikmati pemandangan dari gardu pandang atas pulau pantai Kukup, 
terkilas di arah timur terlihat samar-samar
 hamparan pasir yang tidak begitu luas, 
diapit dua bukit karst disisi-sisinya



Akhirnya diketahui nama pantai tersebut yaitu pantai Porok, pantai yang terletak di Desa Kemandang, Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul masih satu daerah administrasi dengan pantai Kukup, Lolang, dan Sepanjang. Pantai ini ternyata pernah dirintis Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi kawasan karst yang menghasilkan melon. Mengunjungi pantai ini, saya berharap bisa melihat perkebunan melon yang katanya pertama di kawasan karst Gunungkidul.

Ada beberapa rute yang dapat ditempuh untuk menuju pantai Porok ini yaitu dari rute pantai Kukup atau  rute kawasan pantai Lolang dan rute-rute ini hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Sebelumnya kita harus berjalan menempuh perjalanan sekitar dua jam naik kendaraan pribadi/sewa menuju kawasan pantai Gunungkidul tersebut. Jika kita ingin melewati rute pantai Kukup kita harus menaiki dan menerabas bukit timur di pantai Kukup , jika melewati rute  pantai Lolang kita bisa menaiki bukit pantai lolang sebelah barat atau bisa juga mengitari bukit tersebut melewati perladangan warga sekitar.

Gardu pandang yg terlihat setelah menaiki bukit pantai Lolang
Menyelusuri hutan :)
Waktu saya mengunjungi pantai ini, saya memilih menaiki bukit sebelah barat pantai Lolang. Jalan naik ke bukit tersebut cukup terjal namun sudah jalan naiknya sudah cukup baik karena bukit itersebut sepertinya sebentar lagi mau dibuat resort pribadi atau semacamnya :’(.  Setelah sampai diatas bukit, langsung terlihat pemandangan cantik alam Pesisir Selatan GunungKidul. Ikuti jalan setapak yang ada kea rah sebuah  gardu pandang yang terlihat. Disekitar gardu pandang tersebut aka nada jalan setapak menuruni bukit ,menyelusuri hutan Akasia, pohon pandan dan semak belukar. Hati-hati ya sama duri-duri pohon pandan, lumayan bisa bikin luka. Setelah melewati jalan tersebut sampai lah kita di pantai Porok :)

Pemandangan Pantai Porok

Ternyata Pantainya cukup luas juga, ditumbuhi vegetasi khas pantai Gunungkidul  seperti pohon pandang yang membentuk garis yang membatasi wilayah berpasir dan wilayah bertanah. Ada juga pohon-pohon cemara laut yang tumbuh alami, jarang melihat jenis pohon ini tumbuh alami di Gunungkidul. Dahan-dahan pohon cemara ini bisa digunaka untuk berteduh menyantap bekal yang kita bawa (sampahnya jangan dibuang sembarangan ya). Jika melihat ke arah barat kita bisa melihat gardu pandang diatas pulaunya pantai kukup yang teguh sekali di hantam gelombang laut selatan.

pantai Porok dari pulau gardu pandang patai kukup

Gardu Pandang atas Pulau Pantai Kukup

Sayangnya saat saya berkunjung kesini saya tidak menemukan perkebunan melon, mungkin belum musim tanamnya, yuah semoga lain kesempatan bisa melihat perkebunan melon. Setelah puas menikmati  segala yang ada disana, saya bergegas kembali pulang


NB: pengalaman temen blog, tentang serunya ke pantai Porok melewati rute pantai Kukup (menaiki bukit timur pantai kukup). Klik : Rephzone
Wednesday, August 28, 2013

Berpetualang ke Pantai Ngetun yang Tersembunyi



Akhirnya kesampaian juga ke Pantai Ngetun, salah satu dari sekian banyak pantai yang tersembunyi di Gunungkidul. Di sebut tersembunyi memang karena tidak (belum) dibuka untuk wisata dan akses jalannya yang agak sulit. Tapi tetap saja rasa penasaran pasti ingin membawa kita menuju pantai tersebut. Pantai ini terletak di Dusun Sureng, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Gunungkidul

Kemarin sebenarnya saya dan teman saya, si Agung hanya ingin bertanya-tanya jalan menuju ke pantai tersebut, tak disangka-sangka warga yang kami tanyai menawarkan untuk mangantar kami sampai jalan desa.  Tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada kami berangkat dari arah pantai Siung menuju pantai Ngetun dengan menyelusuri jalur pantai selatan  gunungdul ke arah barat (arah Indrayanti/Pulang Syawal). nanti akan melewati SD Gesing dan kira-kira 1-2km akan ada Mesjid di kanan jalan, setelah itu lanjutkan perjalanan sedikit lagi ke arah barat akan ada jalan masuk dari cor blok di kiri jalan. Ikuti jalan tersebut untuk menuju pantai Ngetun. Jika kebingungan di sana jangan malu bertanya pada warga sekitar ya :)

Menuju Pantai ini Sebenernya mudah, cuma akses jalannya yang sulit. Awal masuk kita cukup tenang karena jalannya masih dari cor blok yang merupakan jalan desa. Setelah melewati desa, jalan yang awal mulanya cor blog berganti jalan tanah berbatu-batu kadang naik bukit, kadang turun bukit melintasi kebun-kebun warga setempat.  Mulai jalanan tanah berbatu ini kita kudu ekstra hati-hati apalagi saat turunan. Setelah menempuh kira-kira 20 menit jalan tanah berbatu akhirnya pemandangan pantai dari jauh terlihat, semangat menyala lagi. Disini turunan mulai agak curam untungnya beberapa turunan curam sudah di cor blok oleh warga sekitar. Setelah perjuangan keras akhirnya sampai juga di pesisir pantai Ngetun.

Pantai Ngetun di bawah sana
Lorong pohon-pohon menjelang masuk ke tepi pantai ibarat seperti gapura selamat datang, menyejukan. Pantai Ngetun ternyata mempunyai pasir yang halus dan beberapa spot terdapat cangkang-cangkang yang terdampar terbawa ombak. Pantai ini diapit dua bukit tinggi dan di atas kedua bukit tersebut biasanya warga sekitar menggunakannya tempat untuk memancing lobster. Di sisi-sisi pantai ini terdapat banyak pohon rindang sehingga bisa kita gunakan untuk berteduh beristirahat, menyantap bekal yang kita bawa. Setelah sekian lama menikmati suasana pantai akhirnya kami memutuskan untuk pulang.

Kerindangan Pohon di sisi-sisi Pantai  Ngetun :)


nb. yuk jaga kebersihan dan keasrian pantai ini sehingga selalu nyaman di kunjungi siapapun J