Showing posts with label wisata jawa tengah. Show all posts
Showing posts with label wisata jawa tengah. Show all posts
Saturday, January 23, 2016

Bali Kecil Di Air Terjun Seloprojo, Magelang


Ini kunjungan kedua saya ke Air Terjun Seloprojo atau dikenal juga dengan Air Terjun Sumuran. Air Terjun ini unik, terdapat Pancuran Kepala Singa berbentuk arca candi. Pancuran tersebut mengingatkan seperti salah satu Pure yang ada di Bali. Mungkin entah kenapa dalam pikiran terlintas kata “Bali”.

Air Terjun Seloprojo terletak di Desa Seloprojo, Kecamatan Grabag, Magelang, Jawa Tengah. Air terjun ini letaknya berdekatan dengan Gunung Telomoyo, salah satu gunung yang bisa didaki dengan naik motor (klo berani). Air terjun ini berdekatan dengan Air Terjun Sekar langit dan sekitar 1jam perjalanan dari Candi Borobudur sehingga jika berkunjung ke candi Borobudur bisa sekalian mampir ke air terjun ini.

pintu masuk desa Seloprojo
Kunjungan kedua ini bersama teman berbeda dan kami janjian bertemu di Magelang. Perjalanan ke Air Terjun Seloprojo ini memakan waktu sekitar 2 jam - 2,5 jam. Rute ke Air Terjun Seloprojo dari Jogia : Tugu Jogja – Jalan Magelang – Tempel – kota Muntilan – kota Magelang – Arah Salatiga - Grabag- Pertigaan Pasar Grabag ambil kiri- Melewati Air Terjun Sekar Langit- Desa Seloprojo – Air Terjun Seloprojo/Sumuran. Beberapa catatan untuk menuju kesini : Jika dari kota Magelang tanyalah arah Grabag/Pasar Grabag dan dari Pasar Grabag ikuti papan petunjuk arah ke air Terjun Sekar Langit, lewati pintu masuk air terjun tersebut lalu coba tanya warga sekitar tentang desa Seloprojo, Air Terjun Seloprojo atau air terjun Sumuran.

Suasana Desa Seloprojo
air terjun dari kejauhan
Sesampai di desa Seloprojo, pemandangan desanya akan memanjakan kalian, rumah-rumah sederhana air irigasi bersih yang mengalir di tepi jalan utama desa, masyarakat yang ramah selalu mengajaknya untuk mampir sebentar “Pinara mas” diikuti senyum hangatnya. Pemandangan Ladang, sawah punggung pegunungan, hutan pinus dan air terjun yang terlihat dari Jejahuan. Untuk berkunjung ke air terjun, kami hanya mengeluarkan uang 3rb perorang dan parkir motor sebesar 2rb. Dan dari parkiran motor hanya berjalan sekitar 5-10 menit.

bersih-bersih dulu :D
Sepi, mungkin karena kami datang pagi hari, ternyata Pancuran singanya tidak memancur karena tersumbat ranting dan daun-daun yang gugur. Sebelum bermain dan foto-foto di air terjunnya kami memutuskan untuk membersihkan Arca-arca singa tersebut dan setelah bersih dari ranting dan daun-daun, pancuran arca kepala singa tersebut kembali memancurkan air yang mengalir dari air terjun tersebut. Setelah itu kami bersantai menikmati damainya suasana air terjun tersebut dan sesekali mencari sudut foto yang unik, Sempat terpikir bahwa adanya arca-arca kepala singa tersebut tak lepas dari kebudayaan masa lampau sekitar magelang merupakan wilayah Imperium Mataram. Hal tersebut bisa dibuktikan dari candi-candi hindu yang tersebar hampir mencangkup seluruh wilayah magelang.


Kembali ke Air Terjun Seloprojo, fasilitas yang ada disini dibilang cukup lengkap, ada kamar mandi, tong pembuangan sampah dan gazebo yang berada di sisi kanan air terjun. Sayangnya ada sedikit sampah yang berada di sekitar gazebo padahal di dekatnya sudah ada tempat sampah dengan tulisan dan warna yang bisa dilihat.

Camping Ground Air Terjun Seloprojo
Puas menikmati suasana air terjun Seloprojo ini, sebelum pulang kami memutuskan untuk ke hutan pinus dan melihat air terjun kecil yang ada di dekat hutan pinus. Ternyata hutan pinus ini difungsikan selain diambil getahnya juga sebagai Camping Ground. Saya membayangkan bertapa enaknya camping dibawah hutan pinus dan air terjun. Air terjun yang berada dekat Camping Ground ternyata memang berada di tengah hutan. Karena di dalam hutan suasananya agak gelap. Air mengalir berpencar menjadi tida dan mengalirnya tidak terlalu deras. Berfoto sebentar lalu kami memutuskan untuk kembali pulang.
air terjun kecil di tengah hutan
Silakan mencoba mengunjungi Bali kecil di Magelang ini. Alangkah baiknya jika mengunjungi wisata ini agar menjaga kebersihan dan tidak mencorat coret apapun yang bisa di coret, agar pengunjung lain yang datang bisa nyaman menikmati suasana air terjun ini seperti halnya kami.


Wednesday, September 30, 2015

Pantai Batar Panjang, Nusakambangan dan Senjanya Yang Menawan

Senja Menawan di Pantai Batar Panjang, Nusakambangan
Nusakambangan, identik sekali dengan pulau terasing yang digunakan sebagai penjara-penjara bagi pelaku kejahatan. Ketika menjawab hendak ke Nusakambangan, orang yang bertanya “mau kunjungan ke penjara?” bahkan ada yang becandaan “akhirnya kamu ketangkep lan” aseemm!!. Terlepas dari itu, Pulau Nusakambangan merupakan Pulau yang mempunyai  keanekaragaman hayati flora-fauna, dan bentang alam indah dan khas yang wajib dilindungi, sehingga Pulau tersebut ditetapkan menjadi kawasan Cagar Alam. Selain mempunyai bentang alam yang indah, terdapat benteng pendam yang dahulunya merupakan salah satu benteng dari Negara portugis yang menjajah Tanah Air. Keberadaan itulah yang membuat Pulau Nusakambangan yang merupakan Kawasan Cagar Alam, kawasan penjara sekaligus kawasan wisata.

ini dia posisi pantai batar panjang
berangkat dari pelabuhan tanjung intan
Kali ini saya berkesempatan mengunjungi Pulau Nusakambangan karna sekalian tugas memasuki Cagar Alamnya, pulau Nusakambangan bagian barat tepatnya. Pada bagian barat pulau Nusakambangan terdapat pantai yang bisa saya bilang cukup alami, namanya pantai Batar Panjang. Sesuai namanya pantai ini terletak di Batar Panjang, pemukiman kecil di pesisir barat pulau Nusakambangan. Untuk menuju ke pantai Batar Panjang dari Kota Cilacap butuh perjuangan karena menggunakan perahu selama 2 jam dan bisa memasuki pemukiman Batarpanjang saat air laut sedang pasang saja. Kami berangkat dari pelabuhan kota Cilacap menyelusuri sungai-sungai yang ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan jenis Bakau yang sering kali tumbuh di muara-muara sungai. Saat melintasi hutan bakau tersebut sering kali terlihat burung-burung yang sedang mencari ikan, bahkan semacam berang-berang juga terlihat sedang berada di pinggir sungai tersebut. Hutan bakau tersebut merupakan temoat tumbuh dan bertelurnya ikan sehingga hewan-hewan tersebut berkumpul disini mencari makan. Ternyata saat menyelusuri sungai ini menemukan hal unik lain yaitu rambu lalu lintas perairan. Mungkin unik karena baru kali ini saya melihatnya langsung. Rambu-rabu tersebut sangat penting karena sungainya yang berkelok-kelok dan bercabang, dan masyarakat pesisir sungai tersebut mengandalkan transportasi via sungai. Setelah menempuh perjalanan 2 jam kami tiba di pemukiman Batar Panjang. Pemukiman tersebut berdiri rumah-rumah semi permanen dari kayu dan disekitar pemukiman tersebut terdapat sawah dan kebun yang digunakan oleh warga Batar Panjang. Dari Pemukiman tersebut kita hanya tingga; berjalan 10-15 menit saja untuk sampai di Pantai Batar Panjang. 


"Pasir berbisiknya" Batar Panjang :D
muara sungai
Pantai Batar Panjang mempunyai hamparan pasir yang cukup panjang, pasir yang berwarna putih dengan butiran yang agak halus.Sebelah selatan pantai ini terdapat sungai dan bukit. Pada saat musim hujan, air sungai tersebut akan bermuara ke laut. Jika kita menaiki bukit tersebut kita akan memasuki daerah Hutan Cagar Alam Pulau Nusa Kambangan. Jika tidak mempunyai kepentingan lebih baik tidak memasuki kawasan tersebut untuk hal yang diinginkan seperti tersesat di hutan. Di pinggir bukit tersebut biasanya digunakan sebagai tempat favorit untuk memancing. Kita bisa duduk di atas karang melempar kail ke arah laut dan berteduh dibawa rimbunnya pohon yang ada di bukit tersebut. Jika kita melihat ke arah laut kita bisa melihat bukit yang menjorok ke tengah laut. Itu ternyata adalah daerah Pangandaran, Tasikmalaya.


Letaknya di sebelah barat Pulau Nusakambangan membuat pantai ini juga bisa menjadi tempat menikmati senja yang menarik. Saat sore hari kita bisa melihat matahari terbenam menakjubkan turun perlahan merubah warna biru laut menjadi kuning lalu jingga. Kadang matahari terbenam dibalik pesisir Tasikmalaya atau pada waktu tertentu kita bisa melihat matahari tenggelam di laut saat senja. Menikmati senja disini serasa pantai ini milik pribadi karena tidak ada wisatawan sama sekali selain kami. Di pesisir pantai hanya ada satu rumah sederhana milik keluarga nelayan yang terdiri bapak, ibu dan satu anak yang masih kecil. Sang ibu menemani anaknya yang berlarian kesana kemari, sesekali menaiki perahu ayahnya seperti berimajinasi sedang berlayar sepertihalnya sang ayah, sesekali ibunya menggendong anaknya ketika anaknya menghampirinya. Cerita keluarga nelayan sepertinya berhasil saya abadikan lewat sebuah foto di bawah ini. Menggambarkan seorang istri dan anak nelayan yang menunggu ayahnya pulang.



Warna Jingga senja perlahan menghilang, bintang bermunculan, kami membuat api unggun  di pinggir sungai sambil menunggu air laut pasang untuk bisa kembali ke kota Cilacap. Suasana mengagumkan di perjalanan pulang menyelusuri sungai, kami ditemani kelap kelip hamparan bintang diatas kepala kami,  dan kelap kelip ribuan kunang-kunang di setiap dahan pohon bakau sepanjang sungai tersebut. Ahhh Seperti terjebak di luar angkasa J.

hamparan bintang di perjalanan pulang

Saturday, August 15, 2015

Sore-Sore di Waduk Cengklik dan Fenomena Ray Of The Light

Waduk Cengklik dan Pemandangannya
Sore nanti ke Waduk Cengklik yuk!
Celetukan siang, ketika melihat langit siang itu begitu terik dan cerahnya, dan kebetulan kami sedang berada tidak jauh dari Waduk Cengklik.

Waduk Cengklik, terletak di Boyolali  tepatnya di Desa Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah atau berada di sebelah barat dari Bandara Adi Sumarmo. Walau bukan tempat yang Hits, waduk cengklik cukup ramai didatangi oleh warga lokal tiap pagi ataupun sore hari apalagi ketika hari libur tiba. Selain itu waduk cengklik mempunyai pemandangan yang cukup bagus apalagi anda yang hobi foto pemandangan. Merapi dan Merbabu dua gunung tampak megah terlihat dari waduk cengklik apalagi jika melihatnya di melihatnya di kala pagi atau sore hari.

menuju cengklik (foto by anin)
Rute ke waduk cengklik cukup mudah dari jika anda dari Jogja/Boyolali bisa menuju pertigaan kartosuro lalu ambil arah selatan akan bertemu dengan pertigaan yang menuju bandara Adi Sumarmo. Ambil ke kiri dari pertigaan tersebut lalu ikuti jalan sampai menemukan perempatan jembatan. Ambil  arah ke kiri dan ikuti jalan tersebut hingga sampailah di Waduk Cengklik. Jika kalian dari Solo, pertigaan arah bandaranya sebelum pertigaan Kartosuro. Tiket masuk kewaduk cengklik cukup murah kok, hanya  membayar biaya parkir kendaraan saja sebesar 2000 rupiah untuk roda dua dan untuk kendaraan roda empat mungkin sebesar 5000 rupiah

kami bersantai sore duduk-duduk di tepian waduk :D
Sore saat itu cukup ramai, banyak pengunjung yang duduk-duduk di tepian, bersenda gurau bahkan banyak juga yang sedang mengabadikan momen sore di waduk itu. Langit sedang cerah-cerahnya Merapi-Merbabu sedang terlihat tanpa tertutup kabut maupun awan sejak pagi hari. Setelah menemukan tempat yang cukup sepi dan oke buat foto-foto kamipun menghentikan kendaraan dan mulai menepi di tepian waduk sambil menunggu tibanya moment Senja.

matahari terhalang Gunung Merbabu, membuat fenomena ROL terjadi
Matahari turun perlahan-lahan, ternyata matahari mulai turun di balik gunung Merbabu. Turunnya matahari di balik Gunung tersebut menciptakan Fenomena Ray Of the Light atau biasa disebut ROL di dunia fotografi. Biasanya ROL ini terjadi karena sinar matahari terhalang benda yang cukup besar, biasa juga terjadi saat matahari tertutup awan. Setelah matahari sepenuhnya tertutup oleh Gunung Merbabu, Rol tersebut hilang dan warna langit biru mulai memudar, mulai muncul warna jingga perlahan-lahan. Dan saat itu kami mendadak sibuk berfoto-foto mengabadikan saat dimana langit berwarna agak merah. Foto narsis siluet senja di Cengklik menjadi gaya foto terfavorit :D.

Matahari yang memaksakan sinarnya berusaha untuk menerangi kita :')
Adzan Magrib berkumandang, Senja pun mencapai puncaknya. Di penghujung senja, langit menampakan suatu fenomena menakjubkan yaitu Ray Of the Light lagi dan kali ini ROL tersebut dihiasai warna senja yang menakjubkan, Subhanallah. Pancaran sinar merah keluar dari balik Gunung Merbabu, seakan matahari masih ingin mempertahankan sinarnya menyinari bumi kami perpijak. Namun apa daya, dia masih punya tugas dari Sang Pencipta untuk menyinari bumi bagian lainnya menghapus gelap dan dinginnya malam.

Sampai ketemu kembali besok, matahari :)


sinar yang mulai meredup, akhir dari sebuah senja



nb: Foto Sunrise di Cengklik bisa klik link ini >> Sunrise di Waduk Cengklik
Tuesday, July 14, 2015

Bubur Pecel Samier, Bubur Unik Dari Bandungan, Jawa Tengah

Bubur Pecel Samier, Kuliner Jateng
Melawan hawa pagi pegunungan, menyantap suatu yang hangat dan sedap untuk sarapan tentunya adalah suatu yang pas. Bubur salah satunya, makanan yang sudah menyebar dibelahan mana pun di Indonesia dengan ciri khas masing-masing di setiap daerahnya. Bandungan, salah satu daerah di Provinsi Jawa Tengah yang memiliki Kuliner Bubur yang khas, masyarakat lokal menyebutnya yaitu Bubur Pecel Samier.

pembelinya sudah bermuka lapar :))
Saya berkunjung di Bandungan dalam rangka Kopdar sekaligus menjalin keakraban sesama anggota Komunitas Backpacker Joglosemar. Paginya beberapa dari kami pergi ke Pasar Bandungan berencana membeli bahan-bahan untuk membuat sarapan. Suasana pasar bandungan seperti biasa ramai, terlebih lagi hari minggu. Diantara deretan sayur mayur, terdapat satu penjaja makanan, membawa semacam opak bulat besar, dan akhirnya mengetahui kalau itu adalah penjual Bubur. Buburnya cukup unik, karena disajikan bukan di atas piring atau mangkuk, melainkan di atas opak besar. Orang lokal sana menyebut opak tersebut dengan nama Samier. Buburnya pun tidak berbumbu kuning seperti pada umumnya tapi berbumbu kacang khas pecel lengkap dengan sayu kangkungnya. Harga satu porsi bubur samier murah, kita hanya perlu mengeluarkan isi dompet sebanyak Rp. 3.000 saja. Namun lain halnya jika kalian menambahkan laut pada buburnya, seperti menambahkan gorengan, sate, dan lauk-lauk lainnya yang tersedia.


Rasanya cukup unik, rasa gurih bubur tercampur dalam sebuah bumbu pecel lengkap dengan sayur mayurnya. Wadah makan yang terbuat dari Samier (Opak) yang menjadikannya makanan ini jadi lebih spesial. Walau disediakan sendok plastic terkadang saya sendiri lebih tertarik “mecuil” sedikit demi sedikit opak samiernya dan dijadikan sebuah sendok. Pertemuan tektur lembut dan kasar, rasa gurih dari bubur dan bumbu pecelnya sudah pasti membuat kalian selalu ingin melahapnya.

Jika ingin berkunjung ke Bandungan terdekat bisa dari di Semarang, Solo atau pun Jogja. Patokan jika dari arah Solo ataupun Jogja yaitu Rawa Pening, Ambarawa. Dari Rawa Pening kita hanya tinggal mengikuti jalan ke atas menuju arah Bandungan. Jika dari kota Semarang kita tinggal mengarahkan kendaraan ke Arah Unggaran lalu dari Ungaran kea rah Bandungan. Transport dari kota Semarang via bis bisa naik BUS MINAS jurusan Semarang-Bandungan-Sumowono dari terminal Terboyo.


Selamat mencoba bubur unik dari Bandungan ini, nikmatilah juga pemandangan indah di sekitar pasar Bandungan :)

pemandangan dari atas pasar 


Thursday, May 21, 2015

Gunung Kukusan : Menikmati dan Meneropong 8 Gunung Di Jawa Tengah

View dari Puncak Kenteng
Sejenak teringat kisah yang kamu ceritakan tentang bangga, tentang kemegahan puncak-puncak yang pernah km kunjungi, Puncak Merapi, Merbabu, Telomoyo, Andong, Ungaran, Sumbing, Sindoro dan Prau. Disini di suatu bukit, kami melihatny ke-8 puncak sekaligus dan setelahnya akhirnya mulai paham, kenapa kamu selalu mengajak kami untuk muncak.

Kunjungan pertengahan bulan Mei ke suatu Gunung di Pegunungan Menoreh wilayah Magelang namun berbatasan persis dengan wilayah Kulonprogo. Gunung tersebut terkenal dengan nama Gunung Kukusan. Gunung tersebut  terletak di Dusun Wonokerto, Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman, Magelang, Jawa Tengah berbatasan langsung dengan Perkebunan Teh di Desa Nglinggo, Kulonprogo. Gunung Kukusan sebenarnya mempunyai dua puncak dimana yang salah satu puncaknya lebih tinggi bernama Puncak Kendeng dan Puncak Dempok , merupakan puncak lainnya yang lebih rendah. Puncak ini perlahan-lahan mulai diperbincangkan terutama oleh wisatawan lokal Jogja karena mempunyai pemandangan yang indah, apalagi letaknya berbatasan langsung dengan Perkebunan Teh satu-satunya di Jogja.

Ada dua rute menuju Gunung Kukusan, yaitu lewat Jogja dan lewat Magelang. Untuk lewat Magelang saya kurang tau detailnya karena belum mencobanya, namun menurut penuturan pengelola wisata Rute untuk menuju Gunung Kukusan dari Magelang kita bisa melewati Magelang – Borobudur – Kecamatan Salaman – setelah sampai Kecamatan Salaman tanya saja warga sekitar jalan menuju Dusun Wonokerto, Desa Ngargoretno.

pertigaan Pasar Plono
Untuk Rute ke Gunung Kukusan dari Jogja, dimulai dari Tugu Jogja – Ambil jalan ke arah barat menuju Perempatan Bangjo (lampu lalu lintas) Ringroad Barat Demak Ijo- Bangjo Ring Road Demak Ijo ambil ke barat -  Jalan Godean –Pasar Godean- Jembatan Sungai Progo – Perempatan Bangjo Kenteng (perempatan terlihat pegunungan menoreh) ambil Kanan – Perempatan Dekso (perempatan yang ada Tugu tengah jalan) ambil kiri – Ikuti jalan ke arah Samigaluh melewati sungai Tinalah di kiri jalan, kondisi jalan juga mulai berkelok naik dan turun – Pertigaan Pasar Totogan ambil ke kiri/lurus (jika ambil ke kanan itu menuju puncak Suroloyo) – SMP N 2 Samigaluh – Mentok Pertigaan Pasar Plono ambil ke Kanan. Setelah melewati Pasar Plono akan ada petunjuk jalan menuju kebun teh dan desa wisata Nglinggo ikuti saja petunjuk jalan tersebut sampai menemukan Loket tiket masuk dan area parkit wisata ke Kebun Teh. Dari Kebun Teh Nglinggo ke Gunung Kukusan kita harus berjalan kaki melewati jalan setapak tanah menerobos hutan selama 10-15 menit akan sampai di gerbang masuk untuk menaiki Gunung Kukusan.

Gunung Kukusan dengan Puncak Dempok (kiri) dan Puncak Kendeng (kanan)
kiri ke puncak Dempok, Kanan ke Puncak Kendeng
Memasuki kawasan Gunung Kukusan kita hanya perlu merogoh uang sebesar Rp.2000 saja. Terdapat dua buah jalan setapak yang keduanya menuju dua puncak yang ada di Gunung Kukusan. Jalan setapak kekiri menuju Puncak Dempok dan jalan setapak ke kanan menuju Puncak Kendeng, yang merupakan puncak paling tinggi. Penamaan Puncak Kendeng berasal dari nama seorang bayi yang dikuburkan di atas puncak. Bayi yang berasal dari Rahim kerabat Pangeran Diponegoro, dan nama bayinya adalah Pangeran Kendeng. Meninggal saat bayi ketika melintasi daerah sekitar Gunung Kukusan. Sampai saat ini Batu Besar di atas Puncak Kendeng dipercaya merupakan batu Nisan dari Pangeran Kendeng. Jika dari Puncak Kendeng ingin ke Puncak Dempok, anda bisa menguji andrenalin anda dengan menuruni langsung dengan jalan setapak kecil, berpasir, kanan kiri sebuah jurang. Jika ragu kita bisa kembali ke percabangan jalan setapak dibawah lalu ke jalan setapak satunya lagi.

Menuruni Puncak Kendeng Langsung, Hati-hati ya (foto by Vina )
Kedua Puncak ini mempunyai pemandangan yang luar biasa indahnya, bisa melihat indahnya pegunungan lembah dan sekitarnya bahkan jika beruntung dan cuaca sedang cerah-cerahnya kita bisa melihat 8 Gunung yang terkenal di Jawa Tengah yaitu Merapi, Merbabu, Andong, Telomoyo, Ungaran, Sumbing, Sindoro dan Prau/Prahu. Sayapun jadi membayangkan jika melihat 8 puncak-puncak gunung terkenal di Jawa Tengah saat suasana senja pasti sangat indah, dan menarik untuk dicoba lain waktu. Jika di tanya tempat ternyaman untuk menikmati Pemandangan tersebut adalah Puncak Dempok. Puncak Dempok terdapat 4 buah kursi bambu panjang, sekedar untuk bersantai memakan bekal yang kita bawa, atau sekedar duduk bersantai menikmati pemandangan yang terpampang Nyata didepan mata. Selain itu area pijakan datar di Puncak Dempok lebih banyak dari pada Puncak Kendeng yang hanya bisa di isi sekitar 5 orang saja.


View di Puncak Dempok
Mengunjungi Gunung Kukusan lebih baik pada pagi hari, selaion cuaca masih dingin dan sejuk, kemungkinan untuk dapat melihat 6 Gunung di Jawa Tengah makin besar. Tetaplah menjaga kesopanan dan menjaga kelakuan terutama tidak melakukan vandalisme (mencorat-coret batu, fasilitas dan lain-innya), menjaga kebersihan Gunung Kukusan dan menjaga diri tetap selamat sampai rumah kembali

daripada corat-coret medingan Selfie :D


Catatan kecil :
Beberapa hal yang harus di perhatikan yaitu kondisi mobil dan pengendaranya karena jalan dari pertigaan pasar Plono menuju Kebun Teh, Nglinggo menanjak cukup terjal dan panjang dengan beberapa spot sisinya merupakan jurang. Kendaraan dan pengemudi harus fit terutama kendaraan matik harus di cek kondisi Remnya juga. Jalan juga agak sempit, jika mobil saling berpapasan, mobil-mobil harus berjalan pelan-pelan bahkan salah satu mobil harus mengalah berhenti agak ke tepi.
Wednesday, April 29, 2015

Es Kapal Tempo Doeloe, Solo - Pelapas Dahaga Dari Masa Lalu


Es Kapal, salah satu Jajanan es unik yang berada di Kota Solo. Keberadaannya cukup diminati warga kota Solo sebagai pelepas dahaga apalagi saat Kota Solo sedang panas-panasnya. Lokasinya pun cukup menarik, berada di kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Jalan Slamat Riyadi tepatnya di Depan Taman Sriwidari.

Es Kapal ini merupakan kuliner tempo dulu, sekitar era 80-90an yang terbuat dari santan yang dicampur oleh serutan es batu dengan tambahan sedikit garam lalu diputar-putar hingga menjadi Jajanan Es yang siap di santap.  Es Kapal yang dijual disini mempunyai 3 pilihan, Es Kapal Cokelat, Es Kapal Pandan atau Es Kapal Frambose dan dijual dengan harga 3000 saja, cukup murah kan. Penyajianya sederhana, es dituang kedalam gelas kaca, dan diberi sehelai roti diatasnya.

3 Rasa, yaitu Pandan, Frambose, dan Coklat
Melihat cara penyajiannya, saya berpikir kalau mungkin saja asal usul penamaan Es Kapal ini dari penyajiannya. Sehelai roti yang dicelupkan di Segelas es  ibarat layar dari sebuah kapal layar atau bisa juga ibarat moncong kapal. Namun ternyata bukan karena cara penyajiannya, penamaan Es Kapal ini karena dahulu penjual-penjual Es Kapal ini menggunakan gerobak dengan bentuk Kapal  atau lebih tepatnya gerobak depannya berbentuk moncong kapal.
Roti yang di celup ibarat moncong kapal
Es Kapal sudah siap di santap, setelah ritual foto. Saya pun mulai menikmati seteguk demi seteguk segarnya Es Kapal. Suasana rimbun kawasan Ruang Terbuka Hijau Jalan Slamet Riyadi makin membuat suasana makin adem. Jika kalian sedang mampir di Kota Solo, mampir dan cobalah es Kapal Tempo Dulu ini. Es Kapal di depan Taman Sriwidari ini mulai buka Jam 09.00 pagi.


Selamat Mencoba Jajanan Citarasa Tempo Dulu :)
Monday, March 17, 2014

Jelajah Jalur Perjalanan Magelang - Boyolali Via Selo


Sekedar mengisi waktu senggang, saya bersama teman-teman menyelusuri jalur alternatif Magelang – Boyolali via Selo. Biasanya jika tidak melewati jika tidak melewati jalur ini menuju Boyolali kita harus melewati Yogyakarta, Klaten baru sampai di daerah Boyolali. Namanya melewati daerah perkotaan dan jalur utama lintas kota, sudah pasti kepadatan di jalan tersebut cukup tinggi dan melewati pemandangan perkotaan kadang membuat jenuh. Berbeda dengan jalur utama Magelang-Boyolali yang relatif datar dan lurus, jika melewati jalur alternatif Magelang – Boyolali via Selo akan sering menjumpai jalanan menanjak, berkelok, turunan karena di jalur tersebut berada di lereng Gunung Merbabu dan Merapi. Tidak aneh kalau disini banyak sekali terdapat objek wisata maupun pemandangan indah yang bisa kita nikmati.

Menuju Jalur alternative Magelang-Boyolali via Selo kita bisa melewati jalan kecil menuju Ketep Pass dari kota Muntilan atau bisa juga dari Pertigaan Grabag. Mulai disini beberapa titik jalan banyak yang berlubang bisa dibilang karena banyaknya truk yang memuat pasir melewati jalan ini. Setelah melewati pertigaan kantor Kecamatan Sawangan jalan mulai menanjak sampai pertigaan Ketep Pass. Ketep Pass merupakan gardu pandang untuk memantau Gunung Merapi dan Merbabu serta tempat menikmati pemandangan indahnya. Jika ingin mengunjungi Ketep Pass bisa ambil arah kiri dan jika ingin melanjutkan perjalanan ke Boyolali ambil Kanan.
Ketep Pass, Gardu Pandang melihat Merapi-Merbabu
Setelah mengambill arah kanan melewati Pertigaan Ketep Pass, kita akan melewati jalan berkelok-kelok , naik-turun dan sampai di Dusun Wonolelo, Desa Wonolelo. Di sini terdapat Air Terjun yang indah beraliran air yang deras dan mempunyai ketinggian sekitar 40 meter. Air Terjun Kedung Kayang namanya. Anda perlu berjalan kaki menuruni sekitar 15-20 menit untuk sampai di bawah air terjun ini atau bisa menikmati dari atas saja jika malas turun ke bawah.

Melanjutkan perjalanan menuju arah Boyolali, kondisi jalan masih naik-turun dan berkelok-kelok . Mulai dari sini kita dituntut hati akan melewati banyak perdesaan dan perladangan di sekitar lereng Merapi-Merbabu, sehingga tidak aneh banyak aktivitas warga di pinggir jalan. Selain itu rasanya makin lama gunung Merapi-Merbabu rasanya makin mendekat seakan tinggal beberapa kali loncatan saja kita bisa sampai puncaknya hehe.  Di pertengahan jalan menuju Selo akan ada beberapa Jembatan Gantung sebagai jalur penghubung antar desa. Jembatan Windu dan Jembatan Sepi, dua jembatan yang saya sempat kunjungi saat menyelusuri kawasan ini. Namun dari segi pemandangan Jembatan Gantung Sepi lebih menarik karena bisa langsung memandangi Gunung Merapi-Merbabu, sedangkan dari Jembatan Gantung Windu sedikit terhalang pepohonan.
Jembatan Gantung Sepi
Makin ke atas kita akan capai di daerah Selo. Daerah yang menjadi gerbang untuk para Pendaki untuk menaklukan Puncak Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu. Selain itu terdapat pula gardu pandang New Selo yang bisa anda kunjungi jika ingin melihat pemandangan sekitar indah di Gunung Merapi-Merbabu. Daerah Selo ini merupakan titik teratas dari perjalanan kita, jika ingin menuju Boyolali kita akan mulai melewati jalan yang menurun berkelok-kelok sampai ke kota Boyolali.

Pemandangan desa di sekitar Selo, gunung Merapi tertutup awan
Sebagai catatan, karena daerah jalur alternatif ini adalah pegunungan tidak aneh jika setiba-tiba kabut tebal menutupi pandangan kita, sering terjadi hujan, dan yang pasti jalan yang berkelok-kelok, menanjak dan menurun menuntut kita untuk tetap waspada dan konsentrasi dalam berkendara. Jika melihat pemandangan bagus alangkah baiknya jika kita berhenti terlebih dahulu untuk menikmatinya daripada menikmatinya sambil berkendara.

Saturday, April 27, 2013

Jalan-Jalan ke Curug Grenjengan Kembar, Magelang


Memang karena letaknya di kelilingin banyak gunung, Magelang memiliki banyak sekali Curug (air terjun), salah satunya yang saya kunjungi kali ini yaitu Curug Grenjengan Kembar. Diberi nama demikian karena dalam lokasi wisata ini terdapat dua buah curug yang bersebelahan. Sumber curug ini berasal dari anak sungai Cebong yang mata airnya dari lereng gunung Merbabu. untuk kedua kalinya saya mengunjungi curug ini setelah pertama kalinya tahun lalu di musim kemarau. Tidak terlalu puas karena debit airnya lebih sedikit dibanding kunjungan kali ini.

Curug Grenjengan Kembar terletak di Dusun Citran, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Magelang, Jawa Tengah. Kali ini saya bersama komunitas “Indonesia Landscaper (ILS)” berangkat dari kota Jogja mengikuti  Jalan Magelang, sesampainya di lampu lalu lintas mal Artos (Armada) ambil jalan ke arah Kopeng melewati terminal Bukit Tidar. Lampu lalu lintas setelah terminal ambil kanan ke arah jalan raya Kopeng. Ikuti jalan tersebut sampai menemukan pertigaan yang ada papan petunjuk makam. Ambil kiri (jalan menurun) lalu ikuti jalan tersebut sampai anda menemukan papan petunjuk Curug Grenjengan Kembar. Hati-hati ketika mulai memasuki jalan desa karena selain jalannya hanya terdiri dari batu juga banyak anak kecil bermain di jalan tersebut.

dinding 
Disini kita tidak di tarik biaya masuk, hanya biaya parkir kendaraan sebesar 2000 rupiah dan tetap menjaga kebersihan dan keindahan Curug Grenjengan Kembar. Dari lokasi parkir, kami berjalan kaki sekitar 10 – 15 menit. Perjalanan menuju grenjengan kembar, kita akan melewati bukit yang terbelah, yang di dinding-dindingnya tertulis ukiran nama-nama orang yang 'saling mencintai" disini :p (sebut saja "dinding cinta"). Setelah melewati itu, kita mulai memasuki hutan yang dominan ditumbuhi oleh tanaman bambu yang berukuran besar, setelah melewati rimbunan bambu kita masih melewati hutan Pinus yang indah. hutan pinus ini merupakan hutan yang dimiliki oleh Perhutani. Di hutan pinus ini kita mulai bisa mendengar gemerincik suara air sungai, tanda curug Grenjengan Kembar sudah dekat. Rasa tak sabaran mempercepat langkah kaki kami.
Hutan Pinusnya
Sesampainya di lokasi, kami menyempatkan diri untuk mengalahkan rasa lapar dengan melahap sate ayam yang tadi dibeli di warung dekat lokasi parkir :D. Setelah itu baru coba mengambil beberapa foto sekalian bermain air. Air terjunnya cukup menarik, aliran air sungainya sangat deras apalagi ketika musim penghujan, Untuk memfoto air terjun ini kita harus mempersiapkan pelindung kamera dari embun air berterbangan tertiup angin, perlu disiapkan juga sebuah kain lap untuk mengelap kaca filter lensa yang terkena embun.

daripada corat-coret mending, numpuk2 batu bentuk tulisan ya :)

Foto Keluarga
Sesuai namanya, Air terjun Grenjengan Kembar mempunyai dua air terjun yang mempunyai khasnya tersendiri terutma pada air terjun yang letaknya di dekat dengan hutan pinus. Air terjun tersebut mempunyai keunikan yang berbeda dengan air terjun kembarannya ataupun air terjun lainnya. Saya menyebutnya Air Terjun "Tersenyum", disebut demikian karena pada air terjun ini terdapat batu yang membelah aliran air terjun ini menjadi dua bagian, di batu tersebut terukir seperti sebuah wajah yang seakan tersenyum melihat suasana keadaan air terjunnya masih tetap asri atau tersernyum menyambut kedatangan wisatawan yang tersenyum bergembira datang ke air terjun tersebut. Yah walaupun seperti sebuah kebetulan mungkin saja benar ada ya kalau air terjun ini memang benar-benar sedang tersenyum.
Air Terjun Tersenyum di Magelang